
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_32
Usia Marisa sudah mau dua bulan, sedikit terlambat untuk mengadakan syukuran kelahiran yang biasanya diadakan hari ketujuh, keempat belas, 21, dan paling akhir di hari keempat puluh. Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan? Sebagai ibu, aku juga ingin mengungkapkan rasa syukurku memiliki putri secantik Marisa. Juga, meminta doa untuk segala kebaikannya dari kerabat dan tetangga.
Selepas Maghrib, aku berbicara pada Bang Rafi perihal rencana Ibu.
"Bagus dong!" seru Bang Rafi.
"Bagus sih bagus, tapi Ning takut," keluhku.
Bang Rafi menyimpan ponsel yang sejak tadi di genggamnya, dia mengambil tempat duduk di sampingku.
"Takut kenapa?" tanya Bang Rafi sambil memainkan ujung rambutku yang setengah basah, wangi shampo menguar memberikan sensasi segar di penciuman.
"Kalau ada sedikit saja kesalahan, Ning yang pasti akan dicecar Ibu habis-habisan, belum lagi soal biayanya, Bang. Ning takut suatu hari Ibu akan mengungkit-ungkit dan menyalahkan kita." Aku menghela napas dengan mulut cemberut.
"Ya, Abang ngerti. Tapi, tak mungkin juga menolak keinginan Ibu, kan?" ucap Bang Rafi. Dia menarik ujung rambutku dan menciumnya. "Wangi ...." ujarnya.
Aku menarik kembali rambutku, "Ish! Abang mah nggak fokus!" Aku berdiri sambil menghentakkan kaki. Bang Rafi lagi kumat, susah kalau diajak ngobrol serius. Bukannya dapat solusi, malah membuat hati bertambah kesal.
"Kamu yang bikin Abang nggak fokus, udah cantik, wangi lagi," goda Bang Rafi sambil nyengir, memperlihatkan gigi geliginya yang besar-besar.
Aku pun tak bisa menahan senyum. Akhirnya memilih mengikuti ajakan Bang Rafi untuk masuk ke bawah selimut. Ngobrolnya nanti saja, kalau gerimis di luar sudah tak lagi terdengar. Momen begini memang terlalu berharga untuk dilewatkan.
****
Pukul tiga dini hari, aku kembali mengendap-endap hendak pergi ke kamar mandi. Percuma tadi sore keramas, sekarang malah harus keramas lagi, ngabis-ngabisin shampo!
Aku Memeluk handuk sambil berjinjit. Tangan memutar gagang pintu kamar dengan perlahan, takut Marisa bangun. "Bismillah ...." lirihku.
Rupanya, keberuntungan berpihak padaku malam ini, aku selamat hingga kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
"Bang ... Abang, bangun! Belum sholat isya." Aku mengguncang tubuh Bang Rafi.
"Boleh absen nggak? Sekali ini aja." Bang Rafi berbicara tanpa membuka mata.
"Nggak boleeehhh ...!" Tangan Bang Rafi aku tarik hingga dia terduduk, susah payah aku menahannya agar tidak kembali berbaring. Dia menyerah dan pergi ke kamar mandi.
"Fi, kamu ngelindur ya? Ko jalannya sambil merem?" Sayup-sayup kudengar suara Ibu, "Rasain, emang enak ketahuan! Hahaha ...."
Bang Rafi masuk kamar dengan cemberut, aku tersenyum puas.
"Mandi jam segini bikin rematik!" keluhnya.
"Kata siapa? Mandi lewat tengah malam justru bagus buat kesehatan, bikin awet muda!" jawabku, sedikit asal. Tapi, aku pernah dengar, yang jadi penyakit itu mandi selepas Maghrib, bukan dini hari seperti sekarang.
Bang Rafi masih menggigil saat menggulung sarung di perutnya. Aku memandanginya sambil mengucap syukur di dalam hati.
Mataku tak bisa lepas dari punggung yang melengkung di atas sajadah itu, melangitkan sejuta kebaikan pada lelaki yang kini memikul tanggung jawab atas diriku dan Marisa di atas pundaknya. Aku memang tak seberuntung perempuan yang memiliki imam dengan ilmu dan iman yang kuat, tapi aku bersyukur bisa melihat kebaikan-kebaikan yang ditunjukkan Bang Rafi dari hari ke hari, "Alhamdulillah ...."
****
"Alhamdulillah baik, Ning. Kamu sekeluarga gimana? Cucu Mamah udah bisa apa?" Suara Mamah terdengar hangat.
Aku pun menceritakan tentang Marisa dan segala hal yang ingin aku sampaikan pada Mamah, termasuk rencana syukuran kelahiran Marisa.
Mamah menyambut dengan antusias. Ia memberikan kabar tentang hasil panen yang menggembirakan. Sesuai harapan Ibu, Mamah menjanjikan untuk membawa beras yang banyak di acara syukuran nanti.
"Mau sekalian aqiqah?" tanya Mamah. Aku tidak segera menjawab, membutuhkan waktu beberapa menit untuk berpikir.
"Ning, ko ngelamun?"
"Emh ... nggak tahu, Mah. Soalnya semua harus ada persetujuan Ibu," keluhku.
Mamah menjelaskan tentang keutaman aqiqah. Hukumnya sunnah muakad, sunnah yang sangat dianjurkan. Aqiqah diibaratkan sebagai tebusan bagi anak kita yang tergadai. Dicontohkan nabi dengen menyembelih dua kambing untuk kelahiran bayi laki-laki dan satu kambing jika yang lahir adalah bayi perempuan.
__ADS_1
"Kamu kan punya Si Jalu, Ning," cetus Ibu mengingatkanku pada si kaki empat yang dititipkan pada Paman Sobri. "Sepertinya Si Jalu sudah bisa dipakai aqiqah," imbuh Ibu.
Aku bagaikan menemukan jalan terang, semoga Ibu mau menerima usulku untuk menyelenggarakan syukuran Marisa sambil aqiqah.
Hari ini hari Minggu, aku memiliki banyak waktu untuk sedikit bersantai. Ponsel Bang Rafi aku pakai untuk menghubungi Mamah, Yayu, juga Kak Lisna, aku butuh berbicara dengan banyak orang untuk mendapatkan gambaran tentang acara yang akan kami buat.
Kak Lisna bersedia untuk datang. Walaupun Kakak iparku itu jutek dan ceplas-ceplos tapi pengalamannya sangat aku butuhkan saat ini. Aku hanya harus menyiapkan hati yang telinga yang lebih kuat dan tahan banting. Tak apalah, demi Marisa.
Ibu tetap berangkat ke kios tadi pagi. Aku meneleponnya juga untuk mengabari perihal aqiqah itu, Alhamdulillah, ia menyetujui usulku dengan caratan domba yang akan dipakai aku yang menyediakan. Untungnya Si Jalu sudah memenuhi syarat, kata Paman Sobri, yang juga aku hubungi via telepon, gigi Si Jalu sudah tanggal dua buah.
Gerimis yang dilanjutkan hujan deras tadi malam membuat tanah di depan rumah menjadi basah, matahari tersabut awan kelabu hingga sinar sang raja siang itu tidak seluruhnya sampai ke bumi.
Kak Lisna terlihat datang di ujung jalan, sambil memegang tangan Gio dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya membawa plastik besar berwarna hitam, enah apa isinya.
Aku menyambut mereka di teras rumah dengan senyum semanis mungkin. Kak Lisna berjalan cepat sambil menarik tangan Gio yang tampak enggan mengikuti.
"Ayo Gio!" pekik Kak Lisna.
Gio melepaskan tangannya dari cengkraman Kak Lisna lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tanah basah yang berlumpur.
"Ya ampuunnn Giooo ...!" Kak Lisna berteriak sambil menarik tangan Gio dan memaksanya berdiri, tapi tubuh gempal Gio tetap bergeming. Dia mulai menangis meraung-raung.
"Mau mainan yang tadiii!"
Aku terkesima menyaksikan pemandangan ajaib itu. Gio yang semakin kalap dengan berguling-guling di tanah basah, Kak Lisna yang mulai kehilangan kesabaran dan menarik paksa tangan anaknya. Tangan Kak Lisna terangkat hendak memukul Gio.
Aku berjalan cepat menghampiri keduanya. 'Kak," panggilku.
Tangan Kak Lisna urung mendarat di tubuh Gio.
"Kakak masuk saja dulu, ada Bang Rafi di dalam," usulku pada Kak Lisna.
"Ya udah, urusin tuh ponakan kamu!" cetus Kak Lisna.
__ADS_1
Aku mengangguk dengan hati menyesal.
Ibu kelinci melawan anak gajah, kira-kira menang siapa?