Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Hadiah


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part_34


Kak Lisna sudah pulang, tapi bayangan wajahnya saat bersitegang dengan Ibu tadi masih jelas tergambar di ingatanku.


Aku tak semahir kakak iparku itu dalam mengeluarkan emosi. Dia bisa lancar berbicara bahkan saat sedang bertengkar, sedangkan aku, suaraku akan bergetar dan tiba-tiba hilang bila sedang marah, sehingga lebih memilih diam atau menghindar daripada debat frontal seperti Ibu dan Kak Lisna tadi siang.


Untunglah ada Gio, si gajah kecil itu laksana pahlawan perdamaian, dengan gigi depannya yang menghitam dia datang dan memeluk Ibu yang sedang marah. "Oma ...." tuturnya manja.


Ibu yang sedang marah pun tak kuasa menolak sikap manis Gio hingga dia memilih menggendong cucu besarnya dan meninggalkan perdebatan.


Dua hari sebelum hari H acara aqiqahan Marisa, Kak Lisna datang lagi. Memastikan semua berjalan sesuai rencana.


"Ning, kamu itu bikin Kakak snewen." Belum juga duduk, Kak Lisna sudah mrepet bagai petasan hajatan.


Aku yang mengekor di belakangnya hanya menyimak tak mengerti. "Salah Ning apa?" lirihku.


"Orang lain sudah rajin video call, nah kamu, di sms saja nggak bisa," rutuk Kak Lisna sambil menghempaskan pantatnya di atas kursi.


"Maaf, Kak. Ning nggak punya HP." Aku masih setia berdiri di samping Kak Lisna. Sambil mengusap dahinya yang berpeluh, Kak Lisna membuka resleting tas yang di bawanya. Walaupun aku tak tahu harga dari tas warna kuning itu tapi, menurutku tas itu sangat bagus.


Sebuah kantong plastik kecil berwarna putih ia serahkan kepadaku.


"Nih," ucap Kak Lisna.


Aku segera meraih plastik itu dengan menyimpan tanya di dada.


Aku menutup mulut yang membulat demi melihat barang yang diberikan Kak Lisna.


"Itu baru, cuman kardusnya nggak Kakak bawa, nggak muat di tas," ucapnya jauh dari nada lembut. Tapi tetap saja terdengar merdu di telingaku.


Aku spontan memeluk Kak Lisna. "Terimaaa kasiiihhh ...."

__ADS_1


Badan Kak Lisna terasa kaku, tapi lama-lama mengendur dan tangannya terasa melingkar di punggungku. Aku tak kuasa menahan air mata, bukan karena hadiah mahal dari Kak Lisna tapi lebih dari itu, aku merasa memiliki seorang kakak.


Aku adalah anak pertama. Saat Yayu memamerkan banyak hadiah dari kakaknya menjelang hari raya, aku hanya memuji dan mendamba. Aku sempat protes pada Mamah kenapa melahirkanku lebih dulu, tapi Mamah hanya tersenyum sambil mengusap lembut rambutku. "Karena Ning istimewa, kelak kamulah yang akan menjadi kakak terbaik buat adikmu."


Kata-kata Mamah tidak mengubah keinginanku untuk memiliki perhatian dan perlindungan seorang kakak, dan hari ini harapan itu terasa nyata.


Aku mengurai pelukan dan mengusap jejak basah pada wajah. Kak Lisna segera berdiri dari tempatnya. "Awas kalau dijual, Kakak jewer kamu," ancam Kak Lisna.


"Nggak akan Kak. Janji." Aku mengangkat jari tengah dan telunjuk mengikuti gaya orang-orang barat saat mereka bersumpah.


"Hus, nggak boleh gitu." Kak Lisna menurunkan tanganku yang terangkat. "Bilang Insya Allah ...." imbuhnya.


"Insya Allah .... janji," tandasku, diiringi derai tawa kami berdua.


Aku dan Kak Lisna beranjak ke dapur, mengecek peralatan yang akan kami gunakan. Kali ini Kak Lisna datang sendiri. Gio sedang di rumah neneknya, Ibu Kak Lisna. Besok dia akan ke sini bersama Bang Rizal.


Untunglah Ibu adalah tipe perempuan yang suka belanja perabotan rumah tangga. Mulai dari piring beragam ukuran, mangkuk sayur, mangkuk besar, beraneka bentuk gelas dan cangkir semua ada. Belum lagi alat-alat masak. Dari yang konvensional hingga paling modern tersedia di ruang khusus yang dibuat di atas kamar mandi.


atap kamar mandi itu di dak dengan beton, memberikan ruang dengan tinggi sekitar satu meter hingga ke atap rumah asesungguhnya yang juga menggunakan beton. Ternyata di sanalah Ibu menyimpan banyak harta karun itu.


"Kakak dulu bantu bikin gambar rumah ini saat direnovasi. Rumah Ibu ini seharusnya dua lantai, tapi Ibu belum mau membangun lantai duanya karena terlalu luas untuk ditempati sendiri," jelas Kak Lisna.


"Kalau nanti Ning bikin rumah, Kak Lisna yang bikin desainnya ya?"


"Berani bayar berapa?" tanya Kak Lisna sambil mengangkat alis. Aku hanya nyengir, jangankan membayar jasa arsitektur, beli batu batanya saja, aku belum mampu.


"Kakak doakan kamu segera punya rumah, salah satu kenikmatan besar berumah tangga itu adalah tinggal di rumah sendiri."


"Amiinnn ...." Aku mengusapakan kedua telapak tangan ke wajah.


Malam itu Kak Lisna menginap. Selain mempersiapkan acara, dia juga mengajariku menggunakan smart phone canggih yang dibelikannya.


Berbagai aplikasi dia unduh termasuk aplikasi medsos.

__ADS_1


"Kamu itu masih muda, harus gaul. Media sosial bisa menberikan banyak peluang dan pengalaman," jelas Kak Lisna.


Aku adalah tipe wanita primitif yang tidak memiliki akun di medsos. Saat terpaksa menjual HP dulu, sama sekali tidak merasa berat karena memang jarang menggunakannya.


"Tapi inget, di dunia maya itu tidak semua hal yang terlihat adalah nyata. Jadi kamu musti cerdas. Kakak percaya kamu bukan ABG labil, kamu bisa bijaksana menggunakan ponsel ini," pungkas Kak Lisna.


Aku hanya mengangguk sambil mengamati jari-jari Kak Lisna yang lincah menari di atas layar.


Melihat kedekatan kami, Ibu tidak banyak berkomentar. Mungkin dia merasa kalah jumlah, dan memilih tidak membuat masalah.


Hari pun berganti. Sabtu pagi, Mamah beserta rombongan datang dengan mobil bak terbuka. Bang Rafi sigap menurunkan Si Jalu dan mengikatnya di halaman belakang. Domba berbulu putih dengan corak hitam di sekitar leher itu sungguh gagah. tubuhnya montok penuh daging dengan tanduk panjang berwarna hitam pekat.


Satu karung beras, beraneka sayuran pun dibawa Mamah dari kampung. Sayang Wening adikku tidak bisa ikut, dia bertugas menjaga rumaj juga sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir semester.


Rumah bertambah ramai saat Gio dan Papanya tiba. Gio sangat riang saat diajak Bang Rafi melihat Si Jalu. Semua tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ibu mengundang juru masak sebanyak tiga orang, untuk memastikan makanan yang kami sajikan dapat memanjakan lidah setiap orang yang menikmatinya.


"Aduh ... mantu Ibu sudah datang." Suara Ibu terdengar nyaring di halaman depan.


Aku menggendong Marisa melihat siapa yang datang dengan penyambutan seluar biasa itu.


Sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir gagah. Sepasang insan nan serasi keluar dari mobil saling bergandengan. Lelaki itu adalah yang fotonya terpajang besar di ruang tamu, Bang Risman. Sedangkan si perempuan, pasti Sintia istri Bang Risman.


Nyaliku menciut melihat tubuh tinggi semampai itu. Rambut pirang bergelombang dengan riasan wajah sederhana tapi sungguh mempesona.


"Hey," panggil Sintia.


Aku menunjuk diriku sendiri.


"Ya, kamu," tegas Sintia sambil mengarahkan telunjukknya kepadaku.


Aku berjalan ke arah perempuan modis yang sedang memusatkan perhatiannya kepadaku.


"Bawa ini!" titahnya.

__ADS_1


'Aduh,' aku membatin.


__ADS_2