Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Dilema


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part_13


Hari-hari di rumah Mamah membuatku serasa menyambung nyawa yang hampir lepas. Setiap hari ada-ada saja tingkah absurd adikku Wening yang mengundang tawa, anak itu memang pecicilan tapi selalu perhatian.


Mamah dan Bapak juga sangat tulus. Mau menampung anak sulungnya yang seharuanya tak lagi menjadi beban keluarga. Setiap hari Mamah masak banyak walaupun dengan lauk seadanya, tapi terasa begitu nikmat di lidah.


Bapak selalu sumringah saat aku dan Marisa menyambutnya pulang dari sawah. Itu sedikit mengobati rasa bersalahku padanya, karena telah gagal menjadi kebanggaan.


Berat badanku beranjak naik, tulang-tulang sedikit tersamarkan karena ada lagi lemak di bawah kulitku. Satu hal yang mengganjal di pikiranku yaitu tentang Bang Rafi. Hampir seminggu aku di rumah ini dan belum sekalipun Bang Rafi memberi kabar.


Sejak hari itu aku memutuskan berhenti menghubungi nomor Bang Rafi, takut sakit hati. Biarlah Bang Rafi yang memutuskan semuanya, aku akan menunggu.


"Mah," ucapku. Mensejajarkan diri dengan Mamah yang tengah duduk menghadap tungku.


"Ada apa?" Mamah masih sibuk menyusun kayu bakar di tungku.


"Kalau Bang Rafi nggak datang-datang, gimana?" Akhirnya kukeluarkan juga unek-unek di hatiku.


Mamah membalikan badan menghadapku. "Ning, orang tua itu tempat kamu pulang. Setelah menikah pun kamu tidak berhenti jadi anak Mamah dan Bapak. Kewajiban kami untuk menjamin kebahagiaan dan keselamatan kamu. Jika Rafi datang, Alhamdulillah. Kalaupun tidak, kamu masih punya kami, keluargamu. Kamu tak akan pernah sendiri," tutur Mamah.

__ADS_1


Aku tak kuasa menahan haru. Kupegang kedua tangan Mamah, kuciumi tangan yang kasar dan penuh debu itu. Mamah mengusap bahuku, lalu kami sama-sama memperhatikan api yang mulai menyala. Larut dalam pikiran masing-masing. Kami melanjutkan aktivitas memasak hari itu dengan lebih banyak diam.


Mamah menjerang air di tungku, sedangkan aku membuat sayur bening di kompor yang terletak di atas meja kecil berjajar dengan tungku kayu bakar. Di sini, Mamah lebih senang memasak dengan kayu bakar. Selain karena kayu yang melimpah, bisa diambil cuma-cuma, juga karena rasa khas makanan yang dimasak dengan


"Kak, mimpi apa semalam?" tanya Wening yang baru masuk dengan Marisa di gendongannya.


"Nggak mimpi apa-apa," jawabku sambil menggeser tubuhnya yang menghalangi rak piring.


"Kirain mimpi ketemu pangeran, tuh pangerannya datang," cetus Wening.


Aku menaruh kembali piring yang telah kuambil, mengusap-usap wajah yang berminyak karena panasnya udara di dapur dengan hati berdebar. Segera kupacu langkah ke luar rumah. Bang Rafi ... dia datang!


Tak bisa kutahan air mata yang terus menganak sungai di pipiku. Aku menyambutnya dengan tangis, sebagai ungkapan seluruh rasa yang tak lagi dapat diucapkan dengan kata-kata. Aku terlalu takut untuk sekedar berharap dia datang, tapi hari ini, lelaki yang kurindui itu telah ada di depan mata.


"Abang kira, kamu akan menyambut Abang sambil marah-marah, karena baru bisa datang hari ini?" tutur Bang Rafi sambil mengusap pucuk kepalaku.


"Maunya sih gitu, tapi takut Abang pulang lagi," selorohku. Aku menggandeng tangannya mengajak masuk ke rumah.


Bang Rafi menyalami Mamah, kemudian meraih Marisa dari gendongan Wening. Dia menatap lekat Marisa, membelai dan menciuminya. "Anak gadis aya tambah cantik," ucap Bang Rafi.


Sambil melepas rindu, Bang Rafi mengatakan kalau ponselnya dipegang Ibu. Dia juga tak pernah membaca pesan yang kutinggalkan. "Abang tahu kamu dijemput Mamah dari tetangga, karena Ibu sama sekali tak mau memberi penjelasan," ujar Bang Rafi.

__ADS_1


"Maaf kami nggak nunggu kamu pulang Fi, hari itu Ning pingsan, istrimu sakit karena kelelahan. Mamah dan Bapak hanya berpikir untuk menyelamatkan Ning secepatnya, itu saja." Mamah yang duduk bersama aku dan Bang Rafi turut memberi penjelasan.


Bang Rafi tampak menghela napas panjang. "Rafi nggak tahu kalau keadaan Ning separah itu, Mah. Rafi kira Ning hanya lelah karena baru punya bayi."


Obrolan kami semakin panjang. Mamah mengeluarkan semua rasa kecewanya pada Bang Rafi, menyalahkan Bang Rafi yang tidak peka dan lalai sebagai suami. Bang Rafi hanya bisa tertunduk dalam.


"Lihat, di sini Ning bisa punya daging lagi. Tak lagi seperti mayat hidup yang tinggal tulang berbalut kulit," tandas Mamah.


"Ya, terima kasih karena Mamah sudah menjaga istri dan anak Rafi. Rafi sangat rindu pada mereka tapi baru bisa ke sini karena nunggu libur."


Semua penjelasan Bang Rafi dapat aku terima, aku mengerti kondisi Bang Rafi. Saat kami masih mengobrol, Bapak pulang dari sawah dengan pakaian penuh lumpur dan cangkul tang disandangnya di atas bahu.


Bapak melihat sekilas pada Bang Rafi, lalu berlalu begitu saja melewati kami, tanpa menyapa. Mungkin dia masih marah pada Bang Rafi.


Aku menepuk pundak Bang Rafi, menyemangatinya dengan tatapan mata. Bang Rafi tersenyum, senyum yang membuatku selalu terpesona, dari dulu hingga saat ini.


Kami sekeluarga bertemu kembali saat berkumpul untuk makan siang. Wajah Bapak sudah lebih bersahabat, mungkin Mamah telah menjelaskan semuanya.


Selesai makan dan diselingi obrolan-obrolan ringan, Bang Rafi angkat bicara. "Rafi mohon izin untuk mengajak Ning pulang, Pak, Mah."


Aku kaget, tak menyangka Bang Rafi akan langsung mengajakku pulang ke rumah Ibu. Aku menatap Bapak. Rahangnya tampak mengeras, raut muka yang tadi sempat bersahabat kini kembali muram. Tampak sekali kalau dia tak setuju dengan ajakan Bang Rafi.

__ADS_1


Mana yang harus kupilih, Bang Rafi atau Mamah dan Bapakku?


__ADS_2