Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Lima Puluh Tahun Salah Paham


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part_38


"Si Ning itu, biarpun miskin tapi dia sabar dan patuh pada suami," ucap Ibu.


Hadeuuh ... muji ko nanggung banget! Bukan Ibu namanya kalau bisa memuji dengan sepenuh hati.


"Man, Risman! Kalau kamu masih suka jelalatan, Ibu bakal nikahin kamu sama Si Ohah!"


"Apa sih, Ibu ...," Bang Risman merengut. Aku heran melihat ekspresi Bang Risman yang tiba-tiba pucat dan tampak ketakutan.


"Si Ohah itu siapa, Bu? tanyaku, tak kuat menahan rasa penasaran.


"Orang gila yang suka ngejar-ngejar Risman tiap pulang sekolah dulu, sambil bilang, I love you my darling ...," tutur Ibu.


Sontak kami semua tertawa, kecuali Bang Risman, tentunya.


"Sin, Risman itu tanggung jawab Ibu. Kamu jangan merasa sendirian, Ibu dipihak kamu. Kalau dia macem-macem lagi, bilang sama Ibu!" Ibu merengkuh bahu Sintia dan Sintia pun bersandar manja. 'Ih, lebay!' batinku.


Sintia memang menantu istimewa, dia paling dekat dengan Ibu, karena kata Bang Rafi, Sintia yang pejabat bank telah banyak membantu Ibu dalam mengembangkan usaha. Sintia juga sering memberikan hadiah mewah pada Ibu, yang tentunya tak bisa aku berikan.


Sintia sudah tidak sehisteris tadi, Bang Risman masih dengan tampang teraniaya, dia merasa terdzolimi karena hampir semua orang lebih membela Sintia.


"Aku janji tak akan macem-macem lagi kalau kamu Mih, janji juga sama aku."


"Apa?" Sintia menjawab dengan sengit.


"Kalau Papih mau berangkat kerja atau pulang, kamu harus cium tangan! jangan cuek aja kaya bebek."


Wajah Sintia bersemu merah. Mungkin dia malu sekaligus baru menyadari kesalahannya selama ini yang membuat Bang Risman mencari perempuan lain. Perempuan yang bisa membuatnya merasa dihargai sebagai seorang laki-laki.


Ternyata sesederhana itu permintaan Bang Risman. Aku dan Bang Rafi saling pandang dan melempar senyum.

__ADS_1


Itulah pentingnya komunikasi dalam rumah tangga. Aku pernah membaca sebuah kisah yang berjudul lima puluh tahun salah paham.


Tentang suami istri yang selalu merayakan ulang tahun pernikahannya. Setiap tahun si istri menghidangkan ikan favorit keluarga mereka dan memberikan bagian ekor pada sang suami. Sedangkan si suami memberikan bagian kepala pada istrinya.


Saat ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima puluh, si istri menangis kala suami memberikannya kepala ikan. "Tahukah kamu, aku tidak suka makan kepala ikan," ucap si istri dengan terisak.


Si suami kaget bukan kepalang. "Aku sangat menyukai kepala ikan, kepala ikan menggambarkan kepemimpinan. Tapi, karena aku menyangka kamu sangat menyukainya, aku memberikan bagian yang paling aku sukai itu kepadamu," lirih sang suami.


Si istri pun tak kalah kaget. "Aku pun demikian suamiku. Aku sangat menyukai bagian ekor ikan tapi karena mengira kamu sangat menyukainya, aku selalu memberikannya kepadamu."


Keduanya pun saling tertawa, menertawakan kesalah pahaman mereka selama lima puluh tahun. Dan di tahun itu, untuk pertama kalinya mereka makan sesuai dengan apa yang mereka sukai.


Mungkin begitu juga yang terjadi pada keluarga Bang Risman dan Sintia. Hal-hal sederhana yang tak terungkap justru memupuk kekesalan yang mendalam hingga berujung mencari kesenangan masing-masing di luaran hingga saling menyakiti.


Aku beranjak dari perundingan itu dengan alasan Marisa, tapi sesungguhnya merasa tidak lagi perlu mendengarkan masalah keluarga mereka yang kini telah menemukan titik terang. Semoga setelah ini keluarga mereka lebih harmonis dan bahagia.


Aku kadi kangen Mamah. Mamah selalu bilang, "Jika tak ada tempat di dunia ini yang membuatmu nyaman, pulanglah. Seberat apapun hidupmu, kamu selalu punya tempat untuk kembali."


Seusia Bang Risman dan Sintia pun ternyata butuh orang tua, butuh keluarga untuk menyelesaikan masalah keluarganya yang begitu sederhana. Hanya butuh saling bicara dengan hati.


Saat langit berwarna jingga, Bang Risman dan Sintia pamit pulang. Mereka akan kembali pada rutinitas mereka. Kali ini mereka berjalan dengan lebih mesra, keduanya saling bergandeng tangan dan melempar pandangan mesra. Tulus, tanpa pencitraan.


Rumah pun kembali sepi. Sejak Maghrib Ibu tidak keluar kamar. Mungkin dia terlalu lelah atau sedang ingin menyembunyikan diri. Aku menangkap kepedihan di matanya, Ibu mana yang ingin jauh dari anak-anaknya? Apalagi sekarang Ibu tak punya pasangan, tidak punya tempat untuk saling berbagi.


"Bu ... Makan malam dulu." Aku memanggil Ibu dari balik pintu. Berharap Ibu mau makan malam seperti saat ada Ratih. Tapi, Ibu tidak menjawab panggilanku.


Aku jadi ingat Ratih. Apa kabar dia sekarang?


Setelah semua orang tertidur aku memainkan ponsel pemberian Kak Lisna dan menyalin nomor-nomor penting dari HP Bang Rafi.


Satu akun media sosial telah dibuatkan Kak Lisna, aku mulai mengirim permintaan pertemanan pada orang-orang yang kukenal. Alangkah senangnya hatiku saat kutemukan kembali teman-teman sekolahku dulu. Kebanyakan dari teman SMA ku masih kuliah hanya beberapa orang saja yang telah menikah sepertiku.


Lain lagi dengan teman semasa SD, mereka yang dulu tidak melanjutkan sekolah malah sudah ada yang memiliki anak usia TK.

__ADS_1


Kesenangan di dunia maya membuat aku tidak tertarik untuk tidur, hingga Bang Rafi menarik tubuhku dan membenamkannya di pelukan. Aku menyerah, memilih kesenangan yang lebih nyata.


****


"Ini bawa ke dalam," pinta Ibu.


Tumben, hari itu Ibu membawa barang-barang yang baru ia beli ke rumah. Biasanya Ibu akan langsung membawanya ke kios.


"Kiosnya sedang dirapikan Susi. Dia Ibu suruh nyortir stok lama biar dipisahin. Kasihan kalau belum beres udah ditambah lagi barang baru," tutur Ibu seolah dapat membaca isi hatiku.


Berbagai model pakaian memenuhi hampir separuh ruangan. Ibu biasa membeli partai agar mendapatkan harga lebih murah. Tapi ada juga baju-bahu eksklusif dengan satu model satu barang, biasanya untuk baju-baju dengan harga diaras satu juta.


Aku melongo saat Ibu membuka sebuah baju. Gamis dengan model sederhana tapi terlihat sangat mewah.


"Ini yang biasa dipakai artis," ucap Ibu.


"Berapa itu, Bu?"


"Setara dengan gaji Rafi satu bulan."


Mataku semakin melebar. Jiwa misqueenku meronta-ronta. Lalu sebuah ide melintas di kepala.


"Bu, Ning boleh bantu masarin nggak?"


"Mau kamu jual di mana?"


"Online! Nanti Ning foto baju-bajunya terus Ning promosiin ke temen-temen. Kalau real pict biasanya pembeli lebih tertarik.


"Terserah deh, asal jangan ada yang rusak!" tandas Ibu. Aku semakin bersemangat, apalagi saat Ibu cerita kalau jualan baju itu untungnya besar, untuk pedagang besar seperti Ibu, saat jual eceran, untungnya bisa sampai seratus persen.


Baju itu bisa mahal karena proses distribusinya yang melewati banyak tangan. Jika kita bisa memangkas jalur itu kita bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah.


Mulai hari ini, aku mau belajar usaha.

__ADS_1


__ADS_2