
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_44
Ibu menekuri layar beberapa saat, pikirannya sedang tak di sini, tidak di tempat ini. Entah dimensi mana yang membuat Ibu tiba-tiba menyeringai, lalu berwajah muram.
"Bu?" Hati-hati aku menyapanya.
Ibu tampak gelagapan. Diberikannya kembali benda pipih itu ke tanganku. "Ya, itu ayahnya Rafi," jawab Ibu sambil menyerahkan Marisa ke pangkuanku dan berlalu ke kamar.
"Blokir saja!" perintah Ibu, tanpa menoleh.
Aku menarik napas panjang. Aku ada di pihak yang netral, tak punya sedikit pun masalah dengan ayah mertuaku itu, jadi aku memutuskan untuk tetap membiarkannya menjadi bagian dari friend list ku. Semoga Ibu tak akan tahu.
Hingga purnama berganti, tak ada lagi orang yang membahas tentang Pak Rahardian Husein. Aku yang terlalu takut bertanya, Ibu dan Bang Rafi pun sama sekali tak berminat mengungkit kisah lama tentang seseorang yang menjadi kenangan pahit masa lalu itu. Tapi, kakek Marisa masih aktif menanggapi setiap postinganku dan sesekali mengomentari foto-foto Marisa yang aku upload. Sebatas itu.
Hari yang dinanti pun tiba, Marisa menginjak usia enam bulan, mulai hari ini dia akan berkenalan dengan makanan berat pertamanya.
Sejak beberapa hari yang lalu aku membaca banyak artikel tentang MPASI, sharing dengan Kak Lisna, dan teman-teman yang sudah lebih dulu melewati pengalaman itu.
Aku akan memulainya dengan bubur saring tanpa tambahan apapun. Aku bersiap dengan mencuci tiga sendok beras, merebusnya dengan air hingga menyusut lalu mengaduknya dengan sutil kayu dengan cepat hingga berubah menjadi bubur. Aku tambahkan sedikit air lagi dan terus mengaduknya di atas api hingga volumenya semakin bertambah, teksturnya menjadi lembut tanpa ada lagi bentuk nasi yang terlihat.
Setelah matang aku menyaringnya dengan saringan kawat. Sebagian aku tuang ke dalam mangkuk dan sebagiannya lagi aku letakkan pada wadah kedap udara dan menyimpannya di dalam kulkas untuk makan siangnya nanti.
"Repot banget bikin begituan, mending beli!" protes Ibu saat melihat kesibukanku juga bekas perabotan yang kupakai.
"Yang penting cucu Ibu sehat," jawabku sambil tersenyum dan ditanggapi Ibu dengan lirikan tajam. Tapi tak urung juga ia mengambil mangkuk bubur itu dan menggendong Marisa untuk disuapi. "Ayo Oma suapin, biar cepat besar," tutur Ibu pada Marisa.
Kata Kak Lisna, MPASI itu sangat penting sebagai penentu kebiasaan makan si kecil nantinya. Dengan MPASI yang tepat, nutrisinya akan terpenuhi dengan baik, dan pengenalan jenis makanan yang beragam juga membuat ia tidak menjadi pemilih makanan atau picky eater, istilah kerennya.
__ADS_1
Kak Lisna bisa menjadai referensiku, dia telah berhasil membuat Gio tumbuh sehat dengan berat badan ideal. Dia memang terlihat lebih besar dari anak seusianya, tapi kata Kak Lisna berat badannya sebanding dengan tinggi badannya dan tidak termasuk obesitas
Makanan yang lebih baik memang makanan yang dibuat di rumah. Terjamin higenis, sehat dan bebas dari bahan kimia. Tapi, bubur bayi instan pun dapat menjadi alternatif dalam situasi dan kondisi tertentu asal masih dalam label, makanan bayi. Bukan jenis bubur instan yang dibuat untuk konsumsi orang dewasa dengan kandungan MSG tinggi.
Aku sampai mengernyitkan dahi saat melihat Ibu-ibu memborong bubur ayam instan untuk bayinya. Jelas-jelas itu bukan makanan bayi, dimakan orang dewasa pun seret, apalagi untuk bayi, kasihan. Selang beberapa menit Ibu sudah kembali tiba di depanku.
"Habis," ujar Ibu dengan wajah sumringah, memperlihatkan mangkuk kosong yang dipegangnya.
Aku yang sedang mencuci perabotan pun menanggapinya dengan tersenyum dan menciumi pipi gembil Marisa.
"Pinter nih anak Bunda, siapa dulu Omanya, ya?"
Terlihat sebaris senyum di bibir Ibu, yang segera ia sembunyikan dengan mengomentari hasil kerjaku yang katanya kurang bersih. Ah, dasar nenek-nenek jaim.
Rumah kembali lengang setelah Ibu dan Bang Rafi pergi ke tempat kerjanya masing-masing. Sebenarnya aku ingin pergi keluar, belanja keperluan Marisa dan sekedar cuci mata. Tapi, aku harus bersabar hingga akhir pekan agar dapat pergi bersama Bang Rafi. Repot juga kalau harus menenteng belanjaan sambil menggendong Marisa.
Marisa tidur lelap, waktuku untuk berpindah tempat ke dunia maya di mulai. Aku mulai memposting foto-foto baju yang dikirim Susi, karyawan Ibu. Juga foto baju-baju yang baru datang dan belum dibawa Ibu ke kios.
[Bisa COD?] Sebuah komentar masuk dan segera ku balas.
[Bisa. Untuk daerah Cipinang dan sekitarnya] Aku selalu membiasakan dengan menyanggupi terlebih dahulu, lalu menyusulnya dengan masalah teknis.
[Yang ini fix, COD di depan Alfa Cipinang satu jam lagi].
[Ok!]
Aku mulai mengecek kurta warna navy yang tertera pada gambar. Ternyata size yang diminta masih tersedia di rumah, jadi aku bisa COD langsung dengan customer tanpa harus menelpon Susi. 'Bisa sekalian beli diapers,' pikirku.
Hanya cukup berjalan kaki untuk pergi ke tempat yang dimaksud. lima ratus meter, lumayan jauh untuk perempuan dengan beban sepuluh kilo di gendongan plus payung besar di tangan kanan. Namanya juga usaha.
__ADS_1
Mobil mewah dengan warna mengkilap terparkir di depan minimarket itu, seseorang duduk di kursi putih yang mengelilingi meja bundar dengan payung besar di atasnya.
Aku mempercepat langkah, tak sabar ingin segera duduk mengistirahatkan kaki yang terasa pegal. Lengan kiriku pun terasa kebas.
Kututup payung yang kubawa, lalu aku menarik kursi kosong perlahan dengan sedikit mengangguk pada seseorang yang duduk di sana.
"Ning ya?" Sapa orang itu.
Aku mengamati wajah seseorang di hadapanku, rasanya tak asing tapi memoriku tak bisa menggali lebih dalam, buntu. Mirip Bang Risman tapi dalam versi lanjut usia.
"Saya yang pesan baju," cetusnya memecah lamunanku.
Aku segera membuka gawai lalu menutup mulut karna melihat akun yang tadi berbalas pesan denganku. "Aduuuhhh ...." Aku menepuk kening. Baru sadar dengan siapa sekarang aku bertemu, Pak Rahardian Husein, mertuaku.
Lelaki di depanku tersenyum saat mengamati tingkah absurdku. "Duduk," tuturnya mempersilahkan.
Saking kagetnya, aku sampai lupa dengan pegal di kakiku dan hanya berdiri memegangi sandaran kursi dari tadi. "Eh, ya, Om ... Pak. Eh ...."
"Panggil Ayah," tandasnya.
Aku mengangguk dan memperbaiki posisi dudukku.
Aku mencoba mengembalikan jiwa tukang dagangku dan berlaga profesional dengan mengeluarkan baju yang tadi di pesan serta menyebutkan nominal yang harus dibayar.
Lagi-lagi pria di hadapanku tersenyum, mengambil baju yang kuserahkan dan membayar dengan beberapa lembar uang ratusan ribu. Aku merogoh saku gamis mencari uang kembalian, walaupun aku belum mengambil uang di depanku dan belun tahu jumlag pastinya, indikasi bahwa aku sedang gugup.
"Sisanya buat bayar ongkir, nggak usah ngasih kembalian," tuturnya.
Aku segera menarik uang di atas meja, dan akan segera pamit. Takut jika Ibu dan Bang Rafi marah karena aku telah bertemu dengan Pak Rahardian tanpa sepengetahuan mereka.
__ADS_1
"Ibumu apa kabar, apa masih segalak dulu?"
Ups,