
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_25
Aku membuka ikatan rambut dan sedikit merapikannya dengan tangan, lalu mengikatnya kembali seperti ekor kuda. Kuusap-usap wajah dengan ujung daster, berharap menghilangkan kilap karena minyak wajah yang berlebih.
"Ambilkan minum buat ratih!" perintah Ibu saat aku telah berdiri di hadapannya.
Aku mengangguk, segera membalikan badan tapi Ratih menarik tanganku.
"Ini istri Rafi ya?" tanyanya, dengan intonasi tidak natural.
"Ya," jawabku dengan kepala tegak.
Tanpa terduga, dia meraih tanganku dan menjabatnya erat. "Saya Ratih, sahabat kecilnya Rafi."
Aku melepaskan genggamannya yang terkesan mengintimidasi. Aku sungguh tak bisa membaca sifat asli perempuan di depanku ini. Kadang dia terlihat begitu ramah dan hangat, tapi seringai di bibirnya yang terangkat tidak simetris membuat aku kembali pada keyakinanku semula, Ratih adalah ular, dia punya niat tidak baik pada keluargaku. Aku harus waspada.
"Silahkan duduk ya, Ratih. Sudah tugas tuan rumah, untuk menjamu tamu," tuturku. Memberikan penekanan pada kata "tuan rumah."
Aku mengambilkan Ratih air putih. Memang adanya hanya itu.
"Nanti kita belanja ke Tanabang aja, Bu. Ratih punya banyak kenalan di sana. Ibu bisa memilih pakaian dengan mode terbaru dengan harga sangat murah."
"Kamu memang selalu busa diandalkan. Coba, kamu yang jadi menantu Ibu. Pasti Ibu jadi mertua paling bahagia." Ibu memegang tangan Ratih dengan hangat.
Ratih melirikku dan menyeringai, mungkin dia merasa di atas angin. Dadaku bergemuruh, panas menjalar, hingga membuat napasku tercekat.
__ADS_1
Aku tak ingin menjawab, hanya akan merendahkan harga diriku di depan mereka. Aku menyimpan gelas di atas meja dan segera berlalu. Entah apa yang mereka bicarakan selanjutnya, aku tak perduli.
Aku mengambil baskom berisi air hangat ke kamar mandi, mengecek suhunya dengan siku. Itu yang diajarkan Mamah dulu. Suam-suam kuku, tidak terlalu panas dan tidan dingin, aman untuk kulit tubuh Marisa yang masih rentan.
Memandikan Marisa adalah hiburan tersendiri buatku. Kulitnya begitu lembut, tubuhnya gempal, menggemaskan. Aku memulainya dengan mengusap wajah dan membersihkan sudut-sudut matanya. Setiap hari Marisa selalu mandi dan keramas menggunakan shampo hingga kulit kepalanya bersih dan bebas dari kerak kepala, cradle cup atau orang Sunda menyebutnya leuleugeuteun.
Setelah dirasa cukup bersih aku membalutnya dengan handuk dan membawanya kembali ke kamar. Ibu dan Ratih masih saja asik mengobrol. Ada perasan iri dalam hati, kenapa Ibu tidak pernah berlaku sehangat itu kepadaku?
Aku membaringkan Marisa di atas kasur, memberikan baby cream pada wajahnya. Membalurkan minyak telon dan bedak bayi yang wanginya menguar ke semua sudut kamar, segar. Kupakaikan pakaian terbaik hingga gadis kecilku tampak semakin menawan.
"Mimi dulu ya, Nak. Biar hangat," ucapku. Sambil mendekap Marisa. Biasanya, Ibu akan datang untuk mengajak Marisa jalan-jalan begitu tahu dia telah selesai dandan, memberikanku kesempatan untuk menyiapkan diri menyambut Bang Rafi. Tapi, kali ini Ibu seperti tak peduli, Ratih masih menjadi prioritasnya.
"Bobo yang nyenyak, ya ... Bunda mau mandi, mau sholat," bisikku di telinga Marisa. Benar saja, setelah beberapa menit Marisa melepaskan hisapannya dan mulai terlelap.
Aku segera membaringkannya dengan hati-hati. Menahan napas dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Dug, tanpa sengaja aku menyenggol bedak dan menjatuhkannya. Marisa tersentak dan bangun lagi, "Aduuuhhhh ...." Aku menepuk kening, menyesali diri.
Marisa menuntutku untuk bergerak lebih gesit. Mandi cepat, makan cepat, melakukan segala hal dengan efektif dan efisien. Tak ada lagi acara luluran. Bisa basah seluruh tubuh juga sudah Alhamdulillah. Untuk kesekian kalinya aku berjalan melewati Ibu dan Marisa, anehnya mereka masih asyik saja mengobrol diselingi tawa renyah yang keluar dari keduanya.
Belum juga selesai menyisir rambut, motor Bang Rafi terdengar memasuki halaman. Aku segera keluar dari kamar, takut Ratih lebih dulu menyambut suamiku.
Apes, Ratih sudah berdiri anggun di depan Bang Rafi, senyumnya mengandung racun tikus yang bisa membunuh keharmonisan rumah tanggaku. Aku masih berdiri di depan pintu, mengurungkan langkah untuk mendekat. Aku ingin melihat sejauh apa kedekatan Ratih dan Bang Rafi.
Bang Rafi membuka helm yang dipakainya, Ratih sigap meraih dan memeganya dengan tangan kiri. Tangan kananya terulur menyalami Bang Rafi. Bang Rafi tersenyum tipis memberikan sayatan perih pada hatiku. Aku memilin jari-jari tangan yang mulai basah, masih memcoba bertahan untuk tidak beranjak dari tempatku berdiri.
Ratih mengiringi Bang Rafi menuju rumah. Memberikan kesan seperti istri yang sangat takdzim pada suami. Ishhh ... nggak tahu diri!
__ADS_1
Dari jarak sekitar lima meter Bang Rafi melemparkan senyum kepadaku, aku tidak membalasnya.
Cup,
Bibirnya mendarat di keningku, beberapa detik setelah Bang Rafi benar-benar berada di hadapanku. Mataku membulat. Aku tak menyangka dia akan melakukan itu di depan Ratih.
"Ayo ...!" Bang Rafi menggandeng tanganku dan berjalan memasuki rumah. Meninggalkan Ratih yang berjalan di belakang kami, masih dengan memeluk helm Bang Rafi, sukurin!
"Ratih sudah lama?" tanya Bang Rafi dengan tangan masih melingkar di lenganku.
"Sudah dari tadi, sengaja nunggu kamu Fi," ucapnya manja.
"Ini aku bawain bolu ubi ungu kesukaanmu." Ratih mengulurkan plastik yang sejak tadi berada di atas meja.
"Wah makasih ya, Ini sih kesukaan Ayuning," ucap Bang Rafi sambil meraih plastik itu dan memberikannya kepadaku. "Ini Yang, biar ASI kamu banyak," imbuh Bang Rafi.
Yang, tumben banget Bang Rafi manggil aku dengan sebutan Sayang. Tapi, aku puasss. Meraih pemberian Bang Rafi dengan hati berbunga-bunga.
Ratih mencebik, tampak sekali kalau dia benar-benar kesal. Masabodo, siapa suruh godain suami orang. Cantik-cantik gitu ko, mau-maunya merendahkan diri?
Ibu datang membawa banyak belanjaan, pantas saja dia tidak ikut menyambut kedatangan Bang Rafi bersama Ratih, ternyata dia pergi berbelanja.
"Belanjanya banyak sekali, Bu?" tanya Bang Rafi.
"Buat persediaan, Ratih mau seminggu tinggal di sini," tutur Ibu.
Aku dan Bang Rafi saling pandang dengan tatapan, entah.
__ADS_1
Aku meremas tangan Bang Rafi, melampiaskan kekesalanku atas sikap Ibu dan Ratih.
"Bagaimana, ini?"