
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_35
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku membawa tote bag yang kukira berisi pakaian Miss Sok-sial-ita itu.
Sintia dan Bang Risman beserta Ibu berjalan mendahuluiku yang mencoba menyeimbangkan badan dengan menggendong Marisa dan tentengan besar.
Aku meletakkan bawaan Sintia di meja depan dan kembali bergabung bersama orang-orang di dapur. Tak peduli dengan kesan pertama bertemu dengan Sintia yang begitu menyebalkan. Dengan Bang Risman, aku pernah bertemu beberapa kali saat Bang Risman berkunjung ke rumah Ibu. Aku selalu menghindari Bang Risman karena risih dengan cara dia menatapku. Sok tebar pesona!
Hari yang dinanti pun tiba, aku memakai gamis putih serasi dengan koko yang dikenakan Bang Rafi. Marisa pun didandani begitu cantik. Dres putih dengan bando bunga-bunga di kepala. Sepatu rajut yang kubuat menutupi kaki mungilnya yang sekarang mulai bergerak lincah menendang-nendang.
Rangkaian acara mulai dari pembacaan tawasul, doa, sholawat marhaba hingga mengelilingkan Marisa untuk didoakan dan dipotong rambutnya berjalan dengan lancar. Acara ditutup dengan ramah-tamah memberikan jamuan pada setiap tamu yang datang.
Seharusnya, bintang utama hari ini adalah Marisa, tapi justru yang dominan tampil adalah Ibu dan Sintia.
"Ini loh Jeng, menantu saya yang direktur Bank itu," tutur Ibu hampir pada setiap tamu yang datang.
Aku dan Kak Lisna hanya saling pandang kemudian melempar senyum simpul. Setelah menidurkan Marisa aku bergabung lagi bersama tim logistik untuk sekedar memastikan setiap mangkuk yang tersaji penuh dengan makanan. Garasi Ibu dihias sedemikian rupa dengan background berwarna gold, di sanalah kami menjamu setiap tamu dengan beraneka hidangan.
Aku berpapasan dengan Bang Risman yang tengah memegang gelas kosong. "Mau ambil air, Bang?" tanyaku.
"Ya, Sintia haus. Mau es jeruk, katanya."
Yaasalaaammm ... begitu amat menantu kesayangan Ibu.
"Sini, biar Ning bikinin," tuturku sambil meraih gelas dari tangan Bang Risman. Rasanya aku tak tega saja melihat lelaki berjas itu harus repot-repot ke dapur.
"Memang nggak ada di sini?" tanya Bang Risman sambil menunjuk meja tempat prasmanan.
__ADS_1
Aku menggeleng dan segera beelalu ke dapur untuk membuat es jeruk yang diminta sintia. Beberapa jeruk peras aku belah menjadi dua, memeras airnya ke dalam gelas yang telah aku letakkan penyaring di atasnya. Dua sendok gula aku tambahkan sebelum menuangkan air dan es batu. Kuaduk-aduk hingga larut. "Segarrr ...." Ingin aku meminumnya jika tak ingat es jeruk ini untuk siapa.
Aku kembali ke garasi tapi tak menemukan Bang Risman di sana. Sintia msih asyik menjadi pusat perhatian yang dikelilingi Ibu dan teman-temannya.
"Kak, ini es jeruknya," ujarku saat aku hanya berjarak dua langkah dengan tempat Sintia berdiri.
Sintia meraih gelas di tanganku dengan tatapan curiga. Ibu hanya melirikku sekilas tanpa berniat memperkenalkan aku pada sahabat-sahabatnya.
"Ini Istrinya Rafi ya?" tanya seorang rekan Ibu.
Aku mengangguk dan tersenyum serta meraih tangan Ibu tersebut untuk kusalami. Sejak kecil sudah biasa seperti itu.
"Cantik, sopan. Manis sekali kamu ...." puji ibu-ibu dengan jilbab lebar itu sambil mengusap bahuku.
Sintia yang sedang meneguk es jeruknya tersedak, dia batuk beberapa kali. "Ini manis banget! Sengaja ya, kamu mau bikin aku diabetes!" hardik Sintia sambil mendorong gelas ke dadaku hingga percikan airnya meninggalkan noda kuning di bajuku.
"Apaan sih!" Kak Lisna menghempaskan tanganku dengan kasar. "Kamu itu jangan lemah jadi orang, Ning. Bisa terus-terusan dijajah!"
"Kakak mau Ning bikinin es jeruk?" Aku mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Ah, kamu. Nggak asyik!" Kak Lisna berlalu meninggalkanku dengan mulut mencucu.
Acara selesai sekitar pukul empat sore. Semua yang bertugas di belakang panggung kembali sibuk. Aku merapikan makanan yang tersisa, menuangkannya pada panci besar untuk dihangatkan dan nantinya akan dibagikan pada keluarga dan semua yang membantu acara ini. Bang Rafi sibuk mencabuti sarung pada kursi plastik dan menumpuknya. Mamah menemani Marisa di kamar bersama Gio.
Bapak izin pulang duluan setelah acara inti selesai, besok Senin akan Bupati berkunjung ke desa kami, Bapak yang ketua BPD bertanggung jawab untuk menyiapkan acara.
"Abang bantu ya?"
Aku melirik orang di sebelahku. Kemejanya telah digulung hingga ke siku. Jas yang tadi dipakainya sudah terlepas.
__ADS_1
"Nggak usah, Bang. Ning bisa sendiri."
Bang Risman tidak menghiraukan penolakanku, dia sibuk menuangkan rendang pada panci kosong yang telah aku sediakan. Aku risih dengan tatapan dan seringainya.
"Bu ... Bu Suparti!" Aku memanggil Bu Suparti yang kebetulan lewat. "Tolong bantu temani Bang Risman beresin ini ya, Ning mau bikin kopi dulu buat Bang Rafi." Aku segera berlalu meninggalkan Bang Risman tanpa pamit. Seram aja dekat-dekat dia.
"Ning!" Bang Risman memanggilku.
"Ya, Bang."
"Bikinin kopi juga buat Abang. Kopi hitam ya," pintanya. Kali ini dengan senyum simetris.
"Ok!" Aku mengangkat ibu jari, menyanggupi.
Menjelang Maghrib rumah telah kembali bersih seperti semula. Malam itu rumah Ibu begitu ramai. Sayang, putra kembar Bang Risman tidak ikut berkumpul.
Sintia memang tidak ikut bergabung, sejak tadi dia sibuk mengeluh dengan udara panas tanpa AC, minta dicarikan lotion anti nyamuk, aku memberikan minyak telon plus anti nyamuk punya marisa ditolaknya, hingga Bang Rafi harus pergi ke minimarket untuk membeli semua barang permintaan putri keraton itu. Aku hanya menyiapkan kopi dan camilan lalu pergi ke kamar untuk menidurkan Marisa. Entah apa yang mereka bicarakan karena sesekali aku mendengar mereka saling berbisik, tertawa kemudian kembali larut dengan obrolan-obrolan bernada serius.
Sebenarnya aku minder. Dari tiga orang menantu Ibu, akulah yang paling rendah pendidikan dan tingkat ekonominya. Bang Rafi sebagai anak bungsu pun tidak bisa Ibu banggakan. Dia hanya buruh pabrik, kalah jauh dari Bang Rizal yang seorang kepala cabang sebuah perusahaan apalagi Bang Risman yang seorang kontraktor dengan dukungan dari Sintia seorang pejabat Bank.
Aku memang tak banyak menuntut pada Bang Rafi. Terbiasa hidup sederhana membuat aku menerima apapun kondisi Bang Rafi. Tapi, setelah ngobrol dengan Kak Lisna, ternyata sikapku tidak sepenuhnya benar. Kata Kak Lisna, perempuan itu harus banyak menuntut agar laki-laki termotivasi untuk sukses. Awalnya aku tak setuju, tapi penjelasan Kak Lisna benar-benar logis.
Laki-laki akan memiliki daya lebih saat tertantang, tapi dengan cara-cara yang baik tentunya bukan justru menuntut pasangan di luar batas kemampuannya.
Aku masih mengutak-atik mainan baru pemberian Kak Lisna saat Bang Rafi masuk ke kamar sambil senyum-senyum.
"Abang kenapa sih?" tanyaku heran.
"Abang bangga sama kamu."
__ADS_1