Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Mengambil Keputusan


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part_30


Seharian itu aku dan Ratih bagai sahabat yang sedang reuni. Dia menceritakan banyak pengalaman menarik, begitu juga aku. Sesekali Ratih tampak menjeda ucapannya untuk menarik napas panjang dan meringis dengan memegangi perut bagian bawahnya.


"Aku ambilkan botol air panas dulu ...." ucapku dan bergegas ke dapur.


Ratih mengambil posisi berbaring di samping Marisa. Aku ingat lagi pada Puji, katanya nyeri haid yang seperti itu sakit ... sekali. Perut seperti diaduk dan disayat-sayat. Kasihan.


"Ini, letakkan lagi di perutmu, biar enakan." Ratih menerima botol yang telah aku bungkus dengan handuk kecil itu dan memeluknya.


"Makasih ya ...," lirih Ratih.


"Pindah ke kamar aja, yuk?" Ratih hanya menggeleng tanda menolak. "Mau di sini, biar rame, nggak kesepian," jawabnya. Aku pun menuruti keinginannya, kuambilkan selimut dinkamar Ratih untuk membuat dia lebih nyaman.


"Kamu pernah berobat ke mana aja?" tanyaku sambil memijit telapak kaki Ratih yang terlihat putih dan dingin saat disentuh.


Ratih lalu bercerita bahwa satu tahun dia dan suaminya melakukan pengobatan medis maupun herbal, tapi tidak membuahkan hasil. Dokter menyarankan oprasi pengangkatan jaringan tapi mantan suaminya terlanjur pesimis dan memilih meninggalkan Ratih.


"Aku udah nggak punya semangat sembuh, Ning. Percuma," lirih Ratih.


"Kamu menderita endometriosis?" tanyaku hendak memastikan.


"Ya. Seperti Zaskia Sungkar. Kamu lihat sendiri, sebanyak apapun uang yang dia miliki, pengobatan semodern apapun, tidak bisa membuat dia bisa hamil seperti perempuan lain," tegasnya.


"Aku punya teman penderita endometriosis dan sekarang dia sudah punya bayi laki-laki usia satu tahun."


Iris mata Ratih melebar, dia seperti mendapatkan kabar gembira yang menyulut lagi rasa semangatnya. Lalu aku menceritakan tentang Puji, temanku yang tinggal satu kostan saat SMA dulu.

__ADS_1


"Nanti aku kenalin kamu sama Puji, biar bisa berbagi pengalaman. Aku juga tidak tahu percis ikhtiar apa yang sudah dia lakukan selama ini," tuturku.


Ratih terlihat berpikir. Perlahan dia mengangkat tubuhnya, dan duduk dengan bersandar pada kaki sofa.


"Satu hal yang harus kamu yakin. Tak ada yang mustahil bagi Allah. Yang menurut kita sulit, nyatanya mudah bagi Allah. Jika Allah berkehendak, tak ada yang bisa menghalangi. Nabi Ibrahim dan Siti Sarah dikaruniai nabi Ishaq setelah mereka lanjut usia. Berdoalah sebagaimana doa yang terdapat dalam Al-Qur'an, Robbi Laa Tadzarni Fardan Wa Anta Khoirul Waritsin ...."


"Doa apa itu?" tanya Ratih.


"Itu doa nabi Zakariya ada dalam quran surah Al-Anbiya ayat 89. Artinya, 'Yaa Robbi jangan biarkan aku seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik' begitu ...." pungkasku.


Aku ini besar di kampung yang sangat lekat dengan nilai-nilai agama. Ngaji setiap maghrib dan subuh, belajar membaca Quran juga tentang tauhid, fiqih, faroid dan lain-lain sudah sejak kecil, walaupun saat itu hanya sebatas menghapal tanpa memahami. Tapi, setelah dewasa, ilmu-ilmu itu baru bisa menjadi rujukan saat menemui masalah dalam hidup, seperti sekarang.


Ratih tampak serius menyimak ucapanku hingga tangis Marisa menyadarkan kembali tentang waktu yang terus beranjak siang. Aku meminta Ratih beristirahat du kamarnya sambil menjaga Marisa. Sementara aku kembali berkutat dengan pekerjaan rumah untuk menyiapkan makan siang dan menyambut Ibu. Rumah harus bersih, rapi tanpa meninggalkan jejak kesantuyan sedikit pun.


Ternyata yang datang bukan hanya Ibu, tante Rumana, Ibunya Ratih pun datang untuk menjemput Ratih, tak lama disusul Bang Rafi. Jadilah hari itu kami berkumpul di rumah Ibu.


Ternyata di ruang tengah semua sudah menunggu. Ibu, Tante Rumana, Ratih, Bang Rafi juga aku, duduk melingkar mengelilingi meja kaca berbentuk bulat. Kami seperti tengah melakukan konferensi yang sangat penting.


"Fi, kamu akan sangat diuntungkan. Punya istri dua, yang satu bisa ngurus rumah, yang satu pinter usaha. Kamu mau mobil mau jadi bos di pabrik, mau apapun, Tante kasih!" ucap Tante Rum dengan bersemangat. Gelang-gelang besar gemerincing saat tangannya bergerak-gerak.


Aku tersentak, ternyata ujian belum berakhir.


Aku melihat Ratih, dia hanya tertunduk menyembunyikan wajahnya. Mungkin dia merasa malu sekaligus tak berdaya.


"Ning ya, nama kamu?" sentak Tante Rum.


"Ya," jawabku.


"Kamu hanya cukup berbagi suami sama anak saya. Kamu, anak kamu bisa hidup enak tujuh turunan," ujar Tante Rum sombong.

__ADS_1


"Ning serahkan semua keputusan pada Bang Rafi Tante, biarlah dia yang memutuskan," lirihku dengan dada berdebar. Sebenarnya aku tidak begitu yakin dengan apa yang akan dikatakan Bang Rafi, kalau Bang Rafi memilih mendua, apa yang harus aku lakukan?


"Tuh, Fi, istri kamu sudah terserah kamu. Kamu mau ya, sama Ratih?" desak Ibu.


Bang Rafi gelagapan. Aku tahu di hati kecilnya dia ingin sekali hidup mewah tanpa harus cape-cape bekerja sebagai buruh pabrik. Ah, aku pasrah.


"Cukup! Sudah cukup!" teriak Ratih, membuat semua orang di ruangan terkesiap.


"Mih, Ratih bukan barang rongsokan yang harus Mamih tawar-tawarkan agar dibeli orang. Ratih punya harga diri!" Ratih berteriak sambil berdiri.


"Duduk kamu! Ini buat kebaikan kamu! Mamih nggak mau kamu dimanfaatin orang. Lihat pilihan kamu Si Han itu, berengsek kan dia?" Tante Rum berbicara lebih keras. Ratih menyerah dan memilih diam.


"Ayo Fi, jawab!" cecar Tante Rum.


"Maaf Tante, Rafi nggak bisa," jawab Bang Rafi, membuat tenggorokanku yang tadi terasa tercekik kembali longgar, aku bisa bernapas dengan lega.


"Jangan bodoh, kamu Fi!" sentak Ibu.


"Rafi sudah bahagia bersama keluarga Rafi. Ratih pun berhak mendapatkan kebahagiaannya dengan hidup bersama orang yang mencintai dan dapat memuliakannya."


Tante Rum menghela napas berat. Ratih sudah menangis dari tadi. Walaupun hatiku lega, aku tak bisa tersenyum saat ini, aku sedih memikirkan Ratih.


"Terima kasih Fi, kamu sudah menyelematkan aku dari predikat buruk yang mungkin aku sandang," lirih Ratih.


"Mih, Ratih sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Ratih masih muda, jalan Ratih masih sangat panjang. Ratih yakin Ratih bisa bertemu dengan lelaki yang bisa tulus mencintai Ratih. Cukuplah Ratih dianggap anak di keluarga ini, bukan sebagai menantu," tandas Ratih.


Setelah obrolan panjang yang menegangkan itu, aku kembali berbicara dengan Bang Rafi. "Abang hebat!" Aku mengalungkan lengan pada lehernya. Bang Rafi memegang pinggangku.


"Bantu Abang untuk selalu berkomitmen menjalani rumah tangga ini selamanya. Karena seperti katamu, Ning, Jika komitmen itu masih ada, maka sebesar apalun masalah yang dihadapi, yang akan kita cari adalah solusi. Tapi, jika kita tidak lagi komitmen dengan pernikahan kita, masalah kecil pun akan menjadi alasan untuk berpisah."

__ADS_1


__ADS_2