
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_40
Mimpi apa aku semalam? Sudah dikejutkan dengan melintasnya Akmal di dunia maya. Eh ... tahu-tahu dia sudah ada di depan mata.
"Kalian sudah saling kenal?" ucap Bang Rafi.
Aku gelagapan, menggerak-gerakan mata ke kiri dan ke kanan. Ketahuan banget kalau lagi salah tingkah. Aku ini tipe orang yang transparan, apa yang ada di dalam hati, maka itu akan tampak nyata di permukaan.
"Ning istri Lo, Fi? Dia temen kecil gue. Hobinya manjat pohon pepaya ha ... ha ...." Akmal tampak bahagia membuka aibku. Ish, cowok jahat!
Waktu kecil aku memang sedikit tomboy dan suka memanjat pohon. Aku dan Akmal pernah lomba memanjat pohon. Akmal KO saat ditantang memanjat pohon pepaya yang tak berdahan. Sementara aku dengan mudah memanjat dan memetik buahnya. Tapi itu dulu. Sekarang aku lebih sering bergamis atau mengenakan rok panjang, mana mungkin aku menanjat dengan kostum seperti itu.
Bang Rafi merapatkan bahunya pada bahuku. "Kalau sekarang, hobi Ning itu bikin seneng suami," ucap Bang Rafi sambil mengangkat kedua alisnya dan menatapku mesra. Aku tersipu dengan kedua pipi yang menghangat.
Akmal menutup mulutnya seketika, dia terlihat gusar, mungkin tak menyangka dengan reaksi yang ditunjukan Bang Rafiku tercinta.
Bukankah kewajiban pasangan memang saling menutupi kekurangan dan menjadi pembela paling depan?
"Ayo ... ayo masuk! Nanti ceritanya di dalam aja," Ajakku pada teman-teman Bang Rafi.
Aku menghidangkan es teh manis pada mereka. Entah aku geer atau memang nyata terjadi, Akmal selalu diam-diam mencuri pandang.
Aku pamit masuk ke kamar untuk melihat Marisa, tak lama kemudian Bang Rafi mengikutiku. Bang Rafi duduk di sebelahku yang tengah menggendong Marisa, dibelainya kepala Marisa yang kini tak berambut, dipangkas setelah acara aqiqahannya tempo hari.
"Abang, mau pergi ya, Ning?" Bang Rafi berbicara dengan sungkan.
"Kemana?" tanyaku tanpa melihat wajahnya.
"Mabar. Ada turnamen ML di tempatnya Richie."
__ADS_1
"Kalau Ning bilang jangan, Abang mau nurut nggak?" Aku mengajaknya berdiplomasi. "Abang cape, baru pulang kerja, besok harus kerja lagi," imbuhku.
"Abang kuat ko, Abang nanti sholat, deh, janji!" Bang Rafi masih merajuk. Aku memikirkan harga dirinya di depan Akmal dan satu lagi temannya. Apa kata mereka nanti kalau Bang Rafi gagal ikut karena aku larang?
"Ok, dengan satu syarat."
"Apa?" Bang Rafi terlihat antusias.
"Jaga diri Abang baik-baik."
"Itu aja?" Bang Rafi nyengir, bahagia karena syarat yang kuajukan ternyata begitu mudah menurutnya.
"Ya, itu aja. Jaga diri Abang dari panasnya api neraka," tegasku.
Bang Rafi melongo. Tas kecil yang tadi dipegangnya dengan erat kini diletakkannya begitu saja di atas kasur.
Aku tahu siapa Akmal. Dari dulu kenakalannya tidak berkurang sedikit pun. Jika saat SMP saja dia sudah minum oplosan, tentu hari ini dosisnya lebih dari itu. Aku juga tahu siapa Richie. Dia teman Bang Rafi yang kerap bergonta-ganti pasangan. Aku punya firasat buruk mengenai ini. Ini bukan sekedar mabar, mereka punya rencana busuk untuk bersenang-senang.
"Kalau Abang yakin di sana Abang bisa jaga diri. Ning izinkan Abang pergi," tandasku.
Bang Rafi keluar dari kamar dan menemui teman-temannya. Mereka mengobrol beberapa saat, tak lama kemudian motor yang dinaiki Akmal dan temannya berlalu meninggalkan halaman tanpa Bang Rafi.
Aku memberikan senyuman termanis yang kupunya saat Bang Rafi kembali masuk ke kamar.
"Sini!" Aku merentangkan tangan kanan.
Bang Rafi mendekatkan wajahnya dan kukecup keningnya lama.
Aku tak berniat membahas tentang mabar itu. Aku tahu Bang Rafi telah berperang dengan keinginanya sendiri, dia telah membuktikan bahwa sekarang dia mulai berubah lebih baik, lebih dewasa.
Perubahan Bang Rafi tidak semudah membalikan telapak tangan. Selama ini, aku sering mengajaknya bicara. Benar-benar bicara efektif tanpa nada marah ataupun memperlihatkan kekesalan, tentang ketidak sukaanku dengan kebiasaan-kebiasaan buruknya.
__ADS_1
Kami selalu bicara menjelang tidur. Pillow talk, itu istilahnya. Kadang, kami pun bicara setelah sama-sama mengisi malam dengan bermesraan. Mood baik, membuat pesan yang disampaikan pun tertangkap dengan baik.
Menjalani hobi itu memang hak seseorang, sebagai hiburan. Tapi, memilih dan menjalani hobi pun harus bijaksana. Setelah Bang Rafi menjadi suami dan seorang ayah tentunya dia harus juga mengadaptasikan sikap dan kesukaanya terhadap sesuatu. Jika bermanfaat lakukan, jika madhorot, ya harus ditinggalkan. Dan aku menjadi bagian terpenting yang mengubah hobi Bang Rafi. Aku harus menyajikan kebahagian di rumah hingga Bang Rafi tidak tertarik lagi dengan kesenangan di luar rumah.
Beberapa hari berlalu setelah itu. Entah kenapa Akmal jadi sering datang ke rumah. Katanya sekedar mampir, ingin melihat Marisa atau alasan-alasan absurd lainnya.
Bang Rafi pun tak keberatan mengajak Akmal, karena mereka satu divisi dan kerap pulang kerja bersama-sama.
Aku sedang menjawab pertanyaan customer yang menanyakan detail baju yang kuposting saat sebuah pesan masuk melalui inbox.
[Hey, anak kancil!]
Aku tersenyum membaca pesan itu, hanya Akmal yang biasa menyebutku anak kancil.
[Sekarang udah jadi Emak kancil 😜]
Lalu kami asyik berbalas pesan, tanpa sungkan tanpa kekakuan yang biasa terjadi saat beetatap muka.
Entahlah, aku merasakan gelenyar aneh saat chating dengan Akmal. Kami bisa membicarakan banyak hal di masa lalu. Aku seolah menagih ketuntasan atas kisah yang tak sempat usai. Aku ingin sebuah pengakuan bahwa sebenarnya hatiku tidak bertepuk sebelah tangan.
Akmal banyak bercerita tentang diri dan keluarganya dan kutanggapi dengan hangat. Aku mengenal hampir semua anggota keluarganya, hal itu membuat kami tak pernah kehilangan bahan obrolan.
Sejak dulu, Akmal itu jago membuat dan membaca puisi, hal itu juga yang membuat dia bisa masuk SMA yang sama denganku melalui jalur prestasi karena memiliki banyak penghargaan dalam bidang sastra.
[Konfirmasi dong ....] Pesan dari Akmal, suatu hari.
Aku baru sadar, hanya berkomunikasinya melalui pesan tanpa menjalin pertemanan dengannya.
[Ok] Balasku.
Aku semakin terkesan dengan postingan-postingan Akmal. Entahlah, aku merasa banyak puisi yang dia tulis di wall pribadinya, yang sengaja dia tujukan untukku.
__ADS_1
Karena dia bekerja di pabrik pagi hingga dore hari. Aku dan Akmal sering berbalas pesan di malam hari. Mencuri-curi waktu saat Bang Rafi jauh atau sedang tidur. Aku akan segera menghapus riwayat chat begitu melihat Bang Rafi berada di sekitarku. Ponsel yang biasanya aku simpan di sembarang tempat pun kini menjadi barang yang aku perlakukan eksklusif. Jika tak kupegang maka akan aku simpan di bawah pakaian Marisa.
Apa aku telah berselingkuh?