Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Endometriosis


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part_29


Endometriosis, kelainan berupa jaringan yang seharusnya berada di dalam rahim, tumbuh di luar rahim. Selayaknya endometeium, akan menebal pada siklus dihasilkannya sel telur. Jika pada kondisi normal, lapisan ini akan luruh dan keluar sebagai darah haid, pada endometriosis ini darah akan terperangkap atau berbalik arah sehingga menyebabkan sakit yang luar biasa. Dan penderita endometriosis ini umumnya akan sulit mendapatkan keturunan atau mandul.


Penjelasan tentang endometriosis aku peroleh dari dokter, saat aku mengantar Puji berobat dulu. Puji adalah teman kostku saat SMA. Aku dan dia berasal dari desa dan bersekolah di sekolah favorit di kota kabupaten.


Dari gejala yang ditunjukan Ratih, kemungkinan besar penyakit Ratih sama seperti Puji, tapi itu baru dugaanku, aku harus mendengar langsung dari Ratih jika ingin tahu percis apa yang sedang dia derita.


Ini hari pertama Ratih tidak ikut sarapan bersama semenjak dia ada di rumah ini. Setelah Bang Rafi berangkat kerja, aku memberanikan diri melihat ke kamarnya.


Ratih masih tidur, tubuhnya ditutupi berlapis-lapis selimut.


"Masuk ...," ucapnya saat pintu yang kubuka mengeluarkan derit yang cukup keras.


"Mau aku bawain sarapan?"


"Air hangat ya, Ning," pintanya.


Aku segera beranjak untuk membawakan air dan beberapa potong buah melon.


Ratih duduk bersandar, dia merapikan rambut sebahunya yang kali ini tidak tertutup kerudung. Aku mengambil tempat duduk di sisi ranjang dan menyerahkan air hangat di tanganku pada Ratih sementara piring berisi melon aku siman di atas nakas.

__ADS_1


Ratih meneguk air di dalam gelas dengan beberapa tegukan. Sesekali dia terlihat meringis.


"Masih sakit?"


"Sudah biasa, tiap datang bulan pasti begini. Nanti juga enakan," jawabnya.


"Mandi biar segar ya? Aku udah siapin air hangatnya."


Ratih mengangguk dan tersenyum.


Aku selalu diajari Mamah untuk membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan. Apalagi jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit, semua akan merawat dan melayani dengan sepenuh hati.


Aku terbiasa memijat Mamah atau Bapak saat mereka sakit, mengompres, mencuci bekas muntah, menyiapkan air untuk mandi dan menuruti apapun permintaan Si sakit. Tak ada rasa sungkan, canggung atau tidak enak hati. Saat sakit perasaan seseorang biasanya menjadi lebih sensitif. Aku tahu sedihnya merasakan sakit sendirian dan jauh dari keluarga, pedihnya lebih menyiksa daripada penyakit itu sendiri.


Ibu sudah pergi sejak pagi, dia akan mengurus kios juga menyelesaikan beberapa urusan dengan para pedagang baju yang mengambil barang dari konveksi Ratih. Ibu menitip pesan untuk disampaikan pada Ratih.


Pukul sepuluh, pekerjaan ekstraku hari ini, selesai. Aku mengisi waktu santaiku dengan menonton TV. Menggelar surpet dan membawa beberapa bantal. Merisa sedang bobo cantik. Tapi, demi kenyamanan lahir dan batinku aku membopong Marisa beserta kasurnya untuk dibaringkan juga di depan TV.


Lega sekali rasanya bisa meluruskan punggung setelah kerja rodi dari sebelum subuh tadi.


"Marisa ... cantik ...."


Aku melirik seseorang yang tengah berlutut di samping Marisa. Aku meletakkan remote TV dan bangun dari posisi tidurku.

__ADS_1


"Sudah baikan? tanyaku. Ratih mengangguk. "Sudah minum obat, tadi," jelasnya.


Kami pun duduk bersisian sambil menonton tayangan TV yang rasanya tak menarik lagi.


"Aku mandul, Ning," ucap Ratih membuka percakapan. Sebenarnya aku tidak terkejut, Bang Rafi pernah menceritakannya tempo hari. Tapi, mendengarnya langsung dari Ratih, rasanya lain, getir suara ratih menyiratkan sesuatu yang begitu pedih.


"Dulu, aku sangat percaya diri. Cantik, seksi, cerdas, kaya raya. Aku yakin bisa mendapatkan lelaki yang ideal sesuai dengan keinginanku. Ternyata, aku salah." Ratih menghela napas berat. Aku mengecilkan volume TV agar bisa menyimak perkataan Ratih dengan lebih serius.


"Aku dibuang Ning. Mas Hanjaya membuangku setelah mendengar vonis dokter kalau aku tak bisa memberikannya keturunan."


Aku masih diam, hanya mengusap bahunya sebagai tanda bahwa aku peduli.


"Rasa sakit dan kecewa membawa aku lebih dekat pada Allah, dan memutuskan berhijab beberapa bulan yang lalu. Maaf aku mengganggu keluargamu," ucap Ratih sambil memegang tanganku.


Dia bercerita banyak tentang hubungan Tante Rum dengan Ibu Bang Rafi. Mereka meminta Ratih menikah dengan Bang Rafi untuk mengikat hubungan kekerabatan dan bisnis mereka, mereka berpikir Bang Rafi tidak akan mempermasalahakan kemandulan Ratih karena dia sudah memiliki anak dariku.


"Aku jahat ya, memaksa masuk dalam kehidupan kalian tanpa memikirkan perasaanmu?" lirih Ratih dengan suara getir.


"Aku sadar perasaan Rafi tidak lagi seperti dulu. Dia mencintaimu, karena kamu memang pantas dicintai." Ratih menggenggam tanganku lebih erat.


"Nanti sore aku akan pulang. Aku memang tak punya tempat di rumah ini," tandasnya.


Tidak ada satu kata pun yang bisa aku ucapkan. Hanya menatap Ratih penuh simpati dan kembali mengusap bahunya lembut. Lalu, kami larut pada tayangan di layar kaca dengan pikiran yang melayang entah ke mana.

__ADS_1


Adakalanya kita tidak perlu bersusah payah menyelesaikan suatu masalah. Hanya perlu menjalankan kewajiban kita sebagai manusia dengan sebaik-baiknya. Selebihnya, biarlah semesta yang bekerja.


__ADS_2