
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_31
Malam itu juga Ratih bersama Tante Rumana pergi dari rumah Ibu. Aku jatuh simpati pada Ratih, apalagi begitu tahu bahwa hatinya ternyata lembut. Dulu, kukira dia adalah orang yang arogan yang suka memaksakan kehendak. Tapi, setelah bicara banyak dengannya, aku merasa dia baik dan perhatian.
Ratih adalah sosok perempuan yang dibesarkan dengan harta dan kekayaan sehingga jiwanya materialistis. Allah menegurnya dengan sakit dan ujian yang berat, menunjukkan pada Ratih bahwa tidak ada yang bisa dia sombongkan di hadapan Sang Pencipta. Sombong itu pakaian Allah, tidak boleh ada satu makhluk pun yang boleh memakainya.
"Bang, Abang janji akan setia selamanya?"
"Emhhh ... nggak tahu!" jawab Bang Rafi, cuek.
"Ish! Nggak asyik banget!" Aku mencebik dan melepaskan tangannya dari pinggangku.
Bang Rafi menahan lenganku. "Dengar dulu," ucapnya.
"Abang nggak bisa janji, Ning. Bukan berarti Abang berniat tidak setia. Godaan itu akan selalu datang. Kadang di saat kita sulit, lebih banyak disaat kita telah meniti kesuksesan." Pandangan Bang Rafi tampak jauh menerawang. Jika sedang seperti ini dia terlihat lebih dewasa.
Bang Rafi lalu bercerita tentang masa lalunya. Tentang ayah Bang Rafi yang berselingkuh dan memilih meninggalkan Ibu demi perempuan lain, Saat Bang Rafi berusia tiga belas tahun. Diantara ketiga anak Ibu, Bang Rafilah yang merasakan dampak paling besar akibat perceraian orang tuanya. Walaupun Ibu bisa bangkit dan survive menjadi super single parent, tetap saja tidak bisa menggantikan figur seorang ayah yang dibutuhkan Bang Rafi.
"Padahal saat itu, kami sudah hidup enak. Ayah punya jabatan penting di perusahaannya, Ibu sedang merintis usaha kecil-kecilan. Tapi, godaan itu begitu besar hingga semuanya hancur, rumah kami saat itu seperti neraka, Ning. Hanya caci-maki yang keluar dari mulut Ibu dan Ayah yang membalasnya dengan teriakan dan melampiaskan amarahnya pada piring atau gelas." Bang Rafi meraup wajahnya dengan kasar. Aku memegang pundaknya yang bergerak turun naik menahan amarah. Ternyata luka hatinya sangat dalam.
"Seandainya Ibu bisa sabar seperti kamu, mungkin semuanya tidak akan sehancur itu," lirih Bang Rafi. Aku meremas tangannya, mencoba mengalirkan energi positif.
Hampir dua tahun menikah, baru kali ini Bang Rafi mengungkapkan perasaan yang selama menjadi beban di hatinya.
"Kalau kejadiannya tidak seperti itu, mungkin yang jadi istri Abang itu Ratih, bukan Ning," selorohku mencoba mencairkan suasana.
"Ya, betul. Ah, nyesel Abang ...." Bang Rafi menunduk tapi matanya melirikku dengan jenaka.
__ADS_1
"Apa?" Aku menghujaninya dengan gelitikan di perut.
"Ha ... ha ... ampun Ning, ampuuun ... haha ...." Bang Rafi tertawa hingga sudut matanya berair.
Kadang, kesedihan bisa menjadi bahan tertawaan. Hidup memang selucu itu.
****
Sepeninggal Ratih dari rumah ini, aku dan Ibu kembali pada rutinitas semula. Ibu yang selalu lancar mengeluarkan panah beracun dari mulutnya dan aku yang sudah punya tameng pelindung hati dengan tidak memasukkan segala ucapan buruk Ibu ke dalam hati. "Ndableg" itu kalau kata orang Jawa bilang.
Saat pulang dari kios, wajah Ibu terlihat muram. Dia tidak menyapa Marisa, apalagi aku. Sendal berhak tinggi dengan hiasan batu-batu kecil di atasnya, Ibu letakkan sembarangan. Padahal biasanya, sendal adalah barang kesayangan Ibu yang akan dia perlakukan dengan sangat istimewa. Ibu akan membukanya di kursi teras, mengelapnya dengan tisu lalu menentengnya ke garasi untuk dimasukkan kembali ke dalam kardus-kardus yang berjajar di rak sepatu.
Aku tak berani menegurnya. Aku beranjak ke dapur dan mengambil segelas air es dari dalam kulkas dan meletakkannya di hadapan Ibu yang masih duduk di kursi depan TV dengan kening yang mengerut.
"Tunggu, Ning!" sergah Ibu saat aku akan pergi meninggalkannya. "Duduk," pinta Ibu.
Darahku berdesir, 'aduh, ada apa ini,' pikirku.
Buset dah! Kirain ada apa. Aku geli, ingin senyum sebenarnya. Tapi takut membuat Ibu tersinggung san di cap sebagai menantu durhaka, oh ... takut!
"Ning terserah Ibu aja, Bu," sahutku.
"Memang, darimana coba kamu punya duit?" cetus Ibu.
Aku mengusap dada, mau tersinggung tapi nggak jadi. Memang kenyataanya begitu.
"Rencananya mau kapan?" tanyaku dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Kamu sama Rafi yang atur, Ibu pusing! Yang penting harus lebih meriah dari selamatan cucunya Jeng Ayu. Semua teman-teman Ibu yang punya kios di pasar mau Ibu undang. Ibu-ibu pengajian biar suruh baca doa di sini. Makanannya harus banyak, pesen kue sama Si Suparti itu, sumpel mulutnya pake duit biar nggak ngomongin Ibu terus!" tutur Ibu cepat dan tanpa jeda.
__ADS_1
"Ya, Bu. Nanti Ning ngobrol sama Bang Rafi. Boleh Ning kasih tahu keluarga Ning?" tanyaku hati-hati.
"Ya, bilangin bawa beras yang banyak!" jawab Ibu. "Kasih tahu juga, abang-abangnya Rafi Risman sama Rizal, biar suruh ke sini. Punya anak laki nggak pernah mau nengokin orang tua!"
Ibu masih merepet mengeluarkan segala unek-unek di hatinya. Aku menyediakan hati seluas-luasnya untuk menampung semua celotehan Ibu dan akan segera membuangnya jauh-jauh tanpa mengendapkannya.
"Emmmh ... anggaran dari Ibunya berapa?"
"Dua juta! Cukup?"
'Hadeuuuhhh ... punya mertua begini banget ya?' Aku membatin.
"Kalau buat ngundang-ngundang orang nggak cukup, Bu. Budget segitu paling buat pengajian aja," jelasku.
"Ya udah, kamu yang nambahin!" tukas Ibu.
Aku menunduk. Mau jawab pasti salah, mau nggak juga namanya bunuh diri. Darimana punya uang buat ngadain acara begitu, ngontram aja nggak mampu.
"Jangan kusut gitu muka kamu, Ning. Udah miskin, jelek lagi," sindir Ibu.
Aku geram. Tapi rasanya sudah tak sesakit dulu, biasa.
"Kamu tulis aja kebutuhannya, terus hitung. Nanti kasih catatannya ke Ibu! Makanya, jadi istri itu musti pinter ngatur duit. Udah enak tinggal nggak perlu ngontrak, masih aja nggak bisa nabung!"
Aduuuh ... lama-lama bisa meledak juga nih hati. Siapa juga yang nggak mau nabung, gaji Bang Rafi cuman sebatas UMR mau diakalin segimana juga tetap aja jatuhnya minus. Cicilan motor, kebutuhan Marisa, dan tinggal di sini juga nggak gratis-gratis banget ko, listrik aku yang bayar, beras buat makan ya beli juga, kalau cuma pakai beras yang disediakan Ibu, bisa kelaparan aku.
"Ngerti nggak? Diajak ngobrol ko malah ngelamun."
"Ya, Bu. Nanti malam Ning bicarakan dulu sama Bang Rafi," pungkasku.
__ADS_1
Ibu beranjak dari tempat duduknya dan keluar mengambil sendal yang tergeletak di atas kesed sabut kelapa. Menimangnya kemudian mengusap-usap beberapa bagian dan pergi berlalu ke garasi.
Ada yang mau tukar tambah mertua?