Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Perang


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part_37


"Kamu itu kalau ngomong dijaga ya! Gini-gini juga aku suamimu!" Suara keras Bang Risman terdengar sampai keluar kamar hingga tertangkap pendengaranku.


"Apalagi namanya kalau bukan brengsek heh? Modal usahamu semua dari aku, masih saja kamu berani main gila!" kali ini suara Sintia yang tak kalah nyaring.


Untunglah Ibu sedang keluar bersama Marisa dan tak harus mendengar keributan dari anak dan menantunya.


Bang Risman keluar kamar dan menutup pintu dengan keras. Aku menekan dadaku, meredam rasa takut yang membuat jantungku berdetak lebih kencang. Aku tak bisa mendengar suara keras, apalagi melihat orang bertengkar. Badanku bergetar, dengan keringat dingin di telapak tangan.


Beberapa menit aku tidak beranjak dari tempatku berdiri. Menarik napas panjang hingga aliran darahku kembali normal.


"Sintia ... Sintia!" Aku memanggil Sintia sambil mengetuk pintu.


Aku memberanikan diri mendorong pintu yang tak terkunci. Sintia tampak kalut. Dia duduk tertunduk di tepi tempat tidur.


"Aku kurang apa, Ning? Kurang apa?" Perempuan dengan tubuh proporsional itu bergumam.


Aku mendekatinya dan mengambil tempat duduk di samping Sintia.


"Kamu tidak kurang sesuatu apapun. Hanya lelaki serakah yang menginginkan orang lain setelah memilikimu," hiburku.


"Si Risman itu memang brengsek! Tak tahu diuntung!" hardik Sintia, matanya berkilat penuh amarah dengan tangan mencengkram kuat seprei di sisinya.


Aku segera berdiri, rasa takut kembali menguasai hatiku.


"Arghhh ...!" Sintia mendorong gelas di atas nakas, gelas itu jatuh tanpa ampun, membuat suasana di kamar semakin mencekam. Serpihan kaca berhamburan di atas lantai, mengancam kaki-kaki telanjang yang tak sengaja menginjaknya.


Pikiranku buntu. Aku tak punya ide untuk menenangkan Sintia. Ingin segera berlari tapi tak tega meninggalkan Sintia dalam kondisi kacau seperti ini.

__ADS_1


Emosi Sintia semakin tak terkendali. Dia seolah telah kehilangan akal sehatnya. Meraung, memaki hingga melemparkan benda-benda di sekelilingnya. Aku tak bisa bertahan lebih lama dan segera keluar mencari bantuan.


"Bang Rafi, tolong!" Aku memanggil Bang Rafi dengan kencang. Jarak kami terpaut lebih dari seratus meter. Bang Rafi yang melihatku panik segera berlari menghampiri.


"Ada apa Ning? Bang Rafi menodongku dengan pertanyaan. Matanya tajam menatapku.


"Sintia, Bang." Aku menarik tangan Bang Rafi dan mengajaknya melihat Sintia.


Bang Rafi meraih tangan Sintia yang akan melemparkan botol parfum ke dinding. "Tenang, Sin! Tenang! Bang Rafi mengguncang tubuh Sintia. Ibu muda itu kemudian berbalik dan memeluk Bang Rafi sambil menangis.


Dadaku panas, aku tak rela Bang Rafi sedekat itu dengan perempuan lain.


"Abang kamu jahat Fi ... jahat!"


Bang Rafi mendorong tubuh Sintia perlahan hingga mereka kembali berjarak.


"Kamu kenapa, Sin?" tanya Ibu dengan mata membesar.


Sintia menatap Ibu dengan sendu. Aku berinisiatif mengambil Marisa dari pangkuan Ibu dan segera keluar mengambil air minum untik Sintia.


Setelah Sintia tenang, dia bercerita tentang kondisi keluarganya yang tidak sebaik yang terlihat. Bang Risman bukan tipe lelaki setia, dia kerap kali menggandeng perempuan lain dan bermain api. Sudah beberapa kali Sintia memaafkan, tapi sebanyak itu pula Bang Risman mengulangi kesalahan yang sama.


Sebenarnya aku tak heran. Dari cara Bang Risman menatapku, aku sudah menduga jika dia lelaki jelalatan, playboy cap ikan terbang!


Ibu tampak menghela napas.


"Ibu tahu rasanya, Sin. Ibu tahu," lirih Ibu.


"Dari ketiga anak Ibu, Risman memang yang paling mirip dengan ayahnya. Bukan hanya wajahnya, tapi juga sipatnya. Tapi Ibu harap kamu tidak mengulangi kesalahan Ibu," ucap Ibu dengan rahang yang mengeras. Ia beberapa kali menghela napas.


"Suruh saja Bang Risman melepaskan Sintia, Bu. Sintia bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Bang Risman!' sengit Sintia.

__ADS_1


"Duduk sini, Ning," ucap Ibu. Aku yang berdiri sejak tadi melangkah mendekati Ibu dan Sintia, mataku awas mengamati lantai, takut menginjak pecahan gelas yang masih berserak di lantai. Aku menggeser kursi rias dan duduk di hadapan mereka berdua. Bang Rafi telah keluar mencari Bang Risman.


"Ibu akan menceritakan sesuatu dan harus kalian dengar agar tidak mengalami kesalahan serupa," tutur Ibu.


Dari cerita Ibu, sipat Ibu dulu ternyata tak jauh beda dengan Sintia. Merasa memiliki segalanya, dan tidak terima saat ayah ternyata mendua. Ibu mengambil cara kasar hingga ayah yang telah jauh semakin jauh dan akhirnya pergi meninggalkan Ibu dan ketiga anaknya.


"Berpisah itu mudah, Sin. Yang sulit itu adalah berubah. Bicaralah dulu dari hati ke hati, saling jujur dengan kekurangan masing-masing."


Aku lebih banyak diam, walaupun Ibu menyebut-nyebut namaku di depan Sintia, aku tak berniat untuk ikut menasihati Sintia, merasa tidak kompeten.


Sintia mencurahkan semua kesal dan amarahnya kepada Ibu. Ibu pun lebih banyak diam mendengarkan. Sesekali mengusap punggung Sintia, memegang tangannya atau membenarkan anak rambut Sintia yang berantakan. Ibu tampak sangat bersimpati, mungkin dia merasa melihat gambaran dirinya di masa lalu.


Hampir satu jam, kami saling bicara sebelum Bang Risman dan Bang Rafi tiba di rumah. Jadilah hari itu Ibu mensidang Bang Risman dan Sintia.


Bang Risman hanya tertunduk lesu saat dimarahi Ibu. "Kamu ingat Man, bagaimana nasib kamu setelah ditinggalkan ayah kamu? Kalau saja Ibu tidak menebalkan muka meminta bantuan Rumana dan bersusah payah mencari uang. Kamu, Kakak dan adikmu sudah mati kelaparan! Sekarang kamu mau anak-anak kamu bernasib sama, Hah?" sentak Ibu, dia terlihat sangat emosional. Suara Ibu bergetar dengan air mata menggenang. "Kevan dan Kevin mungkin tak akan kelaparan, tapi tetap saja mereka tidak hidup dengan baik di tengah--tengah orang tua tang bermasalah, apalagi jika sampai berpisah."


"Risman memang salah Bu, tapi tanya juga Sintia. Apa dia sudah menjadi istri yang baik?" Bang Risman berusaha membela diri.


Suami istri itu saling membeberkan aib masing-masing. Saling menuntut dan saling menyalahkan. Aku dan Bang Rafi hanya menjadi wasit, menjaga agar perbincangan panas ini tidak sampai keluar jalur.


"Terus mau kamu apa, Man?" tanya Ibu, setelah Bang Risman mengeluhkan sipat-sipat buruk Sintia.


"Risman hanya ingin dihargai sebagai suami," lirih Bang Risman dengan suara hampir tak terdengar. "Hati Risman panas saat mendengar kata-kata kasar Sintia. Walaupun penghasilan Risman tidak sebesar Sintia. Risman bukan pengangguran yang meminta makan pada Sintia, Risman juga punya harga diri."


Kali ini giliran Sintia yang tertunduk. Dia tidak bisa membela diri. Baru beberapa jam saja aku bersama Sintia sudah merasa jengah. Apalagj Bang Risman yang telah puluhan tahun bersamanya.


"Tindakan kamu tetap tidak bisa dibenarkan, Man. tapi, alangkah baiknya jika Sintia juga mau berubah." Ibu mencoba menengahi.


"Tuh, lihat Ning," tunjuk Ibu.


ketiga pasang mata beralih menatapku.

__ADS_1


Memangnya aku kenapa?


__ADS_2