
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_45
Aku hanya membisu mendengar pertanyaan Pak Rahardian Husein, merasa tak perlu bicara banyak dengan orang yang baru pertama kali bertemu itu. Bagiku, dia adalah orang asing.
"Sampaikan padanya, ayah ingin sekali bertemu, Ayah ingin kembali." Suara itu terdengar sangat jelas dan tegas, tak ada sedikit pun keraguan dari kalimat yang barusan diucapkan.
Aku hanya mengangguk lalu berdiri dan menggeser kursi dengan pelan, ingin segera pergi dari hadapan lelaki ini, takut Ibu dan Bang Rafi akan marah.
"Ayah antar kamu ya? kasihan Marisa."
"Saya bisa pulang sendiri, Pak," menjawab seformal mungkin.
Lelaki di hadapanku menyeringai. "Baiklah, saya memang tak pantas menganggap diri saya sebagai bagian dari keluarga kalian, saya permisi."
Pak Rahardian mengenakan kaca mata hitamnya lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu meninggalkanku dan Marisa. Ada sedikit rasa bersalah yang menelusup di hatiku. Tapi, aku harus tetap bersikap hati-hati dan waspada, biar bagaimanapun aku tak tahu banyak tentang orang itu.
Kata Bang Rafi, ayahnya adalah lelaki tukang selingkuh yang tak bertanggung jawab. Dia meninggalkan Ibu demi perempuan lain. Tak pernah datang, bahkan untuk sekedar menanyakan kabar.
Tapi, melihat orang yang tadi berbicara di hadapanku, rasanya penilain Bang Rafi itu berlebihan. Ah, pusing juga menerka-nerka, lebih baik aku menyelesaikan urusanku dan segera pulang. Jika keduluan Ibu bisa berabe.
Aku memasuki mini market. Mulai memilih barang belanjaan yang kubutuhkan. Beberapa kali aku mengambil lalu meletakkan kembali barang yang ada di keranjang, takut tak kuat membawanya berjalan. Rumah Ibu memang tidak dilalui angkutan umum.
Marisa tampak bersemangat saat melihat banyak barang warna-warni, tangannya mencoba meraih barang yang menarik perhatiannya.
"Mau ini ya, Nak? Aku menunjukkan biskuit bayi pada Marisa. Ia pun menyambutnya dengan riang.
Selesai belanja, aku berjalan ke arah kasir untuk membayar. "Dedenya cantik sekali," sapa Mbak kasir dengan ramah. "Berapa bulan, Bu?" tanyanya.
"Jalan enam bulan," jawabku seraya membalas senyumnya.
Syahrazata, aku mengeja nama yang tertera di baju kasir itu. Nama yang bagus, cocok dengan wajah tirus dan hidung mancungnya, sepertinya ada keturunan arab, sama seperti Puji sahabatku. Aku merogoh saku gamis untuk membayar belanjaan, sedikit berpikir saat memegang gulungan tebal disakuku.
__ADS_1
"satu ... dua ...," gumamku sambil menghitung lembaran berwarna merah itu. "lima ratus ribu?" lirihku.
Itu uang dari Pak Rahardian. Dia membayar lebih dari dua kali lipat harga baju yang dibelinya. Aku jadi tak enak hati. Menyesal aku tak menghitung di hadapannya tadi. Biarlah, akan aku kembalikan nanti jika bertemu lagi.
Setelah selesai dengan transaksi, aku pun keluar dari mini market, kulitku meremang, kaget dengan perubahan suhu antara di dalam mini market dan di luar. Sepertinya hari ini matahari sedang bersemangat menghantarkan panasnya, peluh bercucuran di dahiku.
Kakiku berjalan pelan, sesekali menghentikan langkah untuk sesaat meletakkan beban atau membenarkan gendongan.
Tin ...
Suara klakson panjang mengagetkanku.
"Naiklah, apa kamu nggak kasihan sama Marisa?"
Egoku memaksaku untuk terus berjalan, tapi nuraniku sebagai seorang ibu terusik saat melihat pipi putih Marisa yang berubah merah. Payung yang kubawa tak bisa melindungi kulit Marisa dari panasnya udara.
Aku pun berhenti berjalan, Pak Rahardian keluar untuk membukakan pintu dan mempersilahkanku masuk. "Ayo, Ayah antar sampai ke rumah." Aku pun masuk mobil dan duduk di samping tempat ia mengemudi.
"Ambilah, Nak. Apa Ayah seburuk itu dimatamu? Jika kamu menganggap Ayah ini orang asing, anggap saja itu ongkir karena kamu telah repot-repot mengantar pesanan Ayah," pungkasnya.
Aku menggigit bibir mendengar penuturan Pak Rahardian, tak tega melihat wajah muramnya dan kembali memasukkan uang itu ke dalam saku.
Marisa terus berceloteh, dia sangat senang saat aku dudukkan di pangkuan, tangannya menepuk-nepuk dashboard hingga menimbulkan suara gaduh.
"Haha ... Marisa senang ya, jalan-jalan sama Opa?" Pak Rahardian tampak bahagia melihat Marisa, senyum tulusnya membuat rasa curigaku hilang perlahan.
"Kamu tak adil jika menilai Ayah hanya dari cara pandang Ibu dan Rafi atau bahkan Rizal dan Risman. Ada banyak alasan dibalik semua peristiwa yang terjadi. Kamu netral, dan kamu akan bisa menilai dengan bijak," tutur Pak Rahardian.
"Saya tidak paham, Pak."
"Jadilah juru damai, Nak. Jika harapan Ayah terlalu tinggi untuk bisa kembali bersama dengan Ibumu, setidaknya Ayah tidak selalu dipandang buruk oleh Rizal, Risman dan Rafi."
Pak Rahardian menatap lurus dengan rahang yang mengeras. Dia sedang menahan sendiri perasaannya. Perasaan yang entah harus dinamai apa.
__ADS_1
"Berhenti di depan sana, Pak." Aku menunjuk rumah Ibu. Pak Rahardian menghentikan mobilnya tepat di depan rumah. Aku segera turun dan mengucapkan terima kasih.
"Sampaikan salam untuk ibumu," ucap Pak Rahardian. Aku pun mengangguk dan berdiri hingga mobil itu melaju.
Aku mengayun langkah ringan memasuki rumah, baru juga membuka sendal, suara khas itu sampai di telingaku.
"Darimana kamu?" Ibu menyambutku di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada.
"I ... Ibu sudah pulang?" tanyaku gelagapan.
"Ditanya ko malah balik nanya. Darimana kamu? "
"CODan sama customer, Bu sambil belanja diapers Marisa, sudah habis." Aku berbicara dengan lebih tenang.
"Yang nganter kamu itu siapa?"
Aduh, rupanya Ibu melihatku turun dari mobil. Harusnya tadi aku minta Pak Rahardian berhenti agak jauh dari rumah Ibu.
"Itu tadi customernya Bu, dia kasihan karna Ning bawa Marisa, jadi dia antar sampai rumah."
"Lain kali nggak usah COD sendiri, suruh aja Susi!" tutur Ibu sambil meraih Marisa dari pangkuanku.
"Atau kasih alamat sini, biar pembelinya saja yang datang ke sini," imbuhnya.
"Ya, Bu," ucapku.
Ibu itu sebenarnya perhatian, tapi pembawaanya yang judes membuat bicaranya selalu tak enak didengar.
Aku pamit ke kamar, membuka jilbab dan merapikan belanjaan yang kubeli. Pikiranku tak bisa lepas dari ayah Bang Rafi itu.
Awalnya aku kira Pak Rahardian itu seperti lelaki di film azab ayah yang jahat. Lelaki tua miskin yang datang ke istri pertamanya karena telah ditelantarkan perempuan pilihannya. Tapi, aku salah besar. Dia lelaki matang, mapan dan sejahtera. Bagi orang yang kenal dangan Bang Risman, pasti akan langsung mengenali Pak Rahardian sebagai ayah Bang Risman, mereka sangat mirip, mulai dari raut wajah, gestur tubuh juga suara dan cara mereka bicara. Tampang-tampang tukang tebar pesona.
Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, Mengapa Ibu dan Pak Rahardian berpisah? Aku akan mencari tahu dari Ibu dan Bang Rafi.
__ADS_1