
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_12
Tanganku bergetar membaca pesan dari Ibu. 'Mungkinkah Bang Rafi akan melepasku?' Aku bertanya di dalam hati.
"Ning, ini bayi cantikmu udah selesai mandi." Aku buru-buru mengusap mata saat mendengar suara Ibu.
Marisa masih berbalut handuk, wangi lembut sabun bayi menguar dari tubuhnya. "Ini, kamu kasih mimi dulu, sebelum dipijit, nanti biar Mamah yang dandanin," tutur Mamah. Aku mengangguk dan meraih tubuh Marisa.
Bayi dua minggu itu begitu manis, kulitnya yang halus berkeriput, terasa lembut saat kusentuh. Lahap sekali dia menghisap, mungkin ASIku kali ini nikmat dan bernutrisi, beda jauh dengan ASI yang diminumnya saat di rumah Ibu, hanya saripati mie instan.
Marisa melepaskan sendiri hisapannya, pertanda perutnya sudah kenyang. Aku memberikannya pada Mamah untuk dipakaikan baju. Sengaja aku menyusui Marisa sebelum ia berpakaian, skin to skin antara Ibu dan bayi sangat efektif membangun bonding. Itu kata Bu Bidan di posyandu.
"Assalamualaikum...." Terdengar seseorang mengucapkan salam di pintu depan. Aku beranjak dari kamar untuk melihat siapa yang datang.
"Yayu ...!"
"Ning!" Yayu menghambur kepelukanku. Tiga tahun aku tak bertemu dengannya, Yayu kini tampak begitu cantik.
Postur tubuh yang proporsional, tinggi dan berisi. Rok plisket dengan atasan kaos panjang yang digulung rapi bagian lengannya membuat Yayu terlihat manis. Yayu pun kini telah berhijab, wajah ovalnya terbingkai indah.
"Ayo masuk," ajakku sambil menarik tangannya. Yayu menurut dan mengikuti langkahku.
Setelah menyapa Mamah dan Marisa, Yayu memintaku untuk bersiap diurut. "Nanti ngobrolnya sambil diurut ya, biar gak kesiangan. Kamu kan belum makan, Ning," ucap Yayu.
Aku menyetujui saran Yayu, mengganti pakaian dengan sarung. Dan duduk membelakangi Yayu.
Aku mendengar dia membaca doa, Bismillah, istigfar, syahadat, dan sholawat lalu mulai memijat bagian bahuku. Urat syaraf ditubuhku terasa direnggangkan, sedikit perih dan sakit di beberapa bagian, kata Yayu itu karena ada bagian tubuh yang kaku dan peredaran darahnya tidak lancar.
"Aku kurus banget ya, Yu?"
__ADS_1
"Makan yang banyak, Ning, biar gendut kaya aku," seloroh Yayu.
"Kamu gak gendut ko, kamu itu sintal, berisi, ginul-ginul kalau kata orang sekarang. Pinter banget kamu jaga badan, Yu. Padahal anakmu udah dua kan?"
Yayu tersenyum sambil terus melakukan tugasnya. Yayu bercerita tentang kebiasaannya meminum ramuan-ramuan yang disarankan, Mak Nah, Ibu Yayu.
"Perempuan itu memang harus pinter merawat diri Ning, apalagi habis melahirkan. Kalau gak pandai bisa pecah kecantikannya. Ada loh, perempuan yang langsung tampak tua setelah melahirkan padahal usianya masih dua puluhan." Aku semakin antusias mendengar cerita Yayu.
"Walaupun sudah ada ilmu pengetahuan modern, pepatah orang tua zaman dulu juga jangan ditinggalkan. Makan kunyit, jahe atau temu kunci itu berkhasiat untuk membuat luka di rahim cepat sembuh. Mencuci ******** dengan daun sirih juga bagus. Karena mengandung antiseptik alami."
"Aku dulu digunting, Yu. Dijahit juga ," lirihku.
"Gak apa-apa, biasa itu mah. Luka digunting itu malah lebih cepat sembuh daripada robekan alami yang gak beraturan," ucap Yayu.
"Masalah gak?" tanyaku penasaran.
Yayu melirikku sambil menyunggingkan bibirnya, paham dengan arah pembicaraanku.
"Gak apa-apa, malah katanya ada yang merasa lebih nikmat setelah melahirkan karena dijahit itu. Ada juga yang bersikeras gak mau dijahit terus suaminya komplen." Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Yayu.
"Abu dari tungku, buat kamu duduk." Aku menatap Mamah heran, kemudian beralih pada Yayu. Yayu mengangguk.
"Nanti selesai diurut kamu duduk di atas abu ini, enak deh, hangat. Biar 'itu'nya cepat kering," tutur Yayu. Aku sih menurut saja pada yang sudah pengalaman.
Ini kedua kalinya aku diurut pasca melahirkan. Dengan Yayu bukan hanya badanku yang terasa rileks, tapi juga pikiranku. Curhat tentang pengalamanku melahirkan di rumah mertua ditanggapi Yayu dengan seksama, dia pendengar yang baik, asyik diajak curhat.
"Aku salah nggak, Yu?"
"Gak. Kamu memang harus mengambil keputusan. Tinggal di rumah mertuamu gak baik buat kesehatan kamu dan Marisa," bela Yayu.
"Bang Rafi?"
__ADS_1
"Coba nanti kamu hubungi dia, bicara dari hati ke hati. Komunikasi itu sangat penting bagi kelangsungan hidup berumah tangga."
"Kalau apa yang dikatakan Ibu benar, Bang Rafi memilih menceraikan aku gimana?"
Yayu tampak berpikir. "Berdoa pada Allah, memohon segala yang terbaik, untukmu juga untuk Marisa," pungkas Yayu.
Yayu pamit pulang setelah tugasnya sebagai tukang urut sekaligus tempat curhat selesai. Dia berjanji untuk datang lagi besok.
****
Aku kembali menatap layar ponsel yang tak dibawa Wening ke sekolah, berharap ada kabar baik dari Bang Rafi. Jika dia merasa kehilangan aku dan Marisa, seharuanya sudah sejak semalam ia menghubungiku.
Aku menekan lagi dua belas digit angka pada layar. Kulihat jam di dinding, tepat pukul dua belas siang, seharuanya kini Bang Rafi sedang istirahat dan bisa menerima telepon.
"Halo ... siapa ini?" Lagi-lagi terdengar suara selain Bang Rafi di sebrang telepon, tapi kali ini bukan suara Ibu.
"Ini siapa ya?" tanyaku.
"Loh, situ yang nelepon ko situ yang nanya."
"Saya Ayuning istrinya Rafi. Saya mau bicara sama suami saya," ucapku mulai emosi.
"Loh bukannya Rafi udah gak punya istri ya?" sergah wanita itu. Dadaku bergemuruh.
"Kamu siapa? Kenapa HP suami saya ada sama kamu, heh?" Aku mencoba menekan suaraku agar tak terdengar Mamah.
"Saya calon istri Rafi." Klik sambungan telepon terputus.
Aku mengusap wajahku dengan kasar. Menarik napas beberapa kali. Lalu duduk di atas kasur dengan ponsel Wening yang masih digenggaman. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku tak percaya Bang Rafi selingkuh, tak mungkin dia punya perempuan lain, aku baru meninggalkan rumah Ibu tak lebih dari 24 jam dan selama ini Bang Rafi selalu bersikap baik padaku.
Tapi, jika yang dikatakan wanita tadi itu benar, bagaimana?
__ADS_1
Aku merasa sakit berdenyut di kepala, telapak tanganku terasa basah. Apakah aku harus kembali ke rumah Ibu, demi menyelamatkan rumah tanggaku?
Bersambung