
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_28
Kuncinya ada pada Bang Rafi. Jika dia mau menikahi Ratih, tentu aku tak bisa berbuat apa-apa. Tapi, jika Bang Rafi tulus mencintaiku, itu sudah lebih dari cukup untuk melawan konspirasi yang tengah dilancarkan mereka berdua.
Pertanyaannya, benarkah cinta Bang Rafi sebesar itu?
"Hey! Ko malah ngelamun?" Bang Rafi mengibaskan tangannya di depan wajahku, aku terkesiap.
"Eng ... nggak," jawabku gelagapan.
"Abang ..., gimana rasanya hidup di tengah keluarga yang tidak utuh?"
Bang Rafi termenung, matanya memandang jauh ke depan, menembus pekatnya malam tanpa gemintang, tanpa rembulan.
"Tidak enak!" jawabnya. "Cukup Abang yang merasakan sakit dan kecewa hidup di keluarga broken home, Ning. Marisa tidak akan pernah merasakannya. Ada Abang dan Kamu, ayah dan bunda yang akan selalu membersamainya hingga dewasa," tandas Bang Rafi.
Aku berhasil mrnyentuh sudut terdalam hati Bang Rafi dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan besarku.
"Jika Ibu meminta Abang menikahi Ratih, apa yang akan Abang lakukan?" Aku bertanya kemudian menggigit bibirku, takut dengan jawaban yang mungkin diberikan Bang Rafi.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi," pinta Bang Rafi.
"Abaaang ...!" Aku menghentakan kaki, tak puas dengan jawabannya.
Bang Rafi menarik tubuhku. Membenamkan kepalaku di dada bidangnya.
"Bantulah Abang untuk selalu yakin bahwa tidak ada perempuan lain yang pantas di sisi Abang, selain kamu," lirih Bang Rafi.
Aku tak dapat lagi berkata-kata. Mencoba berpikir positif bahwa cinta Bang Rafi padaku sangatlah besar, tidak sebanding dengan pesona Ratih si janda kaya itu.
Pagi hari, saat Bang Rafi telah berangkat kerja, Honda brio berwarna silver milik Ratih masuk ke halaman. Ratih keluar dari pintu sebelah kanan dan Ibu dari pintu sebelah kiri, berjalan ke depan mobil kemudian saling berpegangan tangan hingga masuk rumah.
"Ning ...!" panggil Ibu.
__ADS_1
Aku yang sejak tadi memperhatikan mereka di balik jendela kamarku segera keluar untuk menemui Ibu.
"Ini buat kamu dan Marisa." Satu kantong plastik besar diberikan Ibu padaku. Aku meraihnya dengan senyum lebar.
"Dari Ratih," imbuh Ibu. Membuat sudut bibirku turun seketika.
Aku sudah bertekad untuk menjadi seperti yang Bang Rafi mau, tak boleh ada keributan. Aku harus bermain secantik mungkin. "Makasih ya Ratih ...," ucapku sedikit modus.
Ratih membalas senyumanku dengan lengkung bibir yang sangat tipis kemudian berlalu meninggalkanku.
Sejak ada Ratih, pekerjaanku menjadi ringan. Di bukanlah tipe putri keraton yang minta dilayani. Justru sebaliknya, kami menjadi partner yang baik dalam mengurus rumah. Dia sangat paham mengenai seluruh sudut rumah ini, di mana harus meletakkna garpu, sendok, kain pel, handuk bekas pakai, payung, juga pakaian-pakaian Ibu dan Bang Rafi. Ada rasa tak nyaman saat aku yang menantu resmi justru terlihat seperti tamu, sedangkan Ratih sebaliknya.
"Biar aku saja," cetusku saat Ratih hendak mencuci piring bekas makan malam kami.
"Nggak apa-apa aku sudah biasa, rumah ini adalah rumah keduaku. Dari dulu aku sering menginap di sini, menemani Ibu kalau sedang butuh teman. Apalagi saat kamu pulang tempo hari Ning, aku sudah seperti menantu di rumah ini," tutur Ratih. Membuat perutku tiba-tiba mual.
Aku diam mematung. Ah, benci rasanya seperti ini. Menjawab tidak bisa, berprilaku bar-bar dengan menarik jilban Si Ratih itu pun tidak mungkin, bisa kalah telak aku.
"Ya sudah lanjutin deh, aku mau ngelonin Marisa dan ayahnya dulu," ujarku. Berlalu sambil mengulum senyum.
Bang Rafi masih sibuk dengan game online kesukaanya. Kebiasaan buruk yang belum bisa dia ubah. Setiap ada waktu senggang, gadget adalah teman akrab Bang Rafi.
Aku berjalan melewati Bang Rafi yang sedang duduk di kursi meja rias. Menghampiri Marisa dan membenarkan letak selimut yang menutupi tubuhnya. Memandang wajah damai Marisa adalah rutinitas baruku saat ini.
Aku menghempaskan tubuhku di tempat tidur, entah apa yang terjadi setelah itu karena aku terlelap beberapa menit kemudian. Hingga suara ketukan keras di pintu membuat mataku terpaksa terbuka kembali.
"Rafi! Rafi ... Buka Fi! Itu suara Ibu.
Kepalaku terasa berdenyut nyeri, pusing karena tiba-tiba terbangun. Bang Rafi pun sama terkejutnya, dia terlihat berusaha mengumpulkan kesadaran dengan memijat pelipisnya. Jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Aku mendahului Bang Rafi beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. "Mana Rafi?" tanya Ibu sambil mendorong tubuhku.
"Ayo tolongin Ratih!" Ibu menarik tangan Bang Rafi. Bang Rafi bangun dan berjalan cepat ke arah kamar Ratih. Aku pun tak mau ketinggalan, mengikuti mereka dengan langkah lebar setelah memastikan Marisa cukup aman untuk ditinggalkan.
Ratih sedang menangis sambil memegangi perut. Dia terlihat sangat kesakitan.
__ADS_1
Bang Rafi hendak meraih Ratih tapi, aku segera menarik tangannya. "Biar Ning saja," ucapku sambil melirik tajam ke arah Bang Rafi. Bang Rafi mundur satu langkah, memberikanku jalan untuk menghampiri Ratih.
"Kamu kenapa?" Aku memegang bahu Ratih yang sedang meringkuk memegangi perut.
"Sakiiittt ...," lirih Ratih dengan bibir bergetar.
Aku membaringkan Ratih, merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya. Keringat dingin keluar membasahi dahi Ratih.
"Bang, tolong ambilkan air panas pake botol!" pintaku pada Bang Rafi. Suamiku yang masih tampak mengantuk itu mengangguk kemudian keluar dari kamar Ratih.
Aku memegang telapak tangan Ratih yang terasa dingin. Menggosok-gosoknya dengan tanganku. Air mata Ratih terus mengalir, dia menggigit bibir untuk meredam rasa sakit yang tengah dirasanya.
Aku beralih memijat kaki Ratih, telapak kakinya juga begitu dingin.
Bang Rafi datang dengan botol yang berisi air panas, aku membungkusnya dengan ujung selimut dan meletakkan botol itu di atas perut Ratih.
"Pegang ini." Aku menarik tangan Ratih hingga berada di atas botol air panas. Napasnya mulai teratur, dan dia terlihat lebih nyaman. Ibu membetulkan letak bantal dan mengusap kening Ratih dengan lembut.
"Ibu punya paracetamol?"
"Aku punya," jawab Ratih, pelan.
Aku mengambil obat pereda rasa sakit itu di tempat yang ditunjukkan Ratih kemudian membantu Ratih meminumnya. Selang beberapa menit Ratih sudah tidak lagi mengkhawatirkan, dia tidur sambil memeluk botol air panas ditemani Ibu di sampingnya.
Aku menarik lengan Bang Rafi dan mengajaknya kembali ke kamar. "Itu Ratih kenapa?" tanya Bang Rafi.
"Dia mau datang bulan," ucapku.
"Ko, kamu ngerti?" selidik Bang Rafi.
"Puji, teman kost Ning dulu suka begitu," jelasku.
Bang Rafi membulatkan mulutnya dan merangkul bahuku, kami kembali naik ke atas kasur untuk melanjutkan tidur.
'Apa Ratih memiliki penyakit yang sama seperti Puji?' batinku.
__ADS_1