Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Anak Sulung


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part36


Aku melanjutkan memutar-mutar kapas yang telah dibasahai toner pada wajah. Menghilangkan rasa berat bekas riasan yang tadi siang aku pakai.


"Jangan senyum-senyum terus dong, bikin penasaran aja!" sengitku saat melihat bayangan Bang Rafi pada cermin.


Bang Rafi melangkah dan menyentuh pundakku. "Makasih ya," ucapnya sambil mengecup pipi kananku.


Mataku membulat. "Ish, mesum!" padahal dalam hati aku ingin berkata, 'yang kirinya juga minta dicium.' Tapi, mulut dan hati kadanh tidak bisa sinkron, jaim!


Bang Rafi lalu bercerita tentang obrolannya bersama kedua Abang yang malam ini sedanh menginap. Kata Bang Rafi, mereka memuji sipatku.


"Kata Bang Rizal, kamu itu istri patuh dan penyabar. Kata Bang Risman, kamu pasti tipe setia dan pekerja keras," tutur Bang Rafi.


Aku merasa besar kepala, ternyata para lelaki itu membicarakanku di balakang. Tapi, aku yakin, bukan hanya aku yang jadi topik pembicaraan, Kak Lisna dan Sintia pun pasti ikut dibahas juga.


"Maaf ya, Abang belum bisa bikin kamu bahagia," ucap Bang Rafi sambil melingkarkan tangannya di perutku.


"Ning bahagia, sangat bahagia," jawabku. Aku menyentuhkan pipiku pada pipi Bang Rafi yang terasa kasar karena rambut di wajahnya mulai tumbuh.


Aku kembali mengingat nasihat Kak Lisna, bahwa istri yang baik itu bukanlah yang selalu manut dan nrimo, tapi memiliki daya untuk memotivasi suami agar lebih giat bekerja dan mengembangkan seluruh potensinya.


"Tapi, Ning akan lebih bahagia jika Abang mau berubah," imbuhku.


Bang Rafi membalikkan tubuhku hingga wajahku tepat di hadapannya. Tinggi kami hanya terpaut dua cm hingga hidungku hampir tepat menyentuh hidung Bang Rafi.


"Apa Abang harus jadi Hulk?" Bang Rafi menatapku serius, tapi pertanyaannya membuat aku tak bisa menahan tawa.


"Abang tidak harus seperti Bang Rizal atau Bang Risman. Rezeki setiap orang sudah ada takarannya. Tapi, Ning ingin Abang memantaskan diri untuk rezeki yang lebih besar. Shalat tepat waktu, bekerja dengan giat, jeli melihat peluang. Abang bisa sharing dengan saudara Abang yang telah sukses, pasti mereka punya ilmu dan pengalaman yang bisa kita ambil hikmahnya."


"Ya ... cantik!" Bang Rafi menggesrkan hidung mancungnya pada hidung minimalisku.

__ADS_1


Kami melanjutkan obrolan di tempat tidur hingga aku tak ingat lagi kata-kata yang diucapkan Bang Rafi karena pelupuk terlalu berat untuk dibuka.


Beruntung hari Senin ini tanggal merah, semua berkesempatan untuk menikmati liburan panjang. Tapi, Bang Rizal dan keluarga telah berkemas untuk pulang, begitu juga Mamah. Aku melepas kepergian mamah dengan berat hati, merasa tidak cukup menjamunya, malah lebih banyak merepotkan. Tapi Mamah menenangkanku dengan senyum dan pelukan hangatnya. "Alhamdilillah, satu tugasmu sebagai orang tua telah selesai. Jadilah ibu yang sholehah Ning," pungkas Ibu sebelum dia melaju di atas motor Mang Jael yang menjemputnya.


Bang Rizal sekeluarga pamit kemudian. Aku memeluk Gio dengan gemas. "Nanti kita mandi sama bebek lagi, ya Tante?"


"Siap jagoaaannn ...." jawabku sambil mengacak rambutnya.


Aku pun menyalami Kak Lisna. Menyentuhkan pipiku pada pipinya sambil berbisik, "makasih ya, Kak." Kak Lisna mengangguk dengan senyum ketus yang selalu jadi ciri khasnya.


"Adakah yang bisa membuatkanku kopi?" teriak Sintia dari kamar.


Aku menghela napas. Pasti dia meminta aku yang membuatkan. Tak mungkin pada orang lain.


"Sini dulu Mih, ini Bang Rizal mau pulang," pinta Bang Risman.


Sintia datang dengan langkah yang elegan, kaki jenjangnya jelas terlihat karena mini dres yang dikenakannya hanya menutup hingga setengah paha.


"Sudah mau pulang?" tanya Sintia basa-basi.


"Ya, pamit ya Sin," ucap Bang Rizal mengambil inisiatif karena Kak Lisna terlalu cuek.


"Oh, ya udah ...." pungkas Sintia seraya membalikan badan dan kembali ke dalam rumah. Meninggalkan kami yang terheran-heran dengan sikapnya.


Bang Risman terlihat kikuk, ada semburat merah di wajah bersihnya. Mungkin dia tak enak hati pada keluarga Bang Rizal.


"Gio mau cium Ade Marisa nggak?" Aku meninggikan suara demi memecah kekakuan diantara kami.


"Mau!" ucap Gio dengan Riang.


Kami semua tertawa melihat tingkah lucu Gio yang menciumi Marisa dengan gemas.


Sesaat sebelum Kak Lisna naik ke mobil, Ibu datang dengan membawa sebuah kardus. Kak Lisna mengurungkan langkahnya dan berbalik menemui Ibu.

__ADS_1


"Ini buat di rumah," tutur Ibu sambil menyerahkan kardus bekas mie inatan pada Kak Lisna. "Kalau nggak suka, kasih aja ke tetangga," imbuh Ibu. Aduuuhhh aku geregetan, kenapa Ibu selalu begitu.


Untung saja kali ini Kak Lisna sedang dingin, dia tidak menyambar seperti petasan yang disulut sumbunya. "Makasih ya, Bu." jawab Kak Lisna sambil menyalami Ibu.


Seharusnya Kak Lisna bisa menjawab lebih panjang, pake lif service begitu, tapi memang dasarnya sama-sama keras, mau gimana lagi? Tidak perang juga sudah Alhamdulillah.


Giliran Bang Rizal dan Gio yang menyalami Ibu.


"Sering-sering ke sini Zal, kamu kan bukan hanya suami dan ayah tapi juga masih anak Ibu," lirih Ibu. Kali ini kata-katanya mencubit hatiku.


Raut wajah Bang Rizal berubah sendu. "Ya, Bu. Rizal janji akan sering nengokin Ibu." ucap Bang Rizal.


Ibu berlalu sebelum mobil yang dinaiki Bang Rizal sekeluarga meninggalkan halaman. Aku menangkap kepedihan pada mata Ibu. Sekeras-kerasnya watak Ibu, dia tetaplah seorang ibu.


Bang Rizal adalah anak sulung Ibu, tentunya rasa sayang Ibu pada Bang Rizal amatlah besar. Mungkin sikap kasar Ibu adalah salah satu cara untuk mengeraskan hatinya agar tidak terlalu tersiksa menanggung rindu.


Aku segera menyusul Ibu setelah mobil Bang Rizal lepas dari pandangan. Ibu tengah mengelap kompor yang sesungguhnya telah bersih dan mengkilap.


"Ibu mau minum teh?"


"Kamu juga pasti memilih pergi dari sini dan ninggalin Ibu," lirih Ibu tanpa menjawab pertanyaan yang kuberikan.


"Kalau boleh, Ning akan terus disini nemenin Ibu."


Ibu menyimpan kanebo di tangannya tapi masih setia membelakangiku.


"Bang Rafi kan anak bungsu. Kata orang, nasib anak bungsu itu sebagai penunggu rumah. Ning janji tidak akan mengajak Bang Rafi pergi jauh dari Ibu," ucapku tulus. Aku sadar harus menguatkan hati untuk hidup satu atap dengan Ibu. Tapi, aku tak kuasa melihat wajah sedih Ibu dan membayangkan hari-hari sepinya tanpa keluarga yang ia cinta.


Ibu tampak mengusap sudut mata dengan lebgan bajunya, kemudian berbalik dan meraih Marisa. "Ayo kita jalan-jalan, Nak." Ibu menciumi pipi Marisa penuh kasih. Aku hanya menatapnya dengan perasaan haru yang membuncah.


Ibu memang tak pandai bertutur kata dengan manis, tapi kita memiliki hati yang seharusnya dapat menangkap bahasa yang tidak terwakili kata-kata.


Tapi, masih ada bimnang di hatiku. Benarkah, aku akan kuat hidup bersama Ibu?

__ADS_1


__ADS_2