Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Ratih


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part_24


Untuk yang kedua kalinya di hari ini, aku menemui Bu Bidan Isti. Penampilannya jauh lebih bersahaja dibandingkan dengan tadi siang, mungkin karena sekarang sudah lewat jam dinasnya. Daster batik dengan kerudung langsung berwarna hitam kontras dengan warna putih kulitnya.


"Maaf, Ning menggangu malam-malan Bu Bidan."


Bu Bidan senyum ramah, masih semanis tadi siang. "Mau KB ya?" terkanya. "Selepas kamu pulang tadi, Ibu baru kepikiran, nggak nanya udah KB apa belum. Duh, maklum, faktur U," tuturnya.


Bang Rafi menunggu di bangku depan klinik, sementara aku berbicara panjang lebar dengan Bu Bidan Isti. Dia menyebutkan beberapa alternatif alat kontrasepsi mulai dari KB dengan pil, sunti, susuk dan IUD. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihannya tersendiri. Karena aku masih menyusui, Bu Bidan memberikan saran untuk KB dengan suntik per tiga bulan. "Ada yang satu bulan sekali, Ning. Yang ini bisa tetap haid dengan lancar tapi berpengaruh pada produksi ASI," jelasnya.


"Jangan Bu. Nggak apa-apalah kalau haidnya nggak lancar, asal bisa tetep menyusui Marisa dengan tenang," jawabku.


Setelah sekian kali mengalami disuntik, baru kali ini, aku tidak merasakan sakit. Rupanya Bu Isti punya keterampilan mumpuni di bidang ini, jarum suntik hanya dibiarkan menempel di bagian tubuhku hingga obat di dalamnya habis tanpa menekan bagian alat suntiknya.


"Sudah," pungkas Bu Isti, sambil mencabut jarum suntik dan mengusap bagian tubuhku dengan kapas yang basah dan terasa dingin.

__ADS_1


Bang Rafi masuk untuk membayar biayanya dan kami pun pamit untuk pulang.


"Bang, mau punya anak berapa?" Iseng aku bertanya.


"Lima, cukup," jawabnya asal.


Aku mencubit lengannya yang sedang aku pegang. Dia mengaduh, aku tertawa.


"Berapa pun anak kita, yang penting Ibunya tetap aku!"


"Ratih?"


"Nggak usah bahas tentang dia, nggak penting. Lagian hubungan kamu dan Ibu tampaknya sudah lebih baik. Makasih ya ...." Bang Rafi menarik bahuku hingga kami berjalan dengan bahu saling bersentuhan


Cheesecake buatan aku dan Ibu terhidang di meja saat kami tiba. Ibu telah masuk kamar dengan lampu yang telah padam, Marisa tidak ada, mungkin di bawa Ibu ke kamarnya.


Setelah menikmati beberapa potong kue, aku meminta Bang Rafi untuk mengambil Marisa dari kamar Ibu dan segera beristirahat. Sementara aku, merapikan peralatan bekas membuat kue. Mencucinya, dan menyimpan kembali ke tempat asalnya.

__ADS_1


Bagiku, lelah fisik itu biasa. Mungkin akan terasa linu saat bangun tidur, lalu akan kembali segar begitu terguyur air. Yang penting tidak makan hati, jika perasaan happy, pekerjaan rumah seberat apapun bagiku tak masalah.


Beberapa hari aku bisa menyikapi sikap Ibu dengan santai. Ibu memerintah, aku turuti. Ibu marah, aku manut aja, Ibu nyerocos, aku mendengarkan dengan takdzim hingga tidak ada keteganhan berarti sampai pada suatu sore, kami kedatangan tamu tak diundang.


"Ibu ...!" Seorang wanita seusia Bang Rafi menerobos dari arah pintu dan langsung memeluk Ibu.


Aku yang tengah menjerang air untuk mandi sore Marisa hanya memperhatikannya dari kejauhan. Seorang wanita bergamis polos warna coklat dibalut kardigan panjang warna moka dengan kerudung senada tampak akrab sekali dengan Ibu.


"Ini Ratih bawa oleh-oleh buat, Ibu." Gadis itu memberikan bungkusan pada Ibu.


Apa tadi dia bilang? Ratih? Oh, ini Ratih calon menantu idaman Ibu? Mati aku! Kukira dia gadis norak, genit, berpenampilan seronok ala-ala pelakor di #Kampung_Pelakor. Ternyata dia gadis cantik, berpenampilan sopan tapi elegan. Benar kata Ibu, dia memiliki kasta jauh di atasku.


Dadaku berdebar, aku melihat penampilanku dari ujung kaki sampai semua bagian yang dapat kulihat. Daster batik tanpa lengan dengan wajah kucel berminyak. Rambut diikat asal. Ah, minim nilai jual! Minder aku! Aku bermaksud mencuci muka di kamar mandi, untuk membuat wajahku sedikit segar tapi Ibu terlanjur memanggilku.


"Ning!"


Aduuuhhhh ....

__ADS_1


__ADS_2