
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_41
Aku terbangun saat mendengar notifikasi pesan masuk. Kuraba ponsel yang berada di tumpukan baju Marisa dengan mata yang belum terbuka sempurna dan kesadaran yang belum penuh.
Sejak rajin berbalas pesan dengan Akmal, tidurku tak lagi nyenyak, sering was-was dan parno sendiri. Takut Bang Rafi atau Ibu memergokiku. Begini banget perasaan orang yang bikin dosa.
Aku pun sering terlambat bangun karena kurang tidur malam. Biasanya, aku telah menanak nasi, menjerang air dan menyalakan mesin cuci saat adzan subuh berkumandang. Tapi belakangan ini, aku hanya bangun jika Ibu telah menggedor pintu dengan keras sambil berteriak, "Ning ... kamu mau bangun jam berapa?"
Kebayang nggak malunya aku, si menantu yang keduluan bangun sama mertua? benar-benar aib!
Dan ternyata kesalahanku ini pun ikut berimbas pada Marisa. Marisa sering rewel karena ASI yang kuproduksi pun tidak sebanyak biasanya. Ah, Akmal benar-benar racun!
Setelah beberapa minggu ngobrol lagi dengan Akmal, cinta pertamaku yang kandas itu, aku menjadi tahu, mengapa Allah tidak membuat aku berjodoh dengannya. Akmal itu pria yang hedonis, gila popularitas dan suka tebar pesona. Semua puisi indah yang kukira dia tunjukkan untukku, nyatanya ramai dengan komentar kaum hawa, dan ditanggapi Akmal dengan kata-kata yang membuat para penggila itu semakin baper. Bisa mati berdiri aku jika benar-benar menjadi istrinya.
[Ko, nggak bales, tidur ya?]
Aku membaca pesan Akmal tanpa hati. Tak lagi antusias seperti saat pertama-pertama dulu dia menghubingiku.
[Aku nggak bisa balas pesan kamu lagi, Mal]
[Karena Rafi?] selidiknya.
[Karena aku]
[Ada apa sama kamu?]
__ADS_1
[Tidurku keganggu, sementara aku punya bayi yang membituhkan energi banyak] Balasku diplomatis. Aku sengaja tidak membahas masalah hati, karena obrolan Akmal selama ini pun tak pernah membahas tentang isi hatinya. Aku takut kena prank untuk kedua kalinya jika terlihat terlalu geer di hadapannya.
[Tapi, sebenarnya kamu suka kan sama aku?]
Isi pesan dari Akmal membuat rasa tak nyaman di dalam perut, mual! Dasar lelaki kegedean kepala. Mungkin dia merasa memiliki pesona seperti anak sultan hingga mengira semua orang akan suka kepadanya.
[Nggak] jawabku tegas.
[oh, ya udah]
Dan ... aku diblokir.
Aku membulatkan mulut melihat tanda garis pendek sebagai penegasan bahwa Akmal benar-benar memblikir akunku, dasar cecurut! Aku sebal dan kecewa tapi lebih dari itu aku merasa sangat lega. Setidaknya aku tak harus bersusah payah menata hati, karena aku yakin rasa yang tersisa kini untuk Akmal adalah rasa benci tanpa menyisakan simpati sedikit pun.
"Alhamdulillah." Aku mengucap syukur. Ternyata Akmal memang sesangklek dulu, dia hanya berniat mempermainkan perasaanku. Beruntung aku tidak berlebihan dalam menghadapi semua gombalannya selama ini.
Aku mengusap wajah. Rasa kantukku menguap entah kemana. Segera kuhapus riwayat chatku dengan akmal, menghilangkan jejak kekhilafanku selama ini. Rasa bersalah menelusup dalam hati, hingga terasa perih dan menyiksa. Jika dosa masih membuat rasa tak nyaman di dalam hati, berarti Allah masih melindungi hatiku dan tidak membuatnya mati. Aku yakin, hidayah ini salah satunya karena doa-doa Mamah di sana. Mamah selalu mendoakan kebaikan untukku.
Aku mengusap lembut pipi Bang Rafi. pelupuk mataku memanas hingga tak kuat lagi menahan air mata dan membiarkannya jatuh bersama dengan rasa bersalahku karena telah berani berdua-dua dengan selain suamiku, walaupun sebatas maya.
Bang Rafi kini telah banyak berubah. Dia menjadi lebih peka dan penyayang. Selama di rumah tak pernah sekali pun dia melewatkan waktu sholat, semoga di luar rumah pun sama seperti itu. Bang Rafi pun sekarang lebih bijak dalam menghadapi masalah. Dia telah banyak menunjukkan perubahan positif, tapi aku malah bermain curang di belakangnya.
"Ya ... Allah ... aku menyesal," lirihku.
Aku menggigit bibir, takut Bang Rafi mendengar isakanku. Aku mengeringkan jejak basah di kedua pipi lalu mengecup mata Bang Rafi, kiri dan kanan.
Bang Rafi mengerjap, lalu menatapku heran sambil merentangkan kedua tangannya. "Peluk!"
__ADS_1
Aku tersenyum lalu menjatuhkan diri di atas dadanya. Menghirup cinta sejati pada tubuh lelaki yang menjabat tangan Bapak dengan erat saat mengucapkan ijab kabul itu.
Aku merasa cukup dengan kelaki ini, lelaki yang telah Allah takdirkan menjadi pasanganku yang tak akan sebanding dengan lelaki manapun bahkan dengan seribu Akmal.
Ujian datang sebagai pembuktian cinta. Karena yang sejati adalah yang paling kuat bertahan. Dan kini perasaanku pada Bang Rafi bertambah berkali lipat. Semakin cinta ...
****
Aku bisa kembali bangun pagi dengan semangat. Marisa yang bertumbuh dengan cepat selalu melecutkan semangat baru setiap harinya.
Pagi itu, aku menciumi Marisa dengan berderai air mata. Bersyukur karena Allah masih memberiku kesadaran saat kegilaan mulai melanda. Entah apa jadinya jika aku mengejar rasa penasaran dan ketuntusan atas rasa yang belum usai di masa lalu, mungkin hidupku akan hancur hingga berkeping.
"Tumben, nggak kesiangan lagi," sindir Ibu.
Aku hanya mengangguk lalu menunduk. Takut jika Ibu bertanya lebih banyak, aku tidak mahir berbohong.
Ibu mengambil alih lap kecil di tanganku dan melanjutkan pekerjaanku mengelap kompor dan sisian tempat cuci piring. "Ambil air buat mandi Marisa!" pinta Ibu.
Akupun segera memenuhi permintaannya. mengambil dua gayung air di kamar mandi, menuangnya ke dalam panci dan menjerangnya di atas api kompor.
"Rafi itu nggak seperti ayahnya," cetus Ibu. Aku meletakkan handuk Marisa demi mendengar kata-kata Ibu selanjutnya.
"Rafi itu lelaki setia, Ning. Kamu seharusnya menjadi wanita paling bahagia karena memiliki suami yang tak pernah melirik perempuan lain," tandas Ibu.
Mataku kembali memanas. Aku menarik napas beberapa kali, menahan genangan air yang hampir tumpah di ujung mata.
"Ning sangat beruntung punya suami seperti Bang Rafi, Bu. Bang Rafi adalah anugrah." Suaraku bergetar menanggapi ucapan Ibu. Aku bersumpah di dalam hati tak akan pernah lagi bermain api.
__ADS_1
"Lalu, punya mertua seperti Ibu kamu anggap apa, musibah?" Ibu kembali nyinyir membuat aku kembali merasa di dunia nyata, bukan di dunia dongeng. Hidupku memang harus seunik ini, punya suami setia dengan ibu mertua luar biasa. Jika dua-duanya baik seperti inginku, tak akan bisa aku berkisah sepanjang ini, bukan?
"Ning, mau memandikan Marisa dulu, Bu." Aku gelagapan dan pamit pada Ibu sebelum urusan bertambah panjang.