
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_42
Marisa kini berusia lima bulan, dia sudah pandai merespon saat diajak bicara. Kakinya akan aktif menendang dengan mulut berceloteh, sesekali terdengar seperti orang menjerit saat dia antusias terhadap sesuatu.
Pertumbuhan Marisa itu relatif cepat, terutama dari segi motoriknya. Sejak usia tiga bulan dia sudah bisa tengkurap sendiri dan ketika anak lain belajar duduk di usia tujuh bulan, Marisa di usia lima bulannya sudah dapat duduk dengan tegak. Tapi, aku selalu menahannya dengan bantal, takut kalau dia tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
"Ibu dari mana?" Aku menyapa Ibu yang baru datang setelah menghilang beberapa saat.
Ibu tak menjawab pertanyaanku dan berjalan ke dapur dengan kantong besar di tangannya.
Aku masih asyik main bersama Marisa, dia tertawa-tawa saat aku menutup wajah dengan kedua tangan, dan membukanya tiba-tiba, bermain cilukba.
"Ayo, jalan-jalan," ajak Ibu pada Marisa. Di tangan Ibu ada mangkuk plastik kecil lengkap dengan sendok di atasnya.
"Itu apa, Bu?"
"Bubur bayi, anakmu tuh gigit-gigit mainan, lapar dia," cetus Ibu.
Aku terperanjat. "Marisa belum boleh makan berat, Bu. Belum enam bulan. Begitu kata Bu Bidan."
"Jangan segala kata bidan dituruti, Ning. Marisa itu udah mau makan, kasihan dia, kalau minum ASI aja nggak kenyang. Suami kamu Si Rafi, udah Ibu kasih pisang di umur tiga bulan. Nyatanya, seger-seger aja sampai sekarang."
Aku dilema. Ibu itu sulit dibantah, bisa runyam urusannya jika tak patuh pada perintah Ibu. Tapi, sedangkal pengetahuanku, bayi memang belum boleh diberi makanan selain ASI sebelum usianya enam bulan, pencernaanya belum siap.
Aku menarik napas panjang dan mempersiapkan diri dengan kemungkinan terburuk, demi Marisa.
"Sekarang kan zamannya beda, Bu. Ning takut pencernaan Marisa belum kuat buat makan berat begitu, tunggu bulan depan ya?"
Ibu menyimpan mangkuk di tangannya dengan kasar, hingga menimbulkan suara keras saat mangkuk itu menyentuh meja kaca.
"Terserah kamu! Itu memang anak kamu! Urus aja sendiri, kalau perlu bawa pergi aja Marisa dari sini!" sentak Ibu. Dia membalikan badan, masuk ke kamar dan menutup pintu dengan kasar.
Mataku memanas, ada sedikit perih di dalam hati. Marisa menangis kencang karena mendengar suara keras yang membuatnya ketakutan.
"Sayang, nggak apa-apa Nak. Sini, Bunda gendong." Aku meraih Marisa dan membawanya ke kamar. Tangisnya reda saat kuberi ASI.
__ADS_1
Aku mendengar langkah Ibu pergi meninggalkan rumah. Aku menyesal telah berseteru dengan Ibu. Tapi, Marisa adalah anakku, aku harus melindunginya dari apapun yang membahayakan dirinya. Jangankan Ibu, harimau sekali pun, siap aku hadapi.
Temanku saat kerja di minimarket dulu namanya Marfuah. Dia terpaksa memberikan susu formula karena harus meninggalkan bayinya saat bekerja dan diasuh orang tua Marfuah di rumah.
Saat usia empat bulan, bayi Marfuah harus dioprasi karena ususnya tersumbat akibat larutan susu formula yang terlalu kental. Aku menangis mendengar cerita Marfuah saat itu, tak bisa membayangkan kondisi bayi empat bulan di meja oprasi. Sejak saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk berhati-hati jika kelak punya anak.
Bayi Marfuah Alhamdulillah bisa selamat dan hidup sehat hingga kini. Tak terbayang kesedihan orang tua yang diberitakan di TV tempo hari saat anaknya yanf berusia dua bulan meninggal setelah diberi pisang. Naudzubillah ....
Ternyata kemarahan Ibu terus berlanjut. Pulang dari kios pun Ibu tidak menyapa Marisa, apalagi aku.
Bang Rafi yang baru pulang pun dapat menangkap kemarahan Ibu.
"Ibu kenapa sih?" tanya Bang Rafi sambil menggantungkan jaket yang baru di bukanya.
Aku menceritakan kejadian tadi pagi pada Bang Rafi.
"Kenapa nggak dituruti aja, Marisa kan udah besar?"
"Abang mah nggak ngerti." Aku mengambil ponsel dan mengetik sesuatu di kolom pencarian google lalu menyerahkannya pada Bang Rafi. "Nih, baca!"
Bang Rafi mulai menekuri setiap kata yang tertwra pada ponsel sambil mengangguk-anggukan kepalanya tanda memahami.
"Ya udah, nanti Abang bicara sama Ibu. Asal ...." Bang Rafi menggantung kalimatnya sambil menatapku jenaka.
"Apa?"
"Nih, pegel ...," ucap Bang Rafi sambil mengetuk-ngetuk pipinya.
Cup,
Aku memegang bahu Bang Rafi dan mencium pipi kanannya, lalu pipi kirinya hingga semua bagian wajahnya sampai terdengar celotehan Marisa "Ma ... ma ... aaa ...." Aku dan Bang Rafi tertawa saat menyadari ada gadis kecil yang sejak tadi memperhatikan kami.
Hingga dua hari berikutnya, Ibu masih tak mau bicara kepadaku. Pesanan baju pun n
banyak yang aku cancel karena susah komunikasi sama Ibu. Langsung menghubungi Susi di kios aku tak berani jika tak ada izin dari Ibu. Aku mulai tak nyaman dengan situasi seperti ini dan rasa ingin pindah kembali lagi.
Sejak belajar jualan online aku punya sedikit tabungan. Kata Bang Rafi uang itu tak boleh aku pakai untuk kebutuhan keseharianku dan Marisa, hanya boleh disimpan untuk kebutuhan yang mendesak karena dengan gaji Bang Rafi, kami memang tak bisa menabung.
__ADS_1
Kurasa uang itu akan cukup untuk membayar kontrakan beberapa bulan.
Aku masih menunggu reaksi Ibu selanjutnya. Jika satu minggu keadaan tidak membaik aku akan memaksa Bang Rafi untuk pindah dari sini.
Ibu baru pulang dan langsung duduk di kursi ruang TV.
"Tumben, nggak langsung masuk ke kamar," gumamku.
Aku mengambil air dari dalam kulkas dan meletakkannya di hadapan Ibu sambil menggendong Marisa.
"Ma ... ma ... mah," celoteh Marisa sambil mengejat-ngejatkan tubuhnya mencoba melepaskan diri dari gendongan.
Ibu melirik ke arah kami.
"Marisa mau digendong sama Oma ya?"
Marisa menatapku dengab mata sebening kristalnya dengan mulut terus berceloteh riang. Ibu berdiri dan segera meraih Marisa dari tanganku, tanpa bicara.
Ibu menciumi Marisa dan yang dicium semakin riang tertawa-tawa.
"Cucu Oma ...," lirih Ibu sambil berjalan melewatiku dan membawa Marisa ke kamarnya. Aku menatap dua perempuan beda generasi itu dan tersenyum lega. Marisa memang senjata paling ampuh untuk menghadapi Ibu.
Aku kira semua masalah selesai setelah itu. Tapi, Ibu masih tak mau bicara kepadaku. Bukan kemarahan yang ditunjukkan Ibu, tapi rasa sedih. Ibu sepertinya sedang memendam sesuatu.
"Ibu mau Ning buatkan camilan?" tanyaku, saat Ibu keluar kamar dengan wajah sembab.
"Nggak."
"Mau kopi?"
"Nggak."
"Oh, ya udah ..." Aku berjalan meninggalkan Ibu tapi berbalik lagi saat Ibu memanggil.
"Ibu mau bicara sama kamu," ucap Ibu. Aku pun menangguk dan mengikuti langkahnya menuju kursi.
Setelah beberapa saat, hanya hening yang menyelimuti kami. Ibu masih menerawang, pandangannya jauh. Sesekali Ibu memilin kedua tangan di pangkuannya lalu membuang napas dengan kasar.
__ADS_1
"Bilang sama Rafi, ayahnya mau ketemu," tutur Ibu lalu kembali pergi ke kamarnya dan meninggalkanku dengan segala keheranan dan tanda tanya besar.
"Ayah Bang Rafi?"