Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Permintaan Ibu


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part_27


Perang sebenarnya dimulai saat Bang Rafi telah berangkat bekerja.


"Ning, baju Ibu yang warna maroon sudah disetrika belum?" pekik Ibu.


Aku bangkit dari tempat tidur setelah memastikan Marisa terlelap. Marisa bayi yang baik dan pengertian. Dia akan tidur nyenyak selama perutnya kenyang dan merasa nyaman.


"Belum, baru dicuci kemarin," jawabku sambil membenarkan ikatan di rambutku.


"Setrikain dulu, mau Ibu pake!"


Aku menuju kamar khusus tempat menyimpan perabotan yang jarang dipakai yang difungsikan sebagai tempat menyetrika, aku mengambil baju yang Ibu maksud. Blouse model kelelawar berwarna marun dengan payet-payet kecil di sekeliling lengannya.


Ratih keluar dari kamar tamu mengenakan gamis manis bermotif kain perca, kerudung senada dan kacamata besar betengger di hidung bangirnya, membuat aku meratapi nasib, sebenarnya aku ini menantu atau babu?


Aku kembali fokus menyetrika, dan kuberikan baju itu pada Ibu setelah yakin baju itu benar-benar rapi, halus tanpa bekas lipatan.


"Sudah?" tanya Ibu saat aku berdiri di depan kamarnya.

__ADS_1


Aku pun mengangguk, menyerahkan baju yang dimaksud Ibu dan akan kembali ke kamarku, tapi Ibu menarik lenganku.


"Ning, kamu mau dimadu?"


"Nggak mau!" jawabku sambil menghempaskan tangan Ibu dan segera berlalu dari kamar Ibu. Sempat tertangkap ekor mataku wajah Ibu memerah, rahangnya mengeras, tapi aku tak perduli. Ibu bertanya, dan aku sudah menjawab sesuai hati nuraniku.


Di ruang TV, Ratih sedang duduk manis menunggu Ibu, mungkin mereka akan pergi berbelanja, atau ke kios Ibu yang di pasar. Masabodo, aku hanya ingin mereka segera pergi dari pandanganku. Hatiku tak nyaman jika terus bertemu Ratih.


"Ning, sini!" pinta Ratih.


Aku menunjuk diriku sendiri untuk meyakinkan. "Aku?"


"Ya, sini dulu sebentar," ucap Ratih sambil menepuk kursi di sebelahnya.


"Bagaimana rasanya menjadi Ibu?" tanya Ratih dengan nada lirih.


Aku tak paham kemana arah pembicaraan Ratih, tapi aku mencoba menjawabnya sesuai isi hatiku.


"Menakjubkan. Tak ada hal di dunia ini yang melebihi suka cita menjadi seorang ibu." Aku menjawab dengan semangat, semua tentang Marisa selalu menarik untuk aku ceritakan. Tapi, wajah Ratih malah tertunduk. Aku tak mengerti.


Ibu datang dari arah kamar dengan penampilan yang selalu cetar membahana. Jika saya sikapnya lebih manis, pasti pesonanya akan bertambah berkali lipat.

__ADS_1


"Yu, berangkat!" ajak Ibu. Tentu saja pada Ratih, bukan padaku.


Aku mengikuti mereka sampai mereka masuk Honda brio yang akan dikendarai Ratih. Beberapa detik memandang terpesona pada dua wanita beda usia yang sama-sama cantik dan elegan itu, lalu kemudian sadar dan mengusap wajah. Ah, seandainya.


Suasana rumah menjadi hening. Hanya ada aku dan Marisa. Waktu-waktu seperti ini sangat aku sukai. Rumah bersih, dan rapi. Tak ada cucian baju dan piring. Aku mengambil posisi nyaman di depan TV dan mulai menonton sinetron azab di layar kaca. Satu hal yang aku sukai dari sinetron ini, aku selalu berpuas hati karena yang jahat sudah pasti mendapatkan azab. Seandainya ini berlaku juga pada kehidupanku, 'Azab mertua penyiksa menantu, jenazahnya tak muat di dalam kubur,' bisik hatiku. Sehingga tanpa sadar aku tersenyum sendiri.


Kadang aku iri pada kehidupan Yayu. Kehidupannya terlihat begitu damai. Hidup di kampung, menikah dengan orang dengan kebiasaan dan latar belakang yang sama membuat mereka hidup rukun tanpa ada yang merasa lebih tinggi ataupun lebih rendah.


Aku kira, aku akan seperti tokoh-tokoh dalam sineteon Indonesia atau drama Korea. Gadis kampung, sekolah di kota, bekerja sebagai pramuniaga, bertemu orang kaya, menikah dan hidup bahagia selamanya. Nyatanya, kehidupan tidak semulus pipi Syahrini. Menikah bukan jaminan hidup bahagia selama-lamanya tapi, episode baru kehidupan dengan segala tantangannya.


Ibu dan Ratih belum pulang, bahkan ketika Bang Rafi telah ada di rumah.


"Ibu kemana sih, Bang?" tanyaku. Penasaran juga dengan keberadaan Ibu.


"Ke Jakarta. Mungkin dia langsung menginap di rumah tante Rum, Ibunya Ratih," jawab Bang Rafi. "Tadi Ibu nelpon, ngasih kabar," imbuhnya.


"Syukurlah," jawabku lega. Merasa terbebas dari komplotan pencuri. Pencuri yang mengincar rasa bahagiaku.


Aku mendesak Bang Rafi untuk bercerita lebih banyak tentang Ratih. Wajah sedihnya yang kutangkap tadi pagi mengusikku.


Bang Rafi bercerita bahwa Tante Rumana adalah orang yang berjasa pada Ibu. Sejak ibu dan ayah Bang Rafi berpisah, tante Rumlah yang mensupport Ibu, membantunya mengembangkan usaha hingga Ibu memiliki satu kios baju yang melayani grosir dan eceran dengan tiga orang karyawan.

__ADS_1


Hubungan mereka renggang saat Ratih memilih menikah dengan orang lain, bukan dengan Bang Rafi. Ternyata, pernikahan mereka tidak berlangsung lama, Ratih divonis dokter memiliki kelainan rahim dan tak akan memiliki keturunan.


Oh, pantas saja tadi Ibu menyinggung masalah madu. Ibu hendak memintaku berbagi Bang Rafi dan Marisa dengan Ratih. Tidak semudah itu, Esmeralda!


__ADS_2