Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Cinta Monyet


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part_39


"Gini ...."


cekrek


"Ah, jelek!"


"Gini ...."


cekrek


"Ih, masih jelek. Gimana ... ya ...?" Aku menggigit telunjuk, gemas. Dari tadi ngambil gambar baju tapi nggak ada yang menarik. Dijembrengin di lantai atau dilipat, tetap aja nggak bagus. Harusnya pake model atau boneka manekin.


Saat aku bertingkah tak karuan, Ibu muncul dari balik pintu kamarnya.


"Kamu kenapa? Kesambet?" tanya Ibu dengan kening terlipat.


"Susah dapet gambar yang bagus," keluhku.


"Minta aja sama Si Michael, dia punya foto dan video semua baju," jelas Ibu.


Rupanya, Suplier Ibu sudah bikin katalog berupa foto dan video dari semua model baju untuk keperluan promosi online. Aku bisa meminta langsung pada adiminnya yang bernama Michael. Jika dirasa perlu, aku cukup menambahkan real pict untuk menegaskan tentang jenis bahan agar semakin meyakinkan pembeli.


"Kamu jangan main HP terus, ingat anak kamu!"


"Ya, Bu. Ning hanya akan main HP kalau Marisa bobo dan semua pekerjaan udah selesai," tuturku.


Ibu berangkat kembali ke kios dan meninggalkan semua baju-baju yang baru dibeli itu di rumah.


Iseng, aku mencoba salah satu baju yang ternyata begitu pas di tubuhku. Aku memang punya bentuk tubuh ideal, terutama tentang tinggi badan, sehingga aku tidak harus memotong setiap kali membeli gamis atau baju panjang.

__ADS_1


Sebelas model baju aku coba dan kuabadikan dengan kamera depan ponsel. Rupanya ponsel yang diberikan Kak Lisna ini bukan ponsel murahan. Buktinya, foto yang dihasilkan terlihat bening dengan warna yang tajam.


'Heh, jadi model abal-abal aja begitu melelahkan, apalagi kalau jadi model profesional ya?' pikirku.


Ternyata perkara mengambil gambar ini tidak sesederhana yang kubayangkan. Gonta-ganti baju, bergaya di depan kamera hingga merapikan kembali baju-baju itu benar-benar menguras energi.


Galeri telah penuh dengan berbagai foto. "Sekarang apa lagi?" gumamku.


Aku membuka aplikasi facebook menjalin pertemanan dengan banyak orang yang cocok sebagai target pemasaran. Saat jariku sibuk menscroll ke atas dan ke bawah mataku menangkap sosok yang rasanya tidak asing.


"Akmal?"


Aku mendekatkan mata pada layar ponsel, mengeja lagi nama yang tertera dan mencocokan wajah pada layar dengan memori di ingatanku. Tak salah lagi, itu Akmal.


Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Segera aku skip wajah yang mengganggu hatiku itu dan meletakkan ponsel begitu saja, wajah Akmal membuat moodku merosot tajam.


****


"Ayo pulang, nanti Ibu kamu marah!"


"Bilang saja aku ada ekskul!" Akmal berlari meninggalkanku menuju teman-teman lelakinya, geng tersesat. Aku memanggil mereka geng tersesat karena hampir setiap hari anak-anak itu tidak sampai ke sekolah. Berjalan sangat lambat saat berangkat dan berbelok ke bawah jembatan setelah semua teman-temannya mendahului.


Saat jam pulang sekolah mereka akan keluar dari tempat persembunyian dan membaur bersama golongan lurus. Tiba dirumah dengan wajah letih seolah telah belajar dengan keras padahal otak mereka kosong dan hanya diisi tipu muslihat.


Hari itu aku bertemu Akmal di dekat jembatan yang membentang di atas sungai selebar seratusan meter, yang hanya terbuat dari rangkaian bilah-bilah bambu.


Seragamnya jauh dari kata rapi. Entah apa kesenangan yang mereka dapat saat berlaku seperti itu, mungkin merasa menjadi jagoan karena bisa bertindak sesukanya tanpa menghiraukan aturan.


Aku yang dari kecil terbiasa patuh entah karena apa bisa dekat dengan Akmal yang urakan. Dia sering datang kepadaku untuk menyalin PR atau mengerjakan tugas yang tak dapat diselesaikannya.


Persahabatanku dengan Akmal berakhir saat aku dengan sengaja melaporkan keberadaan geng tersesat itu pada bagian kesiswaan dan mereka tertangkap tangan tengah merokok dan membuat oplosan dari obat batuk.


"Aku kira kamu itu teman, Ning! ternyata aku salah. Kamu pengkhianat!" telunjuk Akmal menujuk lurus ke wajahku dengan mata memerah.

__ADS_1


"Terserah! Kamu mau anggap aku apa? Aku cuman kasihan sama kamu, Mal!" Pertengkaran di samping rumahku itu menjadi pertemuan terakhirku dengan Akmal sebelum dia dipindahkan ke tempat neneknya di kota kabupaten.


Nasib mempertemukan kembali aku dan Akmal, kami kembali satu sekolah di SMA setelah berpisah dua tahun lamanya. Aku tak berani menyapanya karena diapun sama sekali tak pernah menyapaku. Sampai suatu hari Akmal datang ke kelasku dan menyatakan cinta dihadapan teman-temanku.


Sebenarnya logikaku menolak untuk percaya, tapi perasaanku lebih dominan menguasai. Aku yang memang sejak dulu memendam perasaan suka dan menyimpan rasa bersalah tanpa sadar menganggukan kepala yang membuat aku menyesal seumur hidup. Akmal mempermainkan perasaanku, dia dan teman-temannya melakukan prank untuk membalaskan dendamnya.


Dia malah dengan sengaja menjalin hubungan dengan Tyas, teman satu kelasku tak lama setelah kejadian itu. Beberapa hari aku bolos sekolah karena tak tahan menanggung malu dan rasa sakit hati. Aku tak percaya, Akmal teman kecilku bisa setega itu. Untunglah ada Puji yang selalu memberikan dukungannya. Dia menguatkan aku untuk kembali percaya diri dan melupakan hal memalukan itu.


Sejak cinta monyetku itu berakhir tragis, aku tidak berniat untuk pacaran hingga Bang Rafi datang dan memintaku menjadi istrinya.


****


Ingatan tentang Akmal benar-benar membuat semangatku terjun bebas hingga aku memilih meninggalkan ponsel dan kembali ke rutinitasku sebagai Ibu rumah tangga. Ada sedikit rasa sesal yang menggelitik hati, mengapa aku harus menikah muda, menjadi ibu, disaat teman-teman seusiaku tengah menikmati indahnya hidup? Tapi ini semua jalan hidup yang kupilih, semoga aku tetap bisa berkarya walaupun hanya seorang ibu rumah tangga biasa.


Baju-baju dagangan Ibu, aku rapikan di kamar tamu karena jumlahnya banyak dan memakan tempat. Saat Ibu pulang, rumah telah bersih, rapi dan Marisa telah siap menyambut Ibu dengan senyumannya yang lucu.


Saatnya aku mempersiapkan diri menyambut pujaan hati. Siapa lagi kalau bukan Bang Rafi? Setelah seharian bekerja aku tak ingin menambah bebannya dengan melihat tampilanku yang tidak menyenangkan.


Aku berjalan ke depan rumah saat mendengar deru motor dengan suara khas yang kuhapal. Tapi kali ini, bukan hanya satu motor yang memasuki halaman, satu motor yang lain dengan dua orang penumpang di atasnya mengikuti Bang Rafi.


Aku meraih tangan Bang Rafi dan menciumnya takdzim saat dia turun dari motor dan membuka helmnya. Teman-teman Bang Rafi juga turun dari motor dan menggoda kami.


"Cieee ... cieee yang udah punya istri."


Aku merasa wajahku menghangat dan segera melepaskan tangan Bang Rafi.


"Teman Bang Rafi ya? Mari masuk," ajakku dengan wajah yang menunduk menutupi rasa malu.


"Ning!"


Aku mengangkat wajah demi mendengar namaku disebut. Salah seorang teman Bang Rafi membuka helmnya dan membuatku kaget luar biasa.


"Akmal?"

__ADS_1


__ADS_2