
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_43
"Bang, lagi pengen sesuatu nggak?" Aku memeluknya manja.
"Apa? nggak ada!"
"Ish, nggak romantis banget. Bilang ke, mo dicium gitu ...." Aku mencebik dan melepaskan tangan dari bahunya.
"Ha ... ha ha ha ...." Tawanya berderai renyah.
"Abang nggak mau apa-apa karena udah ada kamu, cantik ...." Bang Rafi mengacak rambutku. Lalu kami duduk bersisian di tepi tempat tidur.
"Kalau Ning punya salah, Abang mau maafin nggak?" Aku teringat dengan segala kesalahan yang pernah kubuat bersama Akmal.
"Tergantung," jawabnya sambil memegang dagu.
"Udah ah, tidur!" ajakku mencoba mengalihkan pembicaraan. Sesungguhnya aku takut Bang Rafi marah, tak sanggup membela diri jika Bang Rafi benci.
"Akmal?"
Mataku membulat demi mendengar nama itu keluar dari mulut Bang Rafi.
"Kamu kira Abang sepolos itu hingga tak menyadari keanehanmu, Ning?" cetus Bang Rafi.
Aku hanya bisa tertunduk pasrah menekuri lantai dengan jari yang saling memilin di pangkuan.
"Kenapa Abang tak pernah negur? Abang nggak cemburu?" Aku berbicara dengan pandangan tak lepas dari lantai.
"Abang hanya ingin kamu yang menemukan jawabannya sendiri sehingga kamu benar-benar yakin, tak ada satupun lelaki yang mengalahkan besarnya cinta Abang kepadamu."
Tes,
Bulir bening jatuh tak tertahan. Tak butuh waktu lama hingga air mata menganak sungai jatuh bersama ribuan rasa bersalah yang menusuk hati.
"Maaf," lirihku.
Bang Rafi menyentuh pundakku. "Tak apa, Sayang. Kamu sudah membuktikan, bahwa kamu tetap memilih Abang."
__ADS_1
Aku menatap Bang Rafi dengan tatapan curiga. Bang Rafi mengusap air mata di pipiku.
"Akmal itu temanku, Ning. Teman terburukku. Dia terang-terangan ingin merebutmu dari Abang. Abang menantang dia untuk merebutmu jika bisa. Saat kamu terbangun malam dan sibuk dengan ponsel hati Abang panas tapi Abang menahan diri dan tak berhenti percaya bahwa kamu hanya sedang menyelesaikan sesuatu yang belum usai," tutur Bang Rafi. Matanya memandangi langit-langit kamar. Aku semakin terisak.
"Akmal janji akan memblokir kamu dari ponsel dan kehidupannya jika kamu menolak dia."
"Apa?" Aku tak percaya ternyata aku yang terlalu polos selama ini.
"Dan sekarang, Akmal sudah tak kerja lagi di pabrik Abang, dia tak bisa menerima kekalahan," pungkas Bang Rafi.
"Abang jahat!"
"Lho ... ko jadi Abang yang jahat? Abang hanya ingin kamu menyimpulkan sendiri. Abang ingin kamu hidup bersama Abang bukan karena tak ada lelaki lain, tapi karena Abang yang kamu pilih sebagai lelaki terbaik dan satu-satunya yang pantas kamu cintai. Dan nyatanya memang begitu, kan?" Bang Rafi mengangkat kedua alisnya dengan jenaka.
Aku memeluknya erat dan berjanji di dalam hati, tak akan berbuat bodoh lagi.
"Kita anggap masalah ini selesai, tak perlu mengingatnya lagi. Hanya kali ini Abang menguji kesetiaanmu Ning, jika ada lagi setelah ini, Abang tak akan memaafkanmu," tandas Bang Rafi membuat nyaliku menciut dan semakin mengeratkan kedua tangan di tubuhnya.
Sampai hari itu, aku belum berani memberi tahu Bang Rafi perihal ayahnya yang ingin bertemu, karena akhirnya Ibu pun melarang itu.
"Biarlah ayah Rafi berusaha sendiri," ucap Ibu waktu itu.
Disela-sela iklan dengan posting barang dagangan, aku juga suka memposting foto Marisa yang sedang lucu-lucunya. Media sosial memang biasa digunakan untuk mengabadikan momen-momen berharga dalam hidup.
Foto Marisa menuai banyak komentar, sebagian besar memuji. Cantik, lucu, bikin gemes, pengen meluk, pengen nyulik, pengen nyium dan beragam komentar lain. Ada satu komentar yang yang menarik perhatianku. "Masya Allah, tabarokalloh ... cucuku cantik sekali." Aku mengeja komentar itu dengan seksama.
"Siapa ya?" gumamku. Aku mengklik profil si pemberi komentar. Selama ini aku memang mengkonfirmasi semua orang yanf mengirim permintaan pertemanan untuk memperluas jaringan pemasaran, jadi banyak orang yang tak kukenal di daftar pertemananku selama ini.
Kukira, akun itu milik seseorang yang kukenal. Ibu, Mamah atau saudara jauhku yang tak sempat aku sapa. Tapi, setelah melihat profil pemilik akun, aku hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati.
Rahardian Husein, nama pemilik akun tersebut dengan foto seorang lelaki paruh baya, tampan, modis dan sepertinya, kaya.
Setelah kutelusuri, ternya seseakun ini kerap kali memberikan tanggapan pada setial postinganku, tapi baru kali ini aku benar-benar sadar.
"Bang, nama ayah Abang, Rahardian Husein bukan?" tanyaku suatu pagi.
Bang Rafi tersedak, dia terbatuk-batuk mengeluarkan makanan yang nyasar ke tenggorokannya.
Ibu yang sedang mengambil air di dapur langsung berteriak. "Kamu kenapa sih Fi?"
__ADS_1
Aku segera menyodorkan segelas air minum pada Bang Rafi, dan diminumnya dengan rakus. Setelah bisa mengatur napasnya, Bang Rafi menarik lenganku dan berbisik, "kamu tahu darimana, Ning?"
"Jadi bener?" Aku menatap Bang Rafi untul meyakinkan. Bang Rafi berpaling dan segera bangkit dari tempat duduknya.
"Kita bicarakan nanti. Abang sekarang mau kerja. Ingat, jangan berhubungan dengan lelaki itu!" ancam Bang Rafi. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
Selepas kepergian Bang Rafi, rasa penasaranku semakin besar. Aku merapikan meja makan dengan pikiran melayang pada seseakun misterius itu hingga tak sengaja menyenggol gelas di pinggir meja.
Prang!
Gelas itu pecah berhamburan, disusul teriakan Ibu.
"Aduuuh ... lama-lama bisa habis perabotan di rumah ini, Ning .... Makanya kalau lagi kerja jangan ngelamun!"
"Maaf, Bu ...!" Aku menjawab dengan suara kencang agar sanpai pada telinga Ibu yang sedang berdandan di kamarnya.
Aku segera merapikan pecahan gelas sebelum Ibu melihat kekacauannya, bisa panas telingaku mendengar omelan panjang Ibu.
"Awas kena Marisa, Ibu denda kamu!" Ibu yang datang langsung mengambil Marisa dari bouncher dan menggendonya keluar.
Aku hanya senyum mendengar omelan Ibu barusan. "Harusnya aku yang mendenda Ibu kalau Marisa kenap-napa aku kan Ibunya," bisikku.
Setelah semua kembali rapi, aman dan nyaman aku menghampiri Ibu di teras untuk mengambil alih Marisa.
"Sini Bu, biar Ning gendong," pintaku seraya merentangkan tangan.
"Sebentar, pelit banget kamu!" tukas Ibu.
Lagi-lagi aku tersenyum geli. Ibu itu kadang lucu juga. Maksud aku mengambil Marisa kan takut dia cape, eh ... dibilang pelit.
Aku mengikuti langkah Ibu memasuki rumah. Ibu asyik berceloteh dengan Marisa. Karena tak tahan dengan rasa penasaranku, aku pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Bu, ayah Bang Rafi itu namanya Pak Rahardian Husein, ya?"
Raut muka Ibu barubah sendu. "Rafi yang ngasih tahu kamu?" tanya Ibu. Aku menggeleng.
"Lalu?"
Aku pun menyerahkan ponsel yang memperlihatkan profil seseorang yang ternyata adalah ayah Bang Rafi sekaligus mertuaku.
__ADS_1
Ibu meraihnya dan menatap lekat pada layar. Tatapan Ibu menyiratkan sejuta arti dan yang paling jelas tergambar adalah, kerinduan.