
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_15
"Tempat terbaik seorang istri adalah di samping suaminya, Ning," tutur Yayu.
"Walaupun aku harus mati?" sergahku.
"Bukan begitu. Aku paham kondisi kamu. Tapi, carilah solusi agar kalian bisa bersama-sama lagi dalam situasi yang lebih baik. Ngontrak lagi misalnya," imbuh Yayu.
Percakan aku dan Yayu sore tadi masih terngiang di telingaku. Yayu memang ada benarnya, bagaimana rumah tangga ini akan baik-baik saja, jika raga kami terpisah tana ada komunikasi yang menghubungkannya?
Selepas kepulangan Bang Rafi beberapa hari lalu. Bapak dan Mamah semakin tak simpati padanya. Mereka menganggap Bang Rafi tidak sopan, dan sama angkuhnya dengan Ibu.
Aku bingung, janji Bang Rafi untuk menghubungiku setiap hari, nyatanya tidak dia tepati. Hanya beberapa kali saja di menelepon, itu pun setelah puluhan sms yang kukirim padanya.
"Mah, Ning mau pulang ke rumah Ibu," ungkapku pada Mamah.
Mamah yang sedang memipil biji jagung untuk benih menghentikan aktivitasnya.
"Tunggu sampai kamu sehat dan Rafi yang menjemput kamu. Kamu harus punya harga diri, kalau kamu pulang ke sana tanpa mereka minta, mereka akan semakin semena-mena." Mamah menatap tajam padaku, matanya menyiratkan kepedihan. Aku tahu segala sakitku, sakit juga untuknya.
__ADS_1
Aku menangis, beban berat serasa terus menghimpit. Di rumah Ibu aku tersiksa, di rumah Mamah aku selalu teringat Bang Rafi.
"Sabar, Ning. Mamah menahan kamu di sini untuk kebaikanmu. Kesehatan kamu dan Marisa adalah yang utama. Setelah kondisi kalian stabil, tanpa diminta pun Mamah pasti menyuruh kamu pulang kembali menemui suamimu." Mamah mengusap bahuku.
****
Marisa kini berusia satu bulan. Pipi bulatnya semakin menggemaskan. Dialah pelipur lara, perasaan sedih akan hilang saat bersama dengan bayi mungil itu.
Badanku sehat, luka pasca melahirkan telah benar-benar sembuh. Mamah rutin membuatkan rebusan daun sirih, sembung dan daun jawer kotok. Daun jawer kotok berwarna ungu kehitaman dengan pinggiran bergerigi. Sangat baik untuk penyembuhan luka. Air rebusannya bagus untuk menyembuhkan luka dalam. Jika teriris pisau atau korengan daun jawer kotok ini bisa dijadikan obat dengan cara diremas hingga layu dan keluar air, lalu tempelkan pada luka. Luka menjadi cepat kering dan berangsur sembuh.
Aku juga senang memakan kunyit muda yang mentah untuk lalaban. Enak dimakan dengan ikan asin dan sambal terasi. Membuat napsu makanku bertambah. Kini berat badanku sudah normal, 45 kilogram.
Aku sudah bisa lebih mengendalikan hati dan pikiran, tidak terlalu mengkhawatirkan Bang Rafi. Tak lagi membrondongnya dengan puluhan sms atau mised call. Jika dia sayang, dia akan datang.
"Kak ... ada telepon!" seru Wening. Aku yang sedang mengajak Marisa jalan-jalan di depan rumah segera menghampirinya.
"Siapa?" bisikku.
"Bang Rafi, nih!" Wening memberikan gawainya padaku. Aku meraih gawai wening dengan tangan kanan, dan tangan kiri menyangga kepala Marisa, dalam gendongan, takut kain jaritnya tiba-tiba mengendur.
"Assalamualaikum, Bang ...."
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Ning. Kamu dan Marisa sehat?" Suara Bang Rafi terdengar sendu.
"Alhamdulillah," jawabku.
Setelah sekian lama, aku bisa merasakan lagi perhatian dari Bang Rafi.
"Hari Minggu nanti, Abang dan Ibu mau jemput kamu. Kita kumpul lagi di ya," tutur Bang Rafi.
Aku mengigigit bibir menahan agar Bang Rafi tidak mendengar isak tangisku.
"Kamu mau, kan?" tanya Bang Rafi.
Aku mengangguk, lupa kalau Bang Rafi berada jauh di sana dan tidak dapat melihat ekspresiku.
"Ning?"
"Ya, Bang. Ning mau ikut pulang."
Hatiku berbunga-bunga. Kehancuran rumah tangga yang kukira di depan mata, nyatanya tidak terjadi. Aku akan kembali membangun keluarga kecilku menjadi keluarga bahagia.
Tapi, aku merasa aneh dengan suara sendu Bang Rafi. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Bang Rafi benar-benar tulus atau ada sesuatu dibalik itu?
__ADS_1