Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Titik Terang


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part_46


"Ada salam buat Ibu," tuturku saat aku dan Ibu duduk bersisian di kursi teras. Musim kemarau membuat matahari betah berlama-lama memberi sinarnya, pukul empat sore hari masih terlihat sangat terang.


"Dari siapa?" tanya Ibu sambil terus menyuapi Marisa.


"Customer yang tadi," jawabku dengan hati yang berdegub, takut dengan reaksi yang akan ditunjukkan Ibu.


"Memang dia kenal sama Ibu?"


"Katanya sih begitu," ucapku berdiplomasi.


"Ini kamu bikin buburnya pake apa, Ning? Amis begini." Ibu mencium bubur bayi yang dipegangnya. Rupanya dia tertarik dengan customer yang tadi kusebutkan.


"Ning pake pilet ikan tuna, kebetulan tadi ada di minimarket."


"Marisa suka, lahap banget dia makannya." Ibu tampak sumringah karena cucunya makan dengan lahap.


Aku membuat MPASI empat bintang dengan karbohidrat dari nasi, ptotein hewani dari ikan, protein nabati dari kacang merah yang sudah direbus juga wortel sebagai asupan sayurnya.


Sebenarnya membuat MPASI itu gampang-gampang susah. Gampang karena bisa menyisihkan bahan makanan yang akan kita masak sebagai menu orang dewasa dan membuatnya satu kali untuk beberapa kali makan. Susah karena nambah kerjaan baru dan membutuhkan tekad yang besar agar tidak tergoda dengan kemudahan memberikan makanan instan. Tapi hasilnya luar biasa, ada kepuasan yang dirasakan saat anak-anak memakannya dengan lahap.


Kata Kak Lisna, MPASI itu membentuk karakter dan pola makan si kecil. Dia belajar disiplin dan keteraturan karena jadwal makan yang biasa dia lakukan. Menjadi anak yang terbiasa dengan makanan sehat seperti buah dan sayur yang umumnya tidak disukai anak-anak. Juga membuat anak bisa memakan berbagai jenis makanan, tidak pemilih.


"Lihat nih, pipi cucu Ibu, makin bunder kaya bakpao," tutur Ibu. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Kalau muji Marisa dia pasti bilangnya "cucu Ibu", giliran ada masalah pasti bilangnya, "anak kamu, Ning". Biasanya hatiku mangkel dengan kalimat Ibu yang begitu, tapi sekarang nggak lagi, sudah biasa.


Aku gagal mengorek keterangan tentang Pak Rahardian dari Ibu. Nanti aku akan mencoba lagi dari Bang Rafi atau ... Ratih, sepertinya tahu banyak tentang masa lalu Ibu, nanti akan kucoba menghubungi dia.


Rutinitas hari itu selesai saat aku dan Bang Rafi telah berbaring di tempat tidur. Bang Rafi masih memegang gadgetnya dengan kanan, sedangkan tangan kiri menyangga kepalanya.


"Bang ...." Aku mendorong bahunya agak kencang.


Bang Rafi masih sibuk memainkan jari-jarinya di atas layar ponsel membuat gerakan ke atas dan ke bawah.

__ADS_1


"Abang, ih!" Aku mulai gemas dan mengguncang bahunya dengan lebih keras.


"Kamu tadi ketemu siapa?" Bang Rafi menatapku tajam setelah beberapa detik dia menekuri layar. Aku melirik sekilas pada apa yang dilihatnya pada ponsel. Gawat, rupanya dari tadi dia menstalking akun facebookku. Aku melepaskan tangan dari tubuhnya, nyaliku menciut.


"Ayah Abang," jawabku takut-takut.


"Ngapain aja kamu sama orang itu?" Bang Rafi bangkit dari tempat tidur. Aku pun bergerak mengambil tempat duduk di sisinya.


Semua kejadian yang kulalui tadi siang aku ceritakan pada Bang Rafi tanpa mengurangi atau melebihkannya sedikit pun.


"Sepertinya dia rindu pada Abang dan semuanya." Aku menunduk, merasa bersalah karena telah berani menemui Pak Rahardian tanpa izin Bang Rafi. Aku pasrah menerima kemarahannya.


Bang Rafi pergi keluar kamar. Dia lebih memilih mendiamkanku tanpa menjelaskan alasan kebenciannya pada Pak Rahardian. Lagi-lagi aku gagal mendapatkan informasi.


Malam itu, untuk pertama kalinya aku tinggal satu atap bersama Bang Rafi tapi tidak tidur bersamanya dalam satu kamar. Rupanya dia benar-benar marah.


Diamnya Bang Rafi masih berlanjut hingga pagi, dia hanya menjawab pertanyaanku saat di depan Ibu, itu pun dengan kalimat-kalimat pendek. Dia sama sekali tak mengajakku bicara pagi itu, bahkan lupa mencium keningku sebelum berangkat kerja. Sifat kekanak-kanakannya datang lagi.


Itulah Bang Rafi, memilih mendiamkanku saat marah. Sementara aku tak tahan menyimpan masalah hingga berlarut-larut. Aku ingin dia bicara dari hatinya lalu kami sama-sama mencari solusi hingga tak tersisa lagi rasa tak nyaman di dalam hati. Tapi, sepertinya aku tak akan mendapatkan apa yang kuharapkan dan hari ini akan terasa sangat panjang.


[Assalamualaikum Ratih] Aku mengirim pesan pada Ratih. Agak segan untuk mengajaknya bicara melalui telepon, takut menggangu.


Beberapa menit tak ada balasan. Aku sesekali melihat ponsel saat menyapu rumah. Mengecek balasan dari Ratih.


Ting,


Satu pesan masuk ke ponselku.


[Waalaikumsalam Ning, apa kabar?]


[Alhamdulillah baik. Kamu gimana?]


[Aku baru selesai oprasi, sekarang lagi pemulihan]


[Gimana kondisi kamu sekarang? Maaf aku ganggu]

__ADS_1


[Sudah baikan. Aku oprasi karena ngikutin saran dari Puji, teman kamu. Kemungkinan tumbuh lagi besar, tapi oprasi menjadi ikhtiar yang terbaik yang bisa aku lakukan, aku mau punya anak seperti kamu]


Aku membaca pesan Ratih dengan perasaan haru. Betapa aku harus bersyukur dianugrahi Allah seorang anak yang cantik dan sehat dengan mudah, sementara perempuan lain harus berjuang sangat keras untuk mendapatkan nikmat yang sama.


[Semangat ya, Ratih 🤗🤗🤗]


[Makasih, Ning 😊 Aku mau oprasi karena Mas Han datang dan meminta kembali. Dia berjanji akan tetap mendampingiku]


Mulutku membulat membaca pesan dari Ratih tentang Hanjaya, mantan suaminya yang juragan kain itu.


[Alhamdulillah ... selamat ya, Ratih. Aku ikut bahagia.]


[Kadang, kita benar-benar yakin dengan rasa cinta kita pada seseorang setelah berpisah jauh. Kata Mas Han, dia tak bisa merasakan cinta pada perempuan lain seperti dia mencintaiku 😅]


[Mungkin itu yang disebut cinta sejati 😇]


[Ya, seperti cinta Rafi sama kamu] balas Ratih, membuat aku tersenyum sendiri.


[Mungkin seperti cinta Pak Rahardian pada Ibu?] balasku lagi mencoba kembali fokus pada maksud awalku menghubungi Ratih.


[Lho ... kamu kenal Om Husein?]


Dan nada dering telepon langsung berbunyi, rasa penasaran Ratih membuatnya mengalihkan chat kami pada obrolan langsung melalui telepon.


"Sepertinya, aku ketinggalan berita menarik." Ratih antusias mengawali pembicaraan.


Aku pun menceritakan awal mula aku kenal Pak Rahardian Huesin hingga akhirnya bisa bertemu beliau kemarin siang.


"Sepertinya dia baik," cetusku.


"Memang. Saat kecil, aku selalu dihadiahi banyak mainan sama Om Husein. Dia juga suka menggendongku, aku di tangan kanan dan Rafi di tangan kiri. Kami memang seumuran."


Obrolanku dan Ratih semakin seru, sepertinya kali ini aku tak salah memilih narasumber.


Aku semakin bersemangat ngobrol dengan Ratih, saat dia menceritakan Pak Rahardian berdasarkan sudut pandangnya. Pak Rahardian lelaki yang penyayang, pekerja keras dan perhatian pada keluarga.

__ADS_1


Terus, Kenapa dia bisa selingkuh ya?


__ADS_2