
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_26
Berdasarkan cerita Bang Rafi, Ratih itu masih saudara jauh Bang Rafi. Kakek Bang Rafi dan Neneknya Ratih kakak beradik.
Ibu Bang Rafi dan Ibunya Ratih pun berkawan dekat. Rumana, Ibunya Ratih memiliki dua anak perempuan bernama Ratna dan Ratih, sedangkan Ibu Bang Rafi memiliki tiga anak laki-laki. Bang Rizal suaminya Kak Lisna, Bang Risman dan terakhir Bang Rafi. Ibu Bang Rafi dan Ibunya Ratih pernah bercita-cita menjodohkan anak-anak mereka. Tapi, semuanya kandas. Bang Rafi sebagai putra bungsu pun tak berjodoh dengan Ratih.
"Kenapa Abang nggak mau nikah sama Ratih? tanyaku.
"Bukan aku yang nggak mau, tapi dia," jelasnya.
Mataku melotot, aku mencubitnya dengan geram.
"Jadi sebenarnya Abang suka ya, sama Ratih?" sentakku.
"Ih, jangan gitu! Dengerin dulu ... Bunda manis ...." Bang Rafi menangkupkan kedua tangannya di wajahku.
Bang Rafi kembali bercerita kalau dulu dia memang dekat dengan Ratih. Sebagai anak bungsu, dialah satu-satunya harapan Ibu untuk berjodoh dengan putri Bu Rumana.
"Aku pernah melamarnya, tapi Ratih menolak karena saat itu dia sedang dekat dengan juragan kain. Keluarga Ratih itu kaya dan sangat mengagung-agungkan harta. Abang yang waktu itu masih kuliah jelas kalah saing dengan juragan kain yang biasa memasok bahan buat konveksi keluarga Ratih."
"Terus?"
"Ya udah, nggak masalah. Yang penting bukan Abang yang tidak menuruti perintah Ibu."
"Abang patah hati?" selidikku.
__ADS_1
"Sedikit. Tapi, sembuh karena ketemu kamu," pungkasnya sambil mencubit hidungku.
Aku bisa mengambil benang merah dari kisah yang diceritakan Bang Rafi. Dia memutuskan berhenti kuliah dan menikahiku karena dia ingin segera move on dari Ratih. Dan Ibu tak bisa melarang Bang Rafi karena ingin menebus rasa bersalahnya pada Bang Rafi. Firasatku mengatakan Bang Rafi sengat terpuruk saat lamarannya ditolak Ratih.
Hatiku perih. 'Jadi, aku hanya pelarian saja?' ucapku dalam hati sambil menatap lelaki di hadapanku dengan lekat.
Bang Rafi seolah faham dengan apa yang ada dalam hatiku. "Abang cinta sama kamu, Ning. Tulus. Bukan, bukan sebagai pelarian dari Ratih. Kamu yang mandiri, pekerja keras, perhatian dan mau menemani Abang saat Abang miskin begini, benar-benar membuat Abang jatuh cinta, Abang nggak rela kehilangan kamu. Jika kehilangan Ratih Abang masih bisa hidup, kehilangan kamu Abang bisa mati," tuturnya.
"Uh, gombal!" Aku mendorong bahunya. Hendak beranjak dari kasur tempat kami duduk demi menyembunyikan air mataku yang sudah membuat pandanganku terhalang. Tapi, Bang Rafi menarik tanganku dan membawaku kepelukannya.
Pertahananku habis, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah. Aku tak rela mendapati kenyataan bahwa Bang Rafi pernah mencintai perempuan lain, dan parahnya, perempuan itu kini tinggal satu atap bersama kami.
"Tenangkan hatimu, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu pikir. Ratih hanya sementara di sini, sampai urusannya dengan para pelanggannya selesai."
"Terus, status Ratih itu apa? Punya suami?" tanyaku menyelidik.
"Dia janda."
"Ning mau pergi dari sini, Bang! Ayo kita pindah sekarang!" pekikku.
Bang Rafi kembali memelukku. Lagi-lagi, dia memintaku untuk bertahan. "Sampai awal bulan saja, sampai Abang punya bekal untuk bisa ngontrak lagi," ucapnya meminta pengertianku.
"Abang janji bisa jaga jarak dari Ratih?"
"Janji! Abang akan buktikan sama kamu, tidak ada tempat di hati Abang selain kamu, Ning." Bang Rafi mendekapku di dadanya hingga detak jantungnya nyata kudengar.
Aku membalas pelukannya dengan erat. Mencari kekuatan untuk hatiku agar bisa menghadapi hari-hari berat setelah ini. Menghadapi Ibu saja, aku sudah sesak napas, apalagi dengan Ratih, bisa TBC!
__ADS_1
Aku sudah bertekad untuk bertahan, Aku punya Bang Rafi dan rasanya itu modal yang cukup kuat untuk menghadapi Ibu dan Ratih. Sampai kapan aku bisa bertahan? Entahlah, kita lihat saja nanti.
Bang Rafi benar-benar membuktikan ucapannya. Tak sekali pun dia bertegur sapa dengan Ratih. Jika sedang di rumah, dia akan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar.
"Fi ... Fi ... Ayo makan!" Ibu mengetuk pintu kamar. Lihatlah, dia hanya mengajak Bang Rafi, tapi tidak dengan aku.
Bang Rafi menarik tanganku. "Ayo!" ajaknya.
Aku menarik napas demi mengisi rongga dadaku yang terasa berat, sesak.
Bang Rafi menggandeng tanganku mesra, kami menuju meja makan bersama-sama. Ratih dan Ibu telah menunggu dengan aneka hidangan yang tersaji di depan mereka.
"Ini semua Ratih yang masak," ucap Ibu dengan bangga.
Ratih sumringah. Dia mengambil piring kosong mengisinya dengan nasi, pesmol ikan mas dan tumis kangkung, lalu menyerahkannya pada Bang Rafi. Bang Rafi meraihnya dengan tersenyum, membuat mulutku terasa pahit seketika.
"Makasih ya Ratih, ini semua makanan kesukaan istri saya, Ayuning," ucap Bang Rafi, menguapkan senyum manis di bibir Ratih.
Aku masih menunggu giliran mengambil nasi, saat tangis Marisa terdengar dari arah kamar. Aku berdiri hendak membawa Marisa tapi kalah cepat dengan Bang Rafi. Dia mengambil Marisa dan menyerahkannya ke pangkuanku.
"Susui dulu bayimu, Ning! Jangan biasakan menyusui sambil makan, nanti kebiasaan," ucap Ibu. Aku tahu, itu cara halus Ibu untuk mengusirku dari meja makan.
Aku beranjak menuju kursi di tuang TV agar bisa menyusui Marisa sambil tetap mengawasi Ratih. Tak rela kalau harus membiarkannya duduk tenang dengan suamiku di dekatnya.
Aku mengusap lembut wajah Marisa, menghirup udara di pipinya. Ajaib, penat di hatiku hilang entah ke mana. Aku mulai memberikan ASI sambil terus menatap binar mata indah Marisa. Mata yang bersih menyiratkan jiwa suci tanpa cela.
Terdengar derit kursi meja makan yang beradu dengan lantai, ternyata Bang Rafi meninggalkan meja makan dan menghampiriku. Dia membawa piring yang penuh makanan dengan tangan kanan dan gelas di tangan kiri.
__ADS_1
"Sambil makan ya, Abang suapin," ucapnya, seraya mengambil tempat duduk di dekatku.
Aku mengangguk dan tersenyum menang.