Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua
Ibu Srigala


__ADS_3

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua


#Part_33


Kak Lisna sudah melenggang cantik ke dalam rumah, bayangannya pun sudah tak terlihat. Mungkin dia sedang asyik selonjoran atau rebahan sekarang. Sementara aku dihadapkan pada anak gajah yang tengah ngamuk, nangis sambil guling-guling, bikin emosi!


Aku hendak meraih tangan Gio tapi ditepis dengan kasar, badanku terhunyung, hampir jatuh.


"Gio ... udah yu, masuk sama Tante," ajakku.


Jangankan patuh, sekedar melirik pun tidak. Dia masih asyik meluapkan emosinya dengan nangis kejer bagai orang kesurupan. Aku kehabisan akal, dan memilih berjongkok di dekat Gio sambil mengawasinya.


Lima menit berlalu dengan Gio yang tengah berakrobat dan aku jadi penonton setia. Sepuluh menit, tangis Gio mulai melemah. Lima belas menit, dia mulai menatapku dan mengiba, "Tante ...." Air matanya masih menumpuk di pelupuk mata tapi suara tangisnya telah hilang.


"Cape ya, Nak?" Aku meraih tubuh gempal berlumpur itu dan menggendongnya.


"Mau mainan yang di jalan tadi ...," rengek Gio diselingi isak.


"Mandi sama bebek, mau?"


Netra Gio melebar, dia terlihat antusias.


"Maaauuu ...!" jawabnya manja.


Aku menggendong Gio menuju halaman belakang. Ada kran air yang terhubung dengan selang, biasa dipakai Bang Rafi untuk mencuci motor. Rumah Ibu berbatasan dengan rumah Nenek Saroh, dia memelihara bebek entog dan ayam dalam kandang terbuka yang dibatasi jaring. Biasanya aku terganggu dengan baunya, tapi kali ini bebek dan ayam itu berguna juga.


Tanah di tubuh Gio luruh saat ku semprot dengan dengan selang. Mata Gio fokus pada bebek dan ayam di kandang yang sibuk berebut makanan. "Bang ambilkan sabun!" Aku berteriak pada Bang Rafi, tapi yang datang malah Kak Lisna dengan sabun dan handuk di tangannya.


"Mandi sama Mamah Yu," ajak Kak Lisna.


"Mau sama Tante!"


"Nggak apa-apa Kak, biar sama Ning aja," pungkasku.

__ADS_1


Gio jadi anak manis dan penurut kali ini, kakinya asik menginjak-injak air yang tergenang, dia semakin antusias saat melihat anak-anak bebek naik ke punggung induknya.


"Udah ya, dingin. Besok kita mandi sama bebek lagi." Aku mengambil handuk dan mengeringkan tubuh Gio. Tugas selanjutnya aku serahkan pada Kak Lisna, tubuhku pun kotor dan perlu mandi.


****


Gio diajak Bang Rafi jalan-jalan, sementara Marisa lelap dalam gendonganku. Aku dan Kak Lisna duduk bersisian membicarakan acara yang akan kami adakan.


"Rencananya mau hari apa?"


"Minggu depan."


"Ok, masih banyak waktu," ujar Kak Lisna.


Aku dan Kak Lisna mulai menyusun acara, memilih menu dengan perkiraan jumlah tamu yang hadir, merinci bahan-bahan yang digunakan juga estimasi biayanya.


Kak Lisna itu seorang sarjana teknik arsitektur, sebelum punya anak dia adalah wanita dengan karir cemerlang tapi, keadaan Gio kecil yang membutuhkan perawatan ekstra karena mengalami peneumonia membuatnya melepaskan seragam kebanggaan sebagai seorang arsitek. Pengorbanannya tidak sia-sia, sekarang Gio bukan hanya sehat tapi juga gemuk dan berisi.


Kak Lisna bersama rekan-rekannya sekarang memiliki biro konsultan arsitektur mandiri. Mereka biasa mendesain rumah, kantor, toko dan bangunan lain sesuai permintaan konsumen. Ah, aku merasa bagaikan remahan rengginang di depannya, cuma lulusan SMA yang sempat bekerja di minimarket.


"Nggak ah, biasa aja," kilahnya. "Kamu itu istimewa Ning, kamu punya hati yang luas yang tidak dimiliki banyak orang," imbuh Kak Lisna dengan senyum di bibirnya. Ternyata Kakak iparku ini tidak seseram yang kukira.


Aku senang memperhatikan bagaimana Kak Lisna berbicara, menuliskan segala hal yang harus aku lakukan dengan sangat terperinci. Kapan harus pesan kue, belanja sayur, menghubungi ibu-ibu pengajian, mendatangkan keluarga Mamah dan Si Jalu sudah dia atur sedemikian rupa aku tinggal mengikuti protokoler yang dibuatnya dan sepertinya tidak akan ada masalah.


"Bang Risman dan istrinya datang nggak ya?" tanyaku.


"Mudah-mudahan datang, tapi kamu nggak usah terlalu berharap Ning, Sintia itu seperti putri kraton, mana mau dia kumpul-kumpul sama rakyat jelata," seloroh Kak Lisna diiringi tawa yang berderai.


Ternyata bukan hanya pintar mendesain bangunan dan membuat perencanaan, Kak Lisna juga seorang informan handal alias biang gosip. Darinya aku jadi tahu banyak hal tentang keluarga Bang Rafi yang masih asing di telingaku. Termasuk tentang betapa ekslusifnya keluarga Bang Risman dan Sintia.


Aku hanya sekilas saja mencerna ucapan Kak Lisna tanpa memasukkannya ke dalam hati. Prinsipku, setiap orang pasti memiliki sisi positif. Dan tugas kita adalah memunculkan sisi positif itu.


Tahu kan betapa menyebalkannya Kak Lisna saat kami pertama kali bertemu? Waktu itu aku hanya melihat dia sebagai seorang yang judes, arogan, tak beretika, juga seorang yang penuh rasa iri. Nyatanya, dia adalah wanita yang cerdas dengan daya intelektual yang tinggi.

__ADS_1


"Kakak ini nggak bisa sesabar kamu, Ning. Kalau tadi Kakak yang ngadepin Gio, pasti sudah habis tubuh Gio Kakak cubit, setelah itu baru kemudian menyesal dan ikut nangis," tutur Kak Lisna.


"Kalau yang nangis tadi adalah Marisa, Ning juga belum tentu bisa sabar. Kan biasanya begitu, kalau sama anak orang lain bisa sabar, belum tentu sama anak sendiri," kilahku, memberikan pembelaan pada Kak Lisna, membuatnya tersenyum penuh arti.


Waktu begitu cepat berlalu, Gio dan Bang Rafi telah pulang sedari tadi dan sedang asyik main game di kamar. Menjelang tengah hari Kak Lisna pamit.


"Tunggu Ibu datang, Kak," pintaku.


"Nggak ah, Kakak males ketemu Ibu." tukas Kak Lisna.


Aku tak bisa protes, rasanya memang lebih baik menghindar daripada bertemu dan menimbulkan masalah, walaupun dengan terus seperti itu, selamanya hubungan Ibu dan Kak Lisna akan tetap renggang.


Baru saja Kak Lisna mengambil tas dan menyandangnya di bahu, bayangan Ibu sudah terlanjur nampak di depan pintu.


"Aduh, apes," lirih Kak Lisna.


Aku menyambut Ibu dan meraih tangannya, Kak Lisna pun mengikuti.


Ibu menperhatikan Kak Lisna dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku pun yang melihatnya jengah apalagi Kak Lisna.


"Suamimu sudah kaya ya, sekarang bisa beliin tas mahal begitu?"


Wajah Kak Lisna sudam memerah dia seperti granat yang sudah dicabut prmantiknya dan siap meledak, aku buru-buru menarik bahu Kak Lisna.


"Nanti, kita main ke rumah Kak Lisna yu Bu, sekarang Kak Lisna bikin kantor konsultan loh di depan rumahnya," celotehku mencoba mengalihkan suasana.


Raut muka Ibu tampak mengendur tapi hanya bertahan beberapa detik dan dia kembali menunjukkan wajah ketusnya.


"Ya, kalau yang punya rumahnya ngajak," sindir Ibu.


Aku memberikan kode pada Kak Lisna agar mengikuti permainan yang kubuat tapi aku gagal, Kak Lisna tidak dapat menutupi kekesalannya.


"Lisna dan Bang Risman selalu meminta Ibu datang, tapi Ibu yang nggak pernah mau. Jadi Ibu selalu berpikir kalau cuma Bang Risman yang nyari uang dan Lisna yang pintar menghamburkannya, nggak pernah tahu kalau Lisna juga bisa cari duit," cecar Kak Lisna.

__ADS_1


Aku sampai menahan napas, takut kalau Ibu dan Kak Lisna benar-benar bertengkar.


Nenek Singa dan Ibu Srigala sedang berhadapan, Ibu kelinci bisa apa?


__ADS_2