Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir

Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir
BAB 10 Dissonansi


__ADS_3

Setelah mendengarkan rekaman konser Nadira, Andra merasa bangga dan terkesan dengan bakat adiknya. Namun, ada satu hal yang mengganggunya - hubungan antara Nadira dan Raka. Meski dia tahu bahwa Raka telah menjadi pilar kekuatan bagi Nadira selama dia tidak ada, Andra merasa tidak nyaman dengan kedekatan mereka. Dia merasa khawatir bahwa Raka mungkin tidak memiliki niat terbaik bagi adiknya.


Andra memutuskan untuk berbicara dengan Nadira tentang perasaannya. Dia menelepon Nadira dan mengungkapkan kekhawatirannya. "Nad," kata Andra, "Aku tahu kamu sangat menyukai Raka, dan aku tahu dia telah sangat mendukungmu. Tapi aku merasa tidak nyaman dengan hubunganmu dengannya. Aku merasa seolah-olah dia mungkin tidak benar-benar peduli padamu seperti yang dia katakan."


Nadira merasa terkejut dan bingung oleh kata-kata Andra. "Tapi kak, Raka telah sangat baik padaku," kata Nadira, "Dia selalu ada untukku, dan aku tahu dia mencintaiku."


Andra menghela nafas, merasa frustrasi. "Aku tahu dia telah baik padamu, Nad," kata Andra, "Tapi aku merasa seolah-olah dia mungkin hanya menggunakanmu untuk keuntungan sendiri. Aku merasa seolah-olah dia mungkin tidak benar-benar mencintaimu seperti yang dia katakan."


Nadira merasa marah dan bingung. "Tapi kak, itu tidak adil," kata Nadira, "Kamu tidak bisa hanya berpikir buruk tentang Raka tanpa alasan yang jelas. Aku tahu dia mencintaiku, dan aku mencintainya. Kamu tidak bisa memintaku untuk putus dengannya hanya karena perasaanmu."


Andra merasa sedikit bersalah, tetapi dia tetap pada pendiriannya. "Aku hanya khawatir padamu, Nad," kata Andra, "Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Aku tidak ingin kamu terluka."

__ADS_1


Nadira merasa sedih dan kecewa, tetapi dia juga merasa bahwa dia harus berdiri untuk dirinya sendiri. "Aku menghargai kekhawatiranmu, kak," kata Nadira, "Tapi ini adalah hidupku, dan aku harus membuat keputusan sendiri. Aku mencintai Raka, dan aku percaya padanya. Aku harap kamu bisa menghargai itu."


Pembicaraan itu berakhir dengan nada sedih dan tidak nyaman. Nadira dan Andra merasa sedih dan kecewa, tetapi mereka juga merasa bahwa mereka telah mengungkapkan perasaan mereka. Mereka berdua berharap bahwa mereka dapat menemukan cara untuk memahami satu sama lain dan menyelesaikan perbedaan mereka.


Setelah percakapan dengan Andra, Nadira mulai merasa sedikit tidak yakin tentang hubungannya dengan Raka. Meskipun dia mencintai Raka dan yakin bahwa dia mencintainya, kata-kata Andra telah menanam benih keraguan dalam pikirannya.


Suatu hari, ketika Nadira dan Raka sedang berkumpul di taman, Nadira melihat Raka berbicara dengan seorang wanita yang tidak dikenal. Mereka tampak akrab, tertawa dan berbicara dengan antusias. Nadira merasa cemburu dan bingung, bertanya-tanya siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Raka.


Nadira merasa lega, tetapi ada sedikit keraguan yang masih menghantui pikirannya. Dia mulai memperhatikan lebih banyak hal tentang Raka, mencari tanda-tanda bahwa dia mungkin tidak jujur ​​atau menyembunyikan sesuatu darinya.


Seiring berjalannya waktu, Nadira merasa semakin cemas dan tidak yakin tentang hubungannya dengan Raka. Dia mulai meragukan perasaannya sendiri dan kepercayaannya pada Raka. Dia merasa bingung dan tidak tahu harus berbicara dengan siapa tentang perasaannya.

__ADS_1


Suatu malam, saat Nadira sedang menulis di jurnalnya, dia menyadari bahwa dia harus menghadapi perasaannya dan berbicara dengan Raka tentang keraguan yang dia miliki. Dia tahu bahwa komunikasi adalah kunci dalam hubungan yang sehat, dan dia tidak ingin menyembunyikan perasaannya dari Raka.


Keesokan harinya, Nadira mengajak Raka untuk duduk dan berbicara. Dia mengungkapkan kekhawatirannya dan keraguan yang telah dia rasakan sejak percakapan dengan Andra.


Raka, mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa sedih dan bingung. "Nadira," katanya, "Aku sangat menyesal membuatmu merasa seperti ini. Aku jujur ​​dalam perasaanku padamu, dan aku tidak ingin menyakiti hatimu."


Nadira menghela nafas, merasa lega bahwa mereka bisa berbicara dengan terbuka tentang perasaan mereka. "Aku tahu, Raka," katanya, "Tapi aku tidak bisa menghindari perasaan cemas ini. Aku hanya ingin kita bisa saling mempercayai sepenuhnya."


Raka mengangguk, memahami kekhawatiran Nadira. "Aku setuju," katanya, "Mari kita bekerja bersama untuk membangun kepercayaan kita dan mengatasi keraguan ini. Aku mencintaimu, Nadira, dan aku ingin hubungan kita menjadi kuat dan sehat."


Nadira tersenyum, merasa lega dan bahagia. "Aku mencintaimu juga, Raka," katanya, "Dan aku bersedia untuk bekerja keras demi hubungan kita."

__ADS_1


__ADS_2