
Setelah pertemuan mendadak dengan Andra di apartemen, Nadira memutuskan untuk pergi ke studionya. Dia merasa perlu menghabiskan waktu sendiri, berfokus pada musiknya dan melupakan perasaan canggungnya.
Studionya adalah tempat suci bagi Nadira, tempat dia bisa melupakan dunia dan tenggelam dalam melodinya. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan catatan musik dan sketsa, dan piano berkilauannya berdiri dengan bangga di tengah ruangan.
Nadira duduk di piano, merasakan kehangatan kayunya di bawah jemarinya. Dia menutup matanya, merasakan harmoni dan ritme yang mengalir melalui dirinya. Dia mulai bermain, membiarkan jemarinya menari di atas tombol, menciptakan melodi yang indah dan menyentuh.
Saat dia bermain, dia merasa perasaan canggung dan kekhawatirannya perlahan-lahan memudar. Dia merasa damai dan tenang, merasa seolah-olah dia berada di dunia sendiri. Dia membiarkan musiknya membawanya ke tempat yang jauh, tempat di mana dia bisa bebas dan bahagia.
Setelah beberapa jam bermain, Nadira merasa lebih baik. Dia merasa lebih tenang dan lebih siap untuk menghadapi tantangan yang akan datang. Dia tahu bahwa dia harus berhadapan dengan Andra dan perasaannya, tetapi dia juga tahu bahwa dia kuat dan mampu menghadapinya.
Nadira berdiri dari piano, merasa puas dengan apa yang telah dia ciptakan. Dia melihat sekeliling studionya, merasa berterima kasih karena memiliki tempat ini. Dia tahu bahwa, tidak peduli apa yang terjadi, dia akan selalu memiliki musiknya.
Setelah menghabiskan waktu di studionya, Nadira merasa lebih baik dan siap untuk kembali ke apartemen. Saat dia melangkah keluar dari lift, dia melihat Andra di depan pintu apartemennya, sedang mengatur sistem sidik jari pada pintu.
__ADS_1
Andra melihat Nadira dan tersenyum. "Hei, Nad," katanya, "Aku baru saja mengatur sistem sidik jari untuk apartemenku. Bisakah kamu memberikan sidik jari kamu juga? Hanya untuk berjaga-jaga jika kamu perlu masuk ke apartemenku suatu saat nanti."
Nadira merasa ragu sejenak, lalu mengangguk. Dia mendekati Andra dan tanpa berpikir panjang, menawarkan jari tengahnya. Andra tertawa kecil dan menghentikan Nadira. "Bukan jari itu, Nad," katanya, "Gunakan ibu jari kamu."
Nadira tersipu, menyadari kesalahannya. Dia kemudian memberikan sidik jari ibu jarinya, dan Andra menyimpannya ke dalam sistem.
Setelah selesai, Nadira bertanya dengan rasa ingin tahu, "Untuk apa aku melakukan sidik jari? Aku tidak berencana untuk masuk ke kamar kakak."
Nadira mengangguk, memahami alasan Andra. Meskipun dia merasa tidak yakin tentang semakin dekat dengan kakaknya, dia tahu bahwa Andra hanya ingin yang terbaik untuk mereka berdua.
Pagi itu, Nadira sedang bersiap-siap untuk berangkat ke studio. Dia memutuskan untuk menaiki bus, menikmati pagi yang indah dan tenang. Namun, ketenangan pagi itu segera terganggu ketika dia menerima telepon dari ibunya.
"Nadira," kata ibunya dengan suara gemetar, "Andra mengalami kecelakaan mobil. Dia telah dilarikan ke rumah sakit."
__ADS_1
Nadira merasa seolah-olah dunianya runtuh. Dia merasa pusing dan hampir jatuh, tetapi berhasil menahan diri. Dia bergegas ke rumah sakit, hatinya berdebar-debar dan pikirannya penuh dengan kekhawatiran.
Saat dia tiba di rumah sakit, dia melihat Moona, teman sekamarnya, di lorong. Nadira berlari ke arahnya, mata berkaca-kaca. "Moona," katanya, hampir berbisik, "Dimana kakakku?"
Moona melihat Nadira dengan ekspresi serius. "Nadira," katanya, "Kamu harus mengikhlaskan kakakmu."
Nadira merasa seolah-olah dia telah ditampar. Dia merasa lututnya goyah dan air mata mulai mengalir deras. Dia berjalan sepanjang lorong, menangis dan meratapi kakaknya.
Namun, sebelum dia bisa mencapai kamar Andra, ibunya muncul. "Nadira," katanya, "Ayo, kita ke kamar Andra."
Nadira mengangguk, mengikuti ibunya ke kamar Andra. Saat mereka masuk, mereka melihat Andra terbaring di tempat tidur, tampak lelah tetapi hidup. Dia hanya memiliki beberapa lecet, dan tampaknya tidak terluka parah.
Nadira merasa lega sekaligus marah. Dia merasa lega bahwa Andra baik-baik saja, tetapi marah karena Moona telah menakut-nakutinya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berbicara dengan Moona tentang ini nanti.
__ADS_1