Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir

Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir
BAB 21 Perasaan membingungkan


__ADS_3

Suatu malam, petir menyambar begitu keras hingga membuat jendela apartemen bergetar. Hujan deras turun, dan suara petir terdengar sangat keras. Nadira, yang selalu takut dengan suara petir, merasa sangat gelisah. Dia mencoba menenangkan dirinya, tetapi rasanya sulit.


Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi ke kamar Andra, berharap bisa merasa lebih aman bersama kakaknya. Nadira berjalan menuju kamar Andra, hatinya berdetak kencang setiap kali petir menyambar.


Dia mengetuk pintu dua kali, tetapi tidak ada jawaban. Nadira menatap pintu dengan kode sandi, berpikir keras. Dia ingat bahwa Andra pernah memberitahunya bahwa kode sandinya adalah kombinasi dari tanggal ulang tahun mereka berdua.


Dengan hati berdebar, Nadira menekan angka ulang tahun Andra, lalu ulang tahunnya. Dengan suara beep, pintu terbuka, mengungkapkan Andra yang sedang tidur lelap di kasurnya.


Nadira merasa lega dan segera lari ke kasur Andra. Dia memeluk Andra, merasa takut tapi juga aman. Pelukannya membuat Andra terbangun, dan dia membuka matanya sedikit, melihat Nadira yang sedang memeluknya erat.

__ADS_1


Andra tampak sedikit terkejut, tetapi dia segera tersenyum lebar. Dia memeluk Nadira kembali, merasa senang bisa menjadi tempat aman bagi adiknya. "Tenang saja, Nad," bisik Andra, "Aku di sini."


Pagi itu, Nadira terbangun dengan perasaan kenyang dan hangat. Dia membuka matanya perlahan, berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Dia ingat petir, rasa takut, dan pelukan dengan Andra. Dan sekarang, dia terbangun di kamar Andra, merasa bingung dan sedikit canggung.


Nadira menoleh dan melihat Andra masih tidur di sebelahnya. Dia melihat Andra bertelanjang dada, dan dia langsung menutupi wajahnya dengan selimut, merasa malu dan terkejut. "Oh, Tuhan," bisik Nadira, "Apa yang terjadi semalam?"


Nadira merasa lega mendengar kata-kata Andra, tetapi dia masih merasa malu. Dia berusaha bangun dari kasur, tetapi Andra menariknya kembali. "Tidak usah malu, Nad," kata Andra, "Kita adalah saudara."


Nadira mengangguk, merasa lebih tenang. Dia berbaring kembali di kasur, menatap langit-langit dan berpikir tentang apa yang terjadi. Meskipun dia merasa malu, dia juga merasa hangat dan aman bersama Andra.

__ADS_1


Setelah kejadian malam itu, sesuatu berubah dalam hati Nadira. Dia merasa berdebar setiap kali berada di dekat Andra, dan dia merasa tersipu malu setiap kali Andra tersenyum padanya. Dia merasa bingung dan takut, karena dia tahu perasaan ini tidak seharusnya dia rasakan kepada kakaknya sendiri.


Nadira mencoba menepis perasaan itu, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah efek dari kejadian malam itu. Tapi semakin dia mencoba menepisnya, semakin kuat perasaan itu muncul.


Suatu hari, saat dia sedang berada di café Andra, dia melihat Andra sedang melayani pelanggan dengan senyum lebarnya. Melihat senyum itu, jantung Nadira berdetak kencang, dan dia merasa hangat di pipinya. Dia merasa bingung dan takut, tapi dia tidak bisa menyangkal bahwa dia menyukai Andra.


Nadira merasa sangat bingung dan takut. Dia tahu bahwa perasaannya salah, bahwa dia tidak seharusnya merasa seperti ini terhadap kakaknya sendiri. Tapi dia tidak bisa menyangkal apa yang dia rasakan.


Dia memutuskan untuk menjaga perasaan itu untuk dirinya sendiri, berharap bahwa suatu hari nanti perasaan itu akan hilang. Tapi untuk saat ini, dia harus berurusan dengan perasaan yang membingungkan dan menakutkan ini.

__ADS_1


__ADS_2