
Setiap hari adalah kehampaan, sang kakak yang sempat dicintai sebagai sosok pria telah menghilang pergi untuk selama lamanya. Nadira begitu terpuruk kehilangan Andra. Walau Nadira masih bisa melihat wajah Andra yang menjadi arwah, tapi tetap saja...setelah lagu terakhir di pernikahan nenek itu akan menjadi hari terakhir Andra di dunia.
Setelah beberapa hari beristirahat di rumah, Nadira memutuskan untuk mengunjungi cafe yang dikelola oleh Andra. Cafe itu adalah tempat yang sangat penting bagi Andra, tempat di mana dia melewatkan banyak waktu dan energi. Tempat yang membuat Andra selalu tertawa.
Saat masuk ke cafe, Nadira merasa sedih dan nostalgia. Dia melihat meja dan kursi yang dikenal, lukisan di dinding, dan aroma kopi yang familiar. Semuanya mengingatkannya pada Andra. Senyuman sendu terukir di bibirnya mengingat kenangan dulu saat ia berbincang dengan Andra dan menghabiskan waktu bersama.
Segera setelah dia masuk, seorang pria yang mengurus cafe mendekatinya. "Nadira, betapa sedihnya kami atas kepergian Andra. Dia adalah orang yang baik dan kami semua merindukannya," kata pria itu, suaranya penuh dengan kesedihan.
Nadira tersenyum sedih, merasa terharu oleh kata-kata pria itu. "Terima kasih. Kami semua merindukannya," jawabnya, suaranya penuh dengan rasa sakit dan rindu.
__ADS_1
"Kami semua bersedih atas kepergiannya, tapi saya yakin diantara semua yang bersedih, kamu pasti sangat kehilangannya kan." Ucap Pelayan di cafe tersebut. "Silahkan duduk dulu, saya akan kembali bekerja". Pria itu menarik kursi agar mempersilahkan Nadira untuk duduk. Nadira hanya mengangguk dengan senyumnya.
Setelah pria itu pergi, Nadira duduk di salah satu meja, menatap sekeliling cafe. Dia merasa sendirian, merasa seperti sebagian dari dirinya hilang tanpa Andra.
Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang menyakitkan di dadanya. Dia merasa seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya, membuatnya merasa sesak dan kesakitan. Namun, rasa sakit itu segera hilang, membuatnya merasa bingung dan ketakutan.
"Andra... apakah itu kamu?" bisik Nadira, merasa bingung dan takut. Dia merasa seperti Andra masih ada di sana, masih ada di sekelilingnya, meskipun dia tahu bahwa Andra sudah pergi.
"Andra... aku ingin bertemu denganmu," bisik Nadira, suaranya penuh dengan rindu dan harapan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Andra muncul di samping Nadira, wajahnya penuh dengan kasih sayang dan kepedulian. "Aku di sini, Nad. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Andra, suaranya lembut dan hangat.
Nadira menatap Andra, air mata mengalir di pipinya. "Aku menyesal, Kak. Aku menyesal karena kecelakaan itu terjadi. Aku menyesal karena aku tidak bisa melindungimu," kata Nadira, suaranya penuh dengan penyesalan dan rasa bersalah.
Andra menatap Nadira dengan kasih sayang, matanya penuh dengan pengertian. "Nad, itu bukan salahmu. Kecelakaan itu tak terduga, dan tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk mencegahnya," kata Andra, mencoba menenangkan Nadira.
Nadira mengangguk, mencoba menerima kata-kata Andra, tetapi dia masih merasa bersalah dan sedih. "Tapi, Kak... aku merindukanmu. Aku merindukan waktu kita bersama, waktu kita tertawa dan bercanda, waktu kita merasa bahagia dan bebas," kata Nadira, suaranya penuh dengan rasa sakit dan kerinduan.
Andra merangkul Nadira, walaupun dia tahu bahwa Nadira tidak bisa merasakannya. "Aku juga merindukanmu, Nad. Tapi yang terpenting adalah kamu harus melanjutkan hidup. Kamu harus menjalani hidup yang baik dan bermakna, untuk menghormati pengorbananku."
__ADS_1
Nadira menangis, merasa sedih dan bersyukur sekaligus. Dia tahu bahwa Andra benar, bahwa dia harus melanjutkan hidup. Tapi dia juga tahu bahwa dia tidak akan pernah melupakan Andra, kakak yang selalu ada di hatinya.