
Beberapa hari sebelum pesta ulang tahun nenek mereka, Andra dan Nadira duduk di ruang tamu, berbicara tentang persiapan penampilan Nadira. Nadira merasa gugup dan bersemangat sekaligus, ingin memberikan penampilan terbaiknya.
"Andra, kamu akan datang kan untuk melihat penampilanku?" tanya Nadira, mencari dukungan dari kakaknya.
Andra tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja, Nad. Aku tidak akan melewatkan penampilanmu. Aku akan berada di sana untuk mendukungmu."
Nadira merasa lega mendengar kata-kata Andra, tetapi seiring waktu, dia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ada perasaan tak menentu yang muncul di hatinya, seolah-olah ada sesuatu yang buruk akan terjadi pada Andra.
Dia mencoba mengabaikan perasaan itu, berfokus pada persiapan penampilannya. Namun, perasaan itu terus menghantui pikirannya, membuatnya merasa cemas dan khawatir.
Pada suatu malam, Nadira tidak bisa tidur. Dia duduk di tempat tidurnya, memikirkan perasaan tak menentu yang dia rasakan. Akhirnya, dia memutuskan untuk berbicara dengan Andra tentang perasaannya.
Dia pergi ke kamar Andra dan mengetuk pintunya. "Kak, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Nadira, suaranya lembut dan gelisah.
__ADS_1
Andra membuka pintu dan melihat Nadira yang tampak cemas. "Ada apa, Nad? Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya, khawatir.
Nadira menghela nafas dan berkata, "Kak, aku merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi padamu. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini."
Andra menatap Nadira, merasa terkejut dan bingung. "Nad, jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Mungkin kamu hanya terlalu gugup karena penampilanmu nanti."
Nadira mengangguk, berharap bahwa perasaannya salah. "Mungkin kamu benar, Kak. Aku hanya... khawatir."
Andra mengelus rambut Nadira dan tersenyum, "Jangan khawatir, Nad. Semuanya akan baik-baik saja. Ayo istirahat, besok kita akan melanjutkan persiapan penampilanmu."
"Andra, aku senang kita bisa menghabiskan waktu bersama hari ini," kata Nadira, tersenyum lebar.
Andra membalas senyuman Nadira, "Aku juga, Nad. Hari ini akan menjadi hari yang baik."
__ADS_1
Namun, takdir memutuskan untuk mengubah hidup mereka selamanya. Saat mereka melaju di jalan raya, sebuah truk besar kehilangan kendali dan menabrak mobil mereka dengan keras.
Mobil mereka hancur, dan Nadira dan Andra terluka parah. Orang-orang di sekitar segera memanggil ambulans, berusaha menyelamatkan mereka.
Di rumah sakit, dokter memberi tahu keluarga mereka bahwa Andra telah tewas karena kepalanya terpentur sangat keras. Nadira, di sisi lain, masih hidup, tetapi kondisinya kritis. Dokter mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan Nadira adalah dengan transplantasi hati.
"Kami bisa menggunakan hati Andra untuk menyelamatkan Nadira," kata dokter dengan suara yang penuh dengan simpati dan kesungguhan.
Keluarga mereka, terutama ibu mereka, merasa hancur dan putus asa. Namun, dokter memberi mereka sebuah pilihan yang sulit.
Setelah berpikir panjang dan berbicara dengan Nadira, keluarga mereka memutuskan untuk menerima tawaran dokter. Mereka merasa bahwa ini adalah cara terbaik untuk menghormati Andra dan menyelamatkan Nadira.
"Kami akan melakukannya," kata ibu mereka, suaranya penuh dengan kesedihan dan determinasi. "Kami akan menyelamatkan Nadira."
__ADS_1
Operasi transplantasi hati berjalan lancar, dan Nadira mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Meskipun dia merasa sedih dan bersalah karena kehilangan Andra, dia juga merasa berterima kasih karena diberi kesempatan untuk hidup.
"Aku akan menjalani hidup ini dengan baik, Kak," bisik Nadira, menatap foto Andra dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku berjanji."