
Suatu sore, ibu Nadira duduk di ruang tamu, menelusuri album foto keluarga lama. Dia tersenyum saat melihat foto-foto masa kecil Nadira dan Andra, merasa hangat dan bahagia mengingat kenangan indah itu.
Namun, saat dia melihat foto kecil putra-putrinya, dia merasa sedih dan penuh penyesalan. Dia tahu bahwa dia telah menyimpan rahasia besar dari mereka, dan dia merasa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkannya.
"Ku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkap kebenarannya dan memberi tahu mereka berdua," gumamnya, merasa berat namun lega.
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Nadira, mengundang dia dan Andra untuk makan malam bersama di rumahnya. "Hai, Nad," katanya dengan suara lembut, "Aku ingin kita makan malam bersama malam ini. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua."
Nadira merasa penasaran dan bersemangat, "Baiklah, Bu. Tapi, apa yang ingin Ibu bicarakan?"
Ibu Nadira tersenyum lembut di seberang telepon, "Kita akan bicarakan saat makan malam, Nad. Sampai jumpa malam ini."
Nadira setuju dan menutup telepon, merasa penasaran tetapi menantikan makan malam keluarga di rumah mereka.
Pada hari berikutnya, Nadira memutuskan untuk mengunjungi café Andra. Dia ingin memberi tahu Andra tentang undangan makan malam dari ibu mereka dan melihat reaksi Andra.
Saat dia memasuki café, dia bisa melihat Andra sedang sibuk melayani pelanggan. Dia tersenyum melihat Andra bekerja dengan semangat dan dedikasi.
"Andra!" seru Nadira, menarik perhatian Andra.
__ADS_1
Andra menoleh dan tersenyum saat melihat Nadira. "Hai, Nad! Ada yang bisa aku bantu?" tanyanya, menyambut Nadira dengan hangat.
Nadira tersenyum dan duduk di salah satu meja. "Sebenarnya, Kak, Ibu menghubungiku kemarin. Dia mengundang kita untuk makan malam bersama di rumahnya malam ini," jelas Nadira, menunggu reaksi Andra.
Andra tampak terkejut sejenak, namun segera tersenyum. "Baiklah, terima kasih sudah memberi tahuku, Nad. Aku akan datang," katanya, merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Sementara mereka berbicara, beberapa pelanggan di café mulai bergosip tentang adik-kakak ini. "Lihat mereka berdua, begitu mesra dan romantis," bisik salah satu pelanggan. "Apakah mereka benar-benar saudara kandung?" tanya pelanggan lainnya dengan rasa penasaran.
Meskipun Nadira dan Andra tidak menyadari gosip yang beredar, mereka tetap fokus pada percakapan mereka dan menantikan makan malam bersama nanti malam.
Malam itu, Nadira dan Andra tiba di rumah ibu mereka, merasa bersemangat dan penasaran tentang apa yang akan dibicarakan ibu mereka. Rumah itu tampak hangat dan nyaman, dan aroma makanan lezat menyambut mereka saat mereka memasuki rumah.
Ibu mereka keluar dari dapur, tersenyum lebar. "Selamat datang, anak-anakku. Ayo, makan malam sudah siap," katanya, mengajak mereka ke meja makan.
Mereka duduk di meja makan, menikmati makanan lezat yang disiapkan ibu mereka. Mereka berbicara dan tertawa, menikmati waktu bersama sebagai keluarga. Mereka berbagi cerita tentang pekerjaan mereka, hobi, dan kenangan indah dari masa kecil mereka. Mereka merasa hangat dan bahagia, merasa dekat satu sama lain.
Setelah makan malam, ibu mereka tampak serius. "Anak-anak, ada sesuatu yang perlu kubicarakan dengan kalian berdua," katanya, suaranya penuh dengan kecemasan dan harapan.
Nadira dan Andra merasa tegang, menunggu ibu mereka berbicara. Mereka tidak tahu apa yang akan dibicarakan ibu mereka, tetapi mereka tahu bahwa ini penting.
__ADS_1
Ibu mereka menghela nafas dalam-dalam, lalu mulai berbicara. "Anak-anak, selama ini aku telah menyimpan rahasia besar dari kalian berdua. Aku merasa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkannya," katanya, suaranya bergetar.
Nadira dan Andra saling pandang, merasa cemas dan penasaran. Mereka tidak pernah menduga bahwa ibu mereka memiliki rahasia besar yang disembunyikan dari mereka.
Ibu mereka melanjutkan, "Rahasia ini adalah tentang hubungan darah kalian berdua. Andra, kau bukan anak kandungku. Aku dan ayahmu mengadopsimu saat kau masih bayi, dan kami membesarkanmu sebagai anak kami sendiri."
Mereka berdua terkejut mendengar pengungkapan ini. Andra merasa bingung dan tidak percaya, sementara Nadira merasa kasihan pada kakaknya.
Ibu mereka melanjutkan, "Nadira, kau adalah satu-satunya anak kandung kami. Itulah sebabnya aku sangat menginginkanmu menguasai instrumen piano. Aku ingin kau mewarisi bakat musik yang ada dalam keluarga kita."
Nadira dan Andra masih terkejut, mencoba mencerna informasi baru ini. Mereka merasa bingung, marah, dan sedih, tetapi mereka juga merasa lega bahwa rahasia ini akhirnya terungkap.
Setelah beberapa saat, Andra berbicara. "Terima kasih, Ibu, sudah mengungkapkan ini kepada kami. Aku... aku perlu waktu untuk memikirkannya," katanya, suaranya lembut dan sedikit bergetar.
Nadira mengangguk, merasa setuju dengan Andra. "Aku juga perlu waktu untuk memikirkan semua ini, Ibu. Tapi, terima kasih sudah jujur kepada kami."
Ibu mereka tersenyum sedih, merasa lega bahwa anak-anaknya bisa menerima pengungkapannya. "Aku mencintai kalian berdua, anak-anakku, tak peduli darah apa yang mengalir dalam tubuh kalian. Aku hanya ingin kalian tahu kebenaran," katanya, matanya berkaca-kaca.
Mereka berpelukan, merasa hangat dan nyaman satu sama lain, meskipun rasa sakit dan kebingungan yang mereka rasakan. Mereka tahu bahwa ini akan menjadi awal yang baru bagi mereka sebagai keluarga, dan mereka berharap bahwa mereka bisa melewati masa sulit ini bersama-sama.
__ADS_1