
Suatu hari, saat Nadira sedang berlatih piano di rumah, ponselnya berdering. Dia melihat layar dan terkejut melihat nama Andra muncul. Dia cepat-cepat mengangkat panggilan itu dan layar menunjukkan wajah Andra yang tersenyum.
"Hai, Nad," kata Andra, suaranya hangat dan akrab. "Bagaimana kabarmu?"
Nadira tersenyum, merasa senang mendengar suara kakaknya. "Aku baik-baik saja, kak," jawabnya, "Bagaimana denganmu?"
Andra mengangguk, tampak senang. "Aku juga baik-baik saja," katanya, "Sibuk dengan kuliah dan latihan musik, tapi aku menikmatinya."
Mereka berbicara tentang berbagai hal, dari kehidupan Andra di universitas hingga proyek musik terbaru Nadira. Namun, sepanjang percakapan, Nadira merasa ada sesuatu yang mengganjal. Dia merasa canggung dan tidak yakin tentang apa yang harus dikatakan atau bagaimana bersikap.
"Andra," kata Nadira akhirnya, "Aku... aku merasa sedikit canggung."
Andra tampak terkejut, tetapi dia cepat-cepat menenangkan Nadira. "Tidak apa-apa, Nad," katanya, "Aku tahu perpisahan kita membuat banyak hal berubah. Tapi kita masih saudara, dan kita masih peduli satu sama lain."
Nadira mengangguk, merasa sedikit lebih baik. "Aku tahu, kak," katanya, "Tapi... aku merasa seperti ada banyak hal yang ingin aku katakan, tetapi aku tidak tahu bagaimana mengatakannya."
Andra tersenyum, tampak mengerti. "Kita punya waktu, Nad," katanya, "Kita tidak perlu memaksa diri untuk berbicara tentang segalanya sekaligus. Kita bisa berbicara sedikit demi sedikit, dan kita akan menemukan cara untuk memahami satu sama lain lagi."
__ADS_1
Nadira merasa lega mendengar kata-kata Andra. Dia tahu bahwa dia beruntung memiliki kakak seperti Andra, dan dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan bekerja keras untuk menjaga hubungan mereka tetap kuat.
Sembilan tahun telah berlalu sejak Andra pergi untuk mengejar mimpinya di universitas musik terkenal. Selama waktu itu, Nadira telah tumbuh menjadi wanita muda yang kuat dan berbakat. Dia telah berhasil masuk ke universitas piano terbaik di negara tersebut dan telah melanjutkan hidupnya tanpa Andra.
Suatu hari, Andra memutuskan untuk pulang tanpa memberi tahu Nadira. Dia ingin melihat bagaimana adiknya telah tumbuh dan berkembang selama bertahun-tahun tanpa dia. Setelah tiba di kota asal mereka, Andra mulai mengikuti Nadira secara diam-diam, mengamati kehidupan adiknya dari kejauhan.
Andra melihat bagaimana Nadira berlatih piano dengan tekun, menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dan menjalani kehidupan yang bahagia dan sukses. Dia merasa bangga melihat adiknya telah menjadi wanita muda yang mandiri dan berbakat.
Namun, Andra juga merasa sedih karena dia telah melewatkan begitu banyak momen penting dalam kehidupan Nadira. Dia merasa bersalah karena tidak ada di sana untuk mendukung dan melindungi adiknya selama bertahun-tahun.
Suatu sore, ketika Nadira sedang berjalan pulang dari universitas, Andra memutuskan bahwa saatnya telah tiba untuk mengungkapkan keberadaannya. Dia menghampiri Nadira dan menyapanya dengan lembut.
Nadira menoleh, terkejut melihat wajah kakaknya yang sudah lama hilang. Dia merasa bingung dan kaget, tidak tahu apa yang harus dikatakan atau bagaimana harus bersikap.
"Kak... Andra?" bisik Nadira, hampir tidak percaya.
Andra tersenyum, meskipun matanya berkaca-kaca. "Ya, adikku, aku kembali. Aku ingin melihatmu dan memastikan kamu baik-baik saja."
__ADS_1
Nadira merasa campur aduk antara gembira dan marah. "Mengapa kamu tidak memberi tahu aku bahwa kamu akan pulang? Mengapa kamu mengikuti aku tanpa aku tahu?"
Andra merasa bersalah dan meminta maaf. "Aku minta maaf, Nadira. Aku ingin melihat bagaimana kehidupanmu tanpa aku. Aku ingin memastikan kamu bahagia dan sukses."
Meskipun Nadira masih merasa bingung, dia tahu bahwa Andra hanya ingin yang terbaik untuknya. Mereka berpelukan, merasakan kehangatan dan kasih sayang yang telah mereka rindukan selama bertahun-tahun.
Setelah Andra mengungkapkan keberadaannya, Nadira merasa canggung berada di dekat kakaknya. Meskipun dia merindukan Andra selama bertahun-tahun, dia tidak tahu bagaimana bersikap atau berbicara dengannya. Begitu banyak hal telah berubah, dan mereka tampaknya telah tumbuh terpisah.
Andra segera menyadari ketidaknyamanan Nadira dan memutuskan untuk mengambil inisiatif. Dia ingin memastikan bahwa adiknya merasa aman dan nyaman di sekitarnya. Dia mulai berbicara lebih banyak dengan Nadira, mengajaknya untuk menghabiskan waktu bersama, dan selalu ada untuk mendukungnya.
Andra juga menjadi lebih protektif terhadap Nadira. Dia selalu memastikan bahwa dia aman saat mereka keluar bersama, dan dia selalu siap untuk membela adiknya jika diperlukan. Nadira merasa terharu oleh perhatian dan kepedulian Andra, dan perlahan-lahan mulai merasa lebih nyaman di sekitarnya.
Suatu hari, mereka pergi ke taman bersama untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama. Mereka duduk di bawah pohon yang sama tempat mereka sering bermain saat masih kecil, menikmati keindahan alam dan mengenang masa lalu.
"Kak," kata Nadira, "Aku... aku merasa canggung sejak kamu kembali. Aku merasa seolah-olah kita telah tumbuh terpisah dan aku tidak tahu bagaimana bersikap di sekitarmu."
Andra tersenyum lembut, memahami perasaan adiknya. "Aku tahu, Nad," katanya, "Tapi kita masih saudara, dan kita selalu akan memiliki ikatan yang kuat. Aku yakin kita akan menemukan cara untuk memahami satu sama lain lagi."
__ADS_1
Nadira mengangguk, merasa sedikit lebih baik. "Terima kasih, kak," katanya, "Aku senang kamu ada di sini untukku."
Mereka berdua duduk di bawah pohon itu, merasa damai dan bahagia. Mereka merasa seolah-olah mereka telah menemukan kembali bagian dari masa lalu mereka, dan mereka merasa bersemangat untuk masa depan yang akan datang.