
Beberapa hari berlalu, dan Nadira terus berlatih di depan piano, mempersiapkan diri untuk penampilannya. Setiap malam, dia berbicara dengan Andra, mencari kenyamanan dan dukungan dari kakaknya.
Suatu malam, setelah berlatih, Nadira memanggil nama Andra dengan suara yang lembut. "Andra... aku punya pertanyaan untukmu," kata Nadira, suaranya penuh dengan kekhawatiran dan penasaran.
Andra muncul di samping Nadira, wajahnya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang. "Apa itu, Nad?" tanya Andra, suaranya penuh dengan kepedulian.
Nadira menatap Andra, matanya penuh dengan pertanyaan dan kekhawatiran. "Kak, setelah aku membawakan lagu itu... apakah kamu akan menghilang selamanya?" tanya Nadira, suaranya penuh dengan takut dan harapan.
Andra menatap Nadira, matanya penuh dengan penyesalan dan kesedihan. "Nad, aku... aku tidak tahu. Tapi yang pasti, jika aku pergi, itu berarti aku sudah menemukan kedamaian. Itu berarti aku sudah memenuhi janjiku," kata Andra, suaranya penuh dengan kejujuran dan pengertian.
Nadira merasa hatinya teriris mendengar kata-kata Andra. Dia merasa sedih, tetapi juga merasa lega. Dia tahu bahwa jika Andra pergi, itu berarti dia sudah menemukan kedamaian. Dan itu adalah hal yang paling dia inginkan untuk kakaknya.
__ADS_1
"Aku mengerti, Kak. Aku... Aku akan mencoba menerima itu," kata Nadira, suaranya penuh dengan keberanian dan determinasi.
Andra tersenyum, merasa bangga dan berterima kasih kepada Nadira. "Terima kasih, Nad. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu," katanya, suaranya penuh dengan kasih sayang dan penghargaan.
Hari ulang tahun Nenek Sari tiba, dan rumah mereka dipenuhi dengan keramaian dan kegembiraan. Tamu mulai berdatangan, membawa hadiah dan ucapan selamat, dan suasana penuh dengan tawa dan percakapan.
Nadira, di sisi lain, merasa gugup dan bersemangat. Dia tahu bahwa ini adalah hari yang penting, hari di mana dia akan memenuhi janji kepada Andra dan membuat Nenek Sari bangga.
Nenek Sari tersenyum, merasa bangga dan berterima kasih. "Nadira, aku tahu kamu akan melakukan yang terbaik. Aku sudah bangga padamu," kata Nenek Sari, suaranya penuh dengan kasih sayang dan dukungan.
Ibunya, di sisi lain, merasa gugup dan khawatir. "Nadira, jangan terlalu membebani dirimu. Lakukan yang terbaik, tetapi ingatlah untuk merawat dirimu," kata ibunya, suaranya penuh dengan kekhawatiran dan kasih sayang.
__ADS_1
Nadira mengangguk, merasa berterima kasih atas dukungan dan kasih sayang ibunya dan neneknya. "Terima kasih, Ibu, Nek. Aku akan berusaha sebaik mungkin," jawab Nadira, suaranya penuh dengan determinasi dan harapan.
Saat tiba waktunya untuk pertunjukan, Nadira merasa gugup dan bersemangat. Dia berjalan menuju panggung, merasa seperti jantungnya berdetak kencang dan tangan-tangannya berkeringat.
Namun, sebelum dia naik ke panggung, host acara memanggilnya. "Sekarang, kita akan mendengar penampilan dari Nadira Oktavia. Dia akan memainkan lagu yang sangat spesial untuknya," kata host acara, suaranya penuh dengan antusiasme dan kegembiraan.
Nadira berdiri di panggung, menatap penonton yang penuh dengan keluarga dan teman-teman. Dia merasa gugup, tetapi juga merasa bersemangat. Dia tahu bahwa ini adalah momen yang dia tunggu-tunggu, momen yang akan memenuhi janji Andra.
Namun, saat dia berjalan menuju panggung, dia merasakan sesuatu yang menyakitkan di dadanya. Dia merasa seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya, membuatnya merasa sesak dan kesakitan.
Nadira berhenti, merasa khawatir dan takut. Dia merasa seperti ada sesuatu yang salah, tetapi dia tidak tahu apa itu. Dia merasa bingung dan ketakutan, tetapi dia juga merasa bertekad untuk melanjutkan pertunjukan.
__ADS_1