Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir

Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir
BAB 22 Candaan yang menyembunyikan perasaan


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu dan perasaan membingungkan yang muncul, Nadira memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama Andra. Mereka berdua mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama, baik di café Andra maupun di apartemen mereka.


Suatu hari, mereka berdua memutuskan untuk menghabiskan hari di taman kota. Mereka berjalan-jalan, berbicara tentang berbagai hal, dan menikmati suasana taman yang damai. Andra tampak sangat senang, dan Nadira merasa hangat melihat senyum kakaknya.


Pada hari lain, mereka berdua memutuskan untuk menonton film bersama di apartemen mereka. Mereka memilih film komedi, dan mereka tertawa bersama, merasa bahagia dan nyaman satu sama lain. Meskipun Nadira merasa bingung dengan perasaannya, dia tidak bisa menyangkal bahwa dia merasa bahagia bersama Andra.


Ada juga hari ketika mereka berdua memasak makan malam bersama. Mereka berdua berada di dapur, memotong sayuran, memasak, dan tertawa bersama. Mereka berbagi cerita dan kenangan, merasa dekat dan hangat satu sama lain.


Meskipun Nadira merasa bingung dan takut dengan perasaannya, dia tidak bisa menyangkal bahwa dia merasa bahagia bersama Andra. Dia merasa nyaman dan aman bersama kakaknya, dan dia merasa hangat setiap kali Andra tersenyum padanya.


Suatu sore, setelah selesai bekerja di café, Andra dan Nadira memutuskan untuk duduk di teras belakang café, menikmati secangkir kopi sambil berbicara tentang berbagai hal.


"Mereka bilang kopi ini adalah yang terbaik di kota," kata Andra, tersenyum sambil menyerahkan secangkir kopi kepada Nadira.

__ADS_1


Nadira mengangguk sambil tersenyum, "Aku yakin itu benar, Kak. Cafému selalu penuh dengan pelanggan."


Andra tertawa, "Ya, itu berkat kerja keras kita semua."


Setelah beberapa menit menikmati kopi mereka dalam hening, Nadira merasa perlu berbicara tentang perasaannya yang membingungkannya. "Kak, aku... aku merasa bingung tentang perasaanku," ucapnya dengan suara gemetar.


Andra menatap Nadira, tampak terkejut namun tetap tenang. "Oh? Apa yang membuatmu bingung, Nad?" tanyanya dengan lembut.


Andra tampak terkejut, tapi dia tersenyum dan tampak tersipu malu. "Apa kamu sedang mengajakku berpacaran, Nad?" godanya, mencoba meredakan ketegangan.


Nadira tampak terkejut dan memerah, tapi Andra cepat-cepat menambahkan, "Itu hanya candaan, Nad."


Namun, di balik candaannya, ada benih kebenaran. Andra menyadari bahwa perasaannya terhadap Nadira telah berubah. Dia mulai melihat Nadira tidak hanya sebagai adik perempuannya, tetapi juga sebagai seorang wanita. Meskipun dia merasa bingung dan takut, dia tidak bisa menyangkal perasaannya.

__ADS_1


Suatu pagi, Moona menerima telepon dari ibunya. "Moona, kita perlu berbicara," kata ibunya, suaranya serius. "Bisakah kamu pulang ke rumah untuk beberapa hari?"


Moona merasa bingung, tetapi dia tahu bahwa ibunya tidak akan memintanya pulang jika tidak penting. "Baik, Ibu," jawab Moona, "Aku akan pulang hari ini."


Moona memberi tahu Nadira dan Andra tentang keperluannya untuk pulang. "Aku harus pergi ke rumah Ibu untuk beberapa hari," katanya, "Ada sesuatu yang perlu dibicarakan."


Nadira dan Andra tampak sedikit terkejut, tetapi mereka mengerti. "Baiklah, Moona," kata Nadira, "Kami akan merindukanmu."


Moona tersenyum, "Aku juga akan merindukan kalian. Tapi jangan khawatir, aku akan pulang dalam lima hari."


Selain berbicara dengan ibunya, Moona juga berencana untuk mengunjungi neneknya di kampung halaman. Dia belum melihat neneknya dalam beberapa bulan, dan dia merindukan suasana damai dan hangat di kampung halaman.


Setelah berkemas dan berpamitan dengan Nadira dan Andra, Moona berangkat ke rumah ibunya. Dia merasa sedikit gugup tentang apa yang perlu dibicarakan, tetapi dia tahu bahwa apa pun itu, dia bisa mengatasinya.

__ADS_1


__ADS_2