
Setelah mendapatkan telepon dari ibunya tentang kecelakaan Andra, Nadira merasa seolah-olah dunianya runtuh. Dia berlari ke rumah sakit, hatinya dipenuhi kekhawatiran yang mengerikan. Saat dia memasuki lorong rumah sakit, dia melihat Moona, teman sekamarnya, menunggunya.
"Moona," kata Nadira dengan suara gemetar, "Bagaimana keadaan kakakku?"
Moona melihat Nadira dengan ekspresi serius. "Nadira," katanya, "Kamu harus mengikhlaskan kakakmu."
Nadira merasa seolah-olah dia telah ditampar. Dia merasa lututnya goyah dan air mata mulai mengalir deras. Dia berjalan sepanjang lorong, menangis dan meratapi kakaknya.
Namun, sebelum dia bisa mencapai kamar Andra, ibunya muncul. "Nadira," katanya, "Ayo, kita ke kamar Andra."
Nadira mengangguk, mengikuti ibunya ke kamar Andra. Saat mereka masuk, mereka melihat Andra terbaring di tempat tidur, matanya terbuka dan tampak bingung.
Nadira melihat Andra dan menjerit, lari ke arahnya dan memeluknya erat. Andra tampak terkejut, tetapi kemudian membalas pelukan Nadira, menepuk punggungnya dan berusaha menenangkannya.
"Tenang, Nad," kata Andra, "Aku baik-baik saja. Aku di sini."
__ADS_1
Nadira merasa lega mendengar suara Andra, dan air matanya mulai mereda. Dia merasa begitu lega bahwa Andra baik-baik saja, dan dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan membiarkan Moona atau siapa pun membuatnya takut seperti itu lagi.
Setelah mengetahui bahwa Andra baik-baik saja, Nadira memutuskan untuk merawat kakaknya selama hari itu. Dia ingin memastikan bahwa Andra merasa nyaman dan pulih secepat mungkin. Nadira menghabiskan waktu di sisi Andra, membantunya dengan segala sesuatu yang ia butuhkan.
Karena Andra belum diperbolehkan mandi, Nadira membantu membersihkan wajahnya dengan hati-hati menggunakan kain basah. Dia berbicara dengan Andra, mencoba membuatnya merasa lebih baik dengan bercerita tentang kehidupan sehari-harinya dan teman-temannya.
Saat waktunya makan, Nadira menyuapi Andra dengan lembut, memastikan dia makan cukup dan mendapatkan nutrisi yang dibutuhkannya. Andra merasa sangat berterima kasih atas perhatian dan kasih sayang yang diberikan Nadira kepadanya.
Sementara itu, Moona merasa bersalah karena telah menjahili Nadira tentang keadaan Andra. Dia memutuskan untuk mengirim pesan kepada Nadira melalui WeChat, meminta maaf atas perbuatannya.
Nadira membaca pesan Moona dan merasa lega bahwa temannya telah menyadari kesalahannya. Meskipun dia masih merasa sedikit marah, dia tahu bahwa Moona tidak bermaksud menyakiti perasaannya.
"Aku memaafkanmu, Moona," balas Nadira, "Tapi jangan pernah menjahiliku seperti itu lagi. Aku sangat khawatir tentang Andra."
Moona mengirim pesan balasan, berjanji bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahannya. "Terima kasih, Nadira. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi."
__ADS_1
Dengan permintaan maaf Moona diterima, Nadira merasa lebih baik. Dia tahu bahwa teman-temannya peduli padanya, dan dia berharap bahwa, bersama-sama, mereka akan dapat menghadapi tantangan apa pun yang datang.
Setelah beberapa hari di rumah sakit, kondisi Andra mulai membaik. Dokter mengatakan bahwa dia cukup sehat untuk pulang dan melanjutkan pemulihan di apartemen. Nadira merasa lega dan bahagia mendengar kabar ini.
Pada hari Andra akan pulang, Nadira membantu mengurus semua dokumen dan persiapan yang diperlukan. Mereka berdua meninggalkan rumah sakit bersama, berbicara tentang rencana mereka untuk masa depan dan bagaimana mereka akan menjalani kehidupan mereka di apartemen yang sama.
Saat mereka tiba di apartemen, Andra tampak terkejut melihat betapa dekat apartemennya dengan tempat tinggal Nadira. "Wow," katanya, "Aku tidak menyadari betapa dekatnya kita sekarang."
Nadira tersenyum. "Ya, kita akan bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama sekarang," katanya, "Aku harap kita bisa memperbaiki hubungan kita."
Andra mengangguk, setuju dengan pernyataan Nadira. "Aku juga berharap begitu, Nad," katanya, "Kita harus bekerja keras untuk memahami satu sama lain lagi dan menjadi dekat seperti dulu."
Dalam beberapa hari berikutnya, Nadira dan Andra mulai menjalani kehidupan mereka di apartemen yang sama. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, baik di dalam maupun di luar apartemen, dan perlahan-lahan mulai membangun kembali hubungan mereka.
Meskipun masih ada rasa canggung dan ketidakpastian di antara mereka, mereka berdua berusaha keras untuk saling mendukung dan memahami satu sama lain. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka mungkin tidak akan mudah, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka memiliki kesempatan yang luar biasa untuk menjadi dekat lagi sebagai saudara.
__ADS_1