
Acara ulang tahun Nenek Sari berlanjut dengan meriah, penuh dengan tawa dan percakapan. Namun, di tengah keramaian dan kegembiraan, ada satu detail yang menarik perhatian semua orang: kursi kosong di barisan paling depan.
Host acara, seorang pria yang berkarisma dan berwibawa, memperhatikan kursi kosong itu. Dia merasa bingung, tidak tahu mengapa kursi itu kosong. "Sepertinya ada kursi kosong di barisan paling depan. Apakah orang yang seharusnya duduk di sana tidak datang?" tanya host acara, suaranya penuh dengan kebingungan dan penasaran.
Nadira, yang berdiri di panggung, merasa jantungnya berdetak kencang. Dia tahu bahwa kursi itu dipesan untuk Andra, kakaknya yang telah tiada. Dia merasa sedih, tetapi juga merasa bertekad untuk melanjutkan pertunjukan.
"Orang yang seharusnya duduk di sana... dia tidak bisa datang," kata Nadira, suaranya penuh dengan rasa sakit dan penyesalan. "Tapi dia ada di sini, di hati kita semua."
Host acara dan penonton tampak bingung, tidak tahu apa yang dimaksud Nadira. Namun, mereka merasa terharu oleh kata-kata Nadira, merasa simpati atas rasa sakit dan penyesalannya.
Namun, di tengah kebingungan dan simpati, ada satu orang yang tahu apa yang dimaksud Nadira. Itu adalah Andra, arwah kakaknya, yang duduk di kursi kosong itu.
Andra menatap Nadira, matanya penuh dengan kasih sayang dan kebanggaan. "Nad, aku di sini. Aku selalu di sini untukmu," bisik Andra, suaranya penuh dengan kasih sayang dan dukungan.
Nadira merasa lega, merasa seperti beban di hatinya sedikit terangkat. Dia tahu bahwa Andra ada di sana, mendukung dan mengawasi pertunjukannya.
__ADS_1
Sebelum dia mulai bermain, Nadira berbicara ke mikrofon. "Lagu yang akan saya mainkan malam ini adalah lagu kesukaan Nenek Sari, 'Melodi Cinta'. Lagu ini saya persembahkan untuk Nenek dan untuk seseorang yang sangat saya cintai dan rindukan," kata Nadira, suaranya penuh dengan harapan dan determinasi.
Dia duduk di piano, merasa gugup dan bersemangat. Dia merasa seperti jantungnya berdetak kencang, tetapi dia juga merasa bersemangat. Dia tahu bahwa ini adalah momen yang dia tunggu-tunggu, momen yang akan memenuhi janji Andra.
Dia mulai bermain, setiap not, setiap nada, setiap melodi mengalir dari jari-jarinya dengan penuh emosi. Dia bermain untuk dirinya sendiri, untuk Andra, dan untuk Nenek Sari.
Saat Nadira mulai memainkan "Melodi Cinta," semua orang di ruangan itu terpukau. Nada-nada yang indah dan emosional mengalir dari jari-jari Nadira, menciptakan suasana yang sangat emosional dan mengharukan. Setiap orang merasakan kekuatan cinta dan rindu yang ada dalam setiap not yang dimainkan Nadira.
Di saat-saat terakhir lagu itu akan berhenti, Nadira menangis sambil terus memainkan piano. Air mata mengalir deras di pipinya, mencerminkan rasa sakit dan kerinduan yang dia rasakan untuk Andra. Sementara itu, Andra perlahan mulai tak terlihat lagi oleh Nadira. Dia mulai menghilang, seolah-olah dia perlahan-lahan melepaskan ikatan yang menghubungkannya dengan dunia ini.
"Hati yang Terluka" adalah lagu yang penuh dengan rasa sakit dan kerinduan, lagu yang mencerminkan perasaan Nadira terhadap Andra. Setiap not, setiap melodi, setiap kata dalam lagu itu mencerminkan rasa sakit yang dia rasakan, rasa kerinduan yang tak pernah berakhir.
Andra perlahan menghilang, dan Nadira merasa seperti hatinya hancur saat dia melihat kakaknya menghilang untuk terakhir kalinya. Nadira terus berdoa dalam hati, berharap waktu bisa diputar kembali, berharap dia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Andra.
Saat "Hati yang Terluka" hampir habis, Nadira terjatuh dari kursi, kelelahan dan emosional. Andra sepenuhnya menghilang, meninggalkan Nadira dan semua orang yang mencintainya.
__ADS_1
Semua orang berteriak histeris, syok dan sedih melihat keadaan Nadira. Ibunya langsung berlari ke panggung, mencoba menenangkan dan merawat putrinya yang sangat dia cintai.
Setelah jatuh dari kursi, Nadira merasa kekuatannya perlahan menghilang. Dia merasa tubuhnya lemas dan sakit, dan dia merasa seperti dunia di sekelilingnya perlahan memudar. Dia merasa seperti dia sedang jatuh ke dalam kegelapan, dan dia merasa takut dan bingung.
Namun, di tengah kegelapan dan ketakutan, dia merasa ada sesuatu yang menenangkannya. Dia merasa seperti ada seseorang yang memegang tangannya, memberinya kekuatan dan keberanian. Dia merasa seperti Andra ada di sana, menunggunya.
Nadira menutup matanya, merasa lega dan damai. Dia merasa seperti dia sedang pulang, pulang ke tempat di mana Andra menunggunya. "Kak Andra... aku akan menyusulmu," bisik Nadira dalam hati, suaranya penuh dengan rindu dan harapan.
Saat Nadira berbicara dalam hati, dia merasa seperti dia sedang terbang. Dia merasa seperti dia sedang berjalan di atas awan, merasa seperti dia sedang berjalan menuju cahaya. Dia merasa damai, merasa seperti dia telah menemukan kedamaian dan kebahagiaan.
Sementara itu, semua orang di ruangan itu merasa syok dan sedih. Mereka merasa seperti mereka telah kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai, seseorang yang sangat mereka hargai. Mereka merasa seperti mereka telah kehilangan bagian dari diri mereka, bagian yang tak akan pernah bisa digantikan.
Ibunya berlari ke panggung, mencoba menenangkan dan merawat Nadira. Namun, dia tahu bahwa sudah terlambat, bahwa Nadira telah pergi. Dia merasa seperti hatinya hancur, merasa seperti dia telah kehilangan anaknya.
Namun, di tengah keputusasaan dan kesedihan, dia merasa ada sesuatu yang memberinya harapan. Dia merasa seperti Nadira ada di sana, merasa seperti dia masih bisa merasakan kehadirannya. Dia merasa seperti Nadira masih ada di sana, masih ada di hatinya.
__ADS_1