Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir

Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir
BAB 18 Kejutan dan semangka


__ADS_3

Matahari sore yang panas menyinari jendela apartemen Andra. Dalam keheningan ruangan, suara gemericik air dari kamar mandi terdengar jelas. Andra, setelah seharian sibuk di café, sedang menikmati mandi yang menyegarkan. Air dingin yang mengalir di kulitnya membawa rasa lega, menghapus lelah dari tubuhnya.


Setelah selesai, Andra keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melingkar di pinggangnya, berencana untuk berpakaian di kamarnya. Namun, ketika dia berbalik, dia terkejut melihat Nadira berdiri di dapur, memegang belahan semangka dengan sendok di tangannya.


Andra merasa darahnya seakan mengalir lebih cepat, dan dia langsung menutupi badannya dengan kedua tangannya, merasa malu dan terkejut. "Nadira!" kata Andra, suaranya melonjak seiring detak jantungnya.


Nadira, yang tampaknya tidak terganggu sama sekali dengan keadaan Andra, malah tersenyum dan mengangkat belahan semangka di tangannya. "Kak, mau semangka?" tawarnya, suaranya penuh dengan keceriaan yang membuat Andra semakin merasa malu.


Tanpa berkata apa-apa, Andra bergegas ke kamarnya, meninggalkan Nadira yang masih tersenyum di dapur. Dia terduduk di pintu kamarnya, berusaha memahami perasaan aneh yang muncul dalam dirinya. Dia merasa malu, tetapi juga ada rasa hangat yang aneh di dadanya.


Setelah beberapa menit, Andra akhirnya berani keluar dari kamarnya, kali ini dengan pakaian lengkap. Dia menemukan Nadira sudah duduk di sofa ruang tamu, menonton televisi sambil menikmati semangka.


"Kak, ayo duduk sini," ajak Nadira, menunjuk tempat di sebelahnya di sofa. Andra duduk di samping Nadira, merasa canggung tetapi juga senang. Mereka menonton televisi bersama, tertawa di bagian yang lucu dan berdiskusi tentang plot cerita.


Andra menatap lekat ke semangka yang dipangku Nadira. Nadira menyadari tatapan Andra dan menawarinya semangka. Andra mengangguk dan membuka mulutnya, siap untuk disuapi. Namun, Nadira tiba-tiba berhenti dan berkata, "Oh, tunggu sebentar, kak. Aku akan mengambil sendok yang baru. Ini sendok bekasku."

__ADS_1


Andra tertawa ringan dan menggeleng. "Tidak apa-apa, Nad," katanya, "Aku tidak masalah dengan itu." Mereka berdua tertawa, dan suasana canggung segera lenyap, digantikan oleh kehangatan dan keakraban.


Di suatu malam, setelah sehari penuh berkarya di studio, Nadira duduk di sofa apartemennya, mengobrol dengan Moona melalui WeChat. Moona, teman baik Nadira, baru saja menceritakan sebuah berita yang cukup mengejutkan.


"Nad, ibuku berencana menjodohkanku dengan teman lamanya," tulis Moona, "Aku tidak tahu harus bagaimana."


Nadira terkejut membaca pesan tersebut. "Oh, wow, Moon," balas Nadira, "Apakah kamu baik-baik saja dengan itu?"


Moona merespons, "Aku tidak tahu, Nad. Aku merasa bingung dan sedikit takut. Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya."


Moona menulis kembali, "Belum. Aku merasa takut untuk berbicara dengannya tentang ini. Aku tidak ingin mengecewakannya."


Nadira mengerti perasaan Moona. "Moon, perasaanmu juga penting," tulis Nadira, "Coba bicarakan dengan ibumu. Mungkin dia akan mengerti."


Percakapan mereka berlanjut hingga larut malam, dengan Nadira berusaha mendukung dan memberi nasihat kepada Moona. Meskipun situasinya sulit, Nadira tahu bahwa Moona kuat dan akan mampu melewati ini.

__ADS_1


Beberapa hari setelah percakapan mereka melalui WeChat, Moona menghadiri acara makan malam yang diadakan oleh ibunya. Acara ini dihadiri oleh beberapa teman lama ibunya, termasuk pria yang akan dijodohkan dengan Moona. Meskipun merasa gugup dan cemas, Moona memutuskan untuk menghadiri acara tersebut, berharap bisa mengenal pria tersebut dan membicarakan perasaannya dengan ibunya.


Saat Moona tiba di acara makan malam, dia disambut hangat oleh ibunya dan para tamu lainnya. Dia melihat pria yang akan dijodohkan dengannya, yang tampaknya ramah dan baik hati. Mereka duduk di sebelah satu sama lain selama makan malam, berbicara tentang kehidupan mereka dan minat mereka.


Seiring berjalannya waktu, Moona merasa sedikit lebih nyaman dengan pria tersebut. Mereka memiliki beberapa minat yang sama, dan percakapan mereka mengalir dengan mudah. Meskipun begitu, Moona masih merasa tidak yakin tentang perjodohan ini dan ingin berbicara dengan ibunya.


Setelah makan malam, Moona mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan ibunya. "Ibu," katanya dengan lembut, "Aku ingin berbicara tentang perjodohan ini."


Ibunya tampak terkejut, tetapi kemudian mengangguk. "Baik, Moona," katanya, "Ayo bicarakan."


Moona mengungkapkan perasaannya, menjelaskan bahwa dia merasa bingung dan takut tentang perjodohan ini. Ibunya mendengarkan dengan penuh perhatian, tampaknya memahami kekhawatiran putrinya.


Setelah mendengarkan Moona, ibunya berkata, "Moona, aku mengerti perasaanmu. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Jika kamu merasa tidak nyaman dengan perjodohan ini, kita bisa membicarakannya lebih lanjut dan mencari solusi lain."


Moona merasa lega mendengar kata-kata ibunya. Dia berterima kasih kepada ibunya dan berjanji untuk berpikir lebih jauh tentang situasinya. Meskipun masih ada banyak ketidakpastian, Moona merasa lebih baik karena ibunya mendukung dan menghargai perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2