Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir

Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir
BAB 26 Mati lampu


__ADS_3

Suatu sore, setelah menghabiskan hari yang panjang dan penuh pengalaman, Nadira dan Andra memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru dan menyenangkan. Mereka berdua setuju untuk mengikuti maraton malam hari yang diadakan di kota mereka. Keduanya merasa bersemangat dan ingin menciptakan kenangan indah bersama.


Mereka mengenakan pakaian olahraga yang nyaman dan sepatu lari, lalu berangkat menuju titik awal maraton. Di sana, mereka melihat banyak peserta lain yang juga bersemangat untuk mengikuti maraton malam hari ini.


"Kak, ini adalah maraton pertamaku. Aku sedikit gugup," kata Nadira, tersenyum canggung.


Andra menepuk bahu Nadira dan tersenyum, "Tenang saja, Nad. Ini juga maraton pertamaku. Kita akan melakukannya bersama, oke?"


Nadira mengangguk, merasa lebih tenang dan bersemangat. "Oke, Kak. Ayo kita lakukan ini!"


Maraton dimulai, dan mereka berdua mulai berlari bersama, menikmati suasana malam yang sejuk dan pemandangan kota yang indah. Mereka tertawa, berbicara, dan saling mendukung sepanjang jalannya maraton.


Sepanjang maraton, mereka merasa lebih dekat satu sama lain dan perasaan mereka semakin kuat. Meskipun mereka merasa lelah, mereka terus berlari, menikmati setiap momen bersama.


Setelah menyelesaikan maraton, Nadira dan Andra merasa lelah tapi puas. Mereka berpelukan, merayakan pencapaian mereka dan kebersamaan mereka.


"Itu sangat menyenangkan, Kak!" kata Nadira, tersenyum lelah.

__ADS_1


Andra mengangguk, "Aku setuju, Nad. Kita harus melakukannya lagi suatu hari nanti."


Mereka berdua pulang ke apartemen mereka, merasa puas dengan pengalaman yang baru saja mereka alami. Mereka tahu bahwa kenangan indah ini akan selalu ada di hati mereka, mengingatkan mereka tentang maraton malam yang mereka lalui bersama.


Suatu malam, ketika Nadira dan Andra sedang bersantai di apartemen mereka masing-masing, tiba-tiba lampu padam. Kedua apartemen mereka menjadi gelap gulita, dan Nadira merasa cemas dan takut.


Dalam kegelapan, Nadira memutuskan untuk pergi ke apartemen Andra, berharap bisa merasa lebih aman bersama kakaknya. Dia berjalan dengan hati-hati di koridor yang gelap, mencoba meraba jalan dengan tangan dan kaki.


Saat Nadira mendekati pintu apartemen Andra, dia tidak menyadari bahwa Andra juga keluar dari apartemennya, mencari Nadira untuk memastikan dia baik-baik saja. Dalam kegelapan, mereka tidak bisa melihat satu sama lain.


Andra tampak terkejut namun segera mengerti situasinya. "Nadira, kau baik-baik saja?" tanyanya, merasa lega bahwa Nadira baik-baik saja.


"Maaf, Kak," kata Nadira, merasa malu, "Aku tidak melihatmu."


Andra tersenyum dalam kegelapan, "Tidak apa-apa, Nad," katanya, "Ayo kita masuk ke apartemenku. Kita bisa menyalakan lilin dan menunggu lampu menyala kembali."


Mereka berdua masuk ke apartemen Andra, menyalakan beberapa lilin, dan duduk di sofa. Di antara cahaya lilin yang lembut, Nadira merasa perlu untuk bertanya sesuatu pada Andra.

__ADS_1


"Kak," Nadira memulai, suaranya bergetar, "Apakah... Apakah kamu juga menyukaiku?"


Andra terdiam sejenak, tampak terkejut dengan pertanyaan Nadira. Namun, dia merasa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.


Setelah Andra mengakui perasaannya, ruangan menjadi hening. Cahaya lilin yang lembut menambah suasana yang tegang dan penuh harap. Nadira merasa lega dan bahagia mendengar pengakuan Andra, namun ada satu pertanyaan yang masih menggantung dalam pikirannya.


"Kak," Nadira memulai, suaranya bergetar, "Apakah ini... apakah ini hubungan yang baik atau buruk?"


Andra terdiam sejenak, tampak terkejut dengan pertanyaan Nadira. Dia merasa ini adalah pertanyaan yang sulit, namun penting untuk dijawab.


"Ya, Nad," katanya dengan suara lembut, "Aku percaya ini adalah hubungan yang baik. Kita berdua saling peduli dan mendukung satu sama lain. Kita berdua merasa nyaman dan bahagia bersama. Dan yang paling penting, kita berdua saling menyukai."


Nadira merasa lega mendengar jawaban Andra. Dia merasa hangat dan aman, dan dia merasa senang bahwa perasaannya terbalas. "Terima kasih, Kak," katanya, tersenyum lembut.


Mereka berdua duduk di sofa, menikmati kebersamaan mereka dalam kegelapan. Mereka berbicara tentang perasaan mereka, tentang masa depan mereka, dan tentang bagaimana mereka ingin melanjutkan hubungan mereka.


Malam itu, mereka merasa lebih dekat satu sama lain dan perasaan mereka semakin kuat. Meskipun kegelapan dan ketakutan, mereka merasa hangat dan nyaman satu sama lain, dan mereka tahu bahwa mereka siap untuk melanjutkan hubungan mereka ke level yang lebih dalam.

__ADS_1


__ADS_2