
Dalam keheningan malam, Nadira perlahan terbangun. Dia merasa ada sesuatu yang lembut di bawah kepalanya dan saat dia membuka matanya, dia melihat Andra yang sedang tidur dengan kepala Nadira di pangkuannya.
Nadira merasa kaget dan malu. Dia merasa bersalah karena membuat Andra tidur dalam posisi yang tidak nyaman. "Oh, Tuhan," bisik Nadira, "Apa Kak Andra baik-baik saja?"
Namun, di balik rasa malu dan bersalahnya, ada perasaan lain yang memenuhi hatinya. Dia merasa senang dan hatinya berdebar kencang. Dia merasa hangat dan aman di pangkuan Andra, dan dia merasa bahagia bisa berada di dekatnya.
Nadira berusaha bangun dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkan Andra. Namun, saat dia bergerak, Andra terbangun dan menatapnya dengan mata yang masih setengah terbuka.
"Maaf, Kak," bisik Nadira, "Aku tidak bermaksud membangunkanmu."
Andra hanya tersenyum dan menggeleng, "Tidak apa-apa, Nad. Aku baik-baik saja."
Melihat senyum Andra, hati Nadira berdebar kencang. Dia merasa bingung dan takut, tapi dia juga merasa bahagia dan hangat. Dia tahu bahwa dia harus berurusan dengan perasaannya, tapi untuk saat ini, dia memilih untuk menikmati momen ini bersama Andra.
Setelah memastikan bahwa Andra baik-baik saja, Nadira merasa perlu untuk meninggalkan apartemen Andra. Dia merasa malu dan bingung, dan dia merasa perlu untuk mengambil jarak dan berpikir tentang perasaannya.
__ADS_1
Nadira bangkit dari sofa dan berlari keluar dari apartemen Andra. Dia berlari menuju apartemennya sendiri, merasa tergesa-gesa dan bingung.
Sementara itu, Andra duduk di sofa, menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Nadira. Dia merasa bingung dan sedikit malu, tetapi dia juga merasa hangat dan bahagia.
Andra mengurai rambutnya ke belakang, tersenyum tipis saat dia mengingat momen malam itu. Dia merasa hangat dan bahagia saat mengingat bagaimana Nadira tidur di pangkuannya, dan bagaimana dia merasa nyaman dan aman bersamanya.
Andra tahu bahwa perasaannya terhadap Nadira lebih dari sekadar perasaan kakak terhadap adiknya. Dia merasa bingung dan takut, tapi dia juga merasa hangat dan bahagia. Dia tahu bahwa dia harus berurusan dengan perasaannya, tapi untuk saat ini, dia memilih untuk menikmati kenangan malam itu.
Pagi itu, Nadira bersiap untuk pergi ke galeri seninya. Dia memastikan tasnya berisi semua yang dia butuhkan - sketsa, cat, dan kuas - dan berjalan menuju pintu apartemennya.
Saat dia membuka pintu, dia terkejut melihat Andra berdiri di sana, tampaknya juga bersiap untuk berangkat. Mereka berdua saling menatap, keduanya tampak terkejut dan sedikit canggung.
Andra mengangguk, tersenyum balik padanya. "Ya, aku juga berangkat. Kamu pergi ke galeri?"
Nadira mengangguk, merasa lebih tenang. "Ya, aku perlu menyelesaikan beberapa lukisan."
__ADS_1
Mereka berdua berpisah, masing-masing menuju tujuan mereka sendiri. Namun, pertemuan singkat itu meninggalkan kesan dalam hati mereka, dan mereka berdua merasa perasaan mereka semakin memuncak.
Hari itu dimulai dengan matahari yang cerah dan langit biru yang cerah. Nadira bangun lebih awal dari biasanya, bersemangat untuk memulai hari itu. "Hari ini akan menjadi hari yang baik," katanya pada dirinya sendiri, merasa bersemangat dan penuh energi.
Setelah sarapan, Nadira pergi ke galeri seninya. Dia merasa damai dan tenang saat dia melukis, merasa bahagia saat dia bisa mengekspresikan perasaannya melalui lukisannya. "Lukisan ini adalah ekspresi diriku," gumamnya, merasa puas dengan hasilnya.
Sementara itu, Andra menghabiskan paginya di café. Dia melayani pelanggan dengan senyum lebarnya, merasa bahagia dan puas dengan pekerjaannya. "Selamat pagi! Apa yang bisa saya sajikan untuk Anda hari ini?" tanyanya kepada pelanggan, merasa bangga dengan cafénya.
Setelah makan siang, Andra memutuskan untuk berkunjung ke galeri seni Nadira. "Aku ingin melihat apa yang membuat Nadira begitu bersemangat," katanya pada dirinya sendiri, bersemangat untuk mendukung passion Nadira.
Saat Andra memasuki galeri seni, dia terkesima dengan keindahan lukisan-lukisan yang dipajang. "Wow, Nadira benar-benar berbakat," katanya pada dirinya sendiri, merasa bangga dan kagum dengan Nadira.
Andra berjalan-jalan di galeri, menikmati setiap lukisan yang dia lihat. "Lukisan ini benar-benar indah," katanya, merasa hangat dan bahagia bisa melihat sisi lain dari Nadira.
Setelah menghabiskan beberapa jam di galeri, Andra memutuskan untuk pergi. "Aku senang bisa melihat passion Nadira," katanya pada dirinya sendiri, merasa lebih dekat dengan Nadira.
__ADS_1
Sementara itu, Nadira merasa lelah tapi puas dengan hari itu. "Aku merasa bahagia dan puas dengan lukisanku," gumamnya, merasa senang bisa menghabiskan waktu dengan Andra.
Mereka berdua pulang ke apartemen mereka, merasa lelah tapi puas dengan hari itu. "Hari ini benar-benar hari yang baik," kata mereka berdua, merasa bahagia dan puas.