
Setelah percakapan mereka, ibu Moona memutuskan untuk membantu membersihkan apartemen putrinya. Dia bergerak dari ruangan ke ruangan, membersihkan, mengatur, dan merapikan segala sesuatu yang tampak berantakan.
Namun, saat ibu Moona masuk ke kamar Moona dan Nadira, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluh. "Oh, anak-anakku," katanya, melihat sekeliling kamar yang penuh dengan buku, pakaian, dan barang-barang lainnya yang tersebar di mana-mana, "Kalian berdua harus belajar merapikan kamar sendiri."
Moona dan Nadira merasa malu mendengar keluhan ibunya. Mereka berdua menunduk, merasa bersalah karena telah membuat ibunya membersihkan kamar mereka. "Maaf, Ibu," kata Moona, "Kami akan berusaha lebih baik."
Nadira mengangguk, menambahkan, "Ya, Ibu. Kami akan berusaha menjaga kamar kami lebih rapi."
Ibu Moona tersenyum mendengar janji putri-putrinya. "Baiklah," katanya, "Aku tahu kalian bisa melakukannya. Aku hanya ingin kalian belajar untuk merawat barang-barang kalian sendiri."
Setelah itu, ibu Moona melanjutkan membersihkan kamar, sementara Moona dan Nadira berjanji untuk menjaga kamar mereka lebih rapi di masa depan. Meskipun mereka merasa malu, mereka juga merasa berterima kasih atas bantuan dan nasihat ibunya.
__ADS_1
Suatu sore yang cerah, Nadira memutuskan untuk berkunjung ke café milik Andra. Sejak café itu dibuka, Nadira belum sempat berkunjung karena jadwalnya yang sibuk. Namun, hari ini dia memiliki waktu luang dan memutuskan untuk melihat bagaimana café itu berjalan.
Saat Nadira tiba, Andra sedang sibuk melayani pelanggan. Melihat Nadira masuk, Andra menyambutnya dengan senyuman lebar. "Nad! Akhirnya kamu datang juga!" serunya, tampak senang.
Nadira tersenyum balik dan mendekati Andra. "Maafkan aku, Kak. Aku benar-benar sibuk beberapa waktu terakhir ini," jawabnya.
Andra mengangguk dan menepuk bahu Nadira. "Aku tahu, Nad. Aku tahu kamu sibuk dengan karirmu. Tapi aku senang kamu akhirnya bisa datang."
Nadira merasa sangat nyaman dan bahagia. Dia merasa bangga melihat Andra menjalankan cafénya dengan sukses. Dan meskipun mereka berdua sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing, mereka masih menemukan waktu untuk berbagi dan menikmati waktu bersama.
Setelah beberapa minggu sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan mereka masing-masing, Nadira dan Andra merindukan suasana hangat rumah dan kehadiran ibu mereka. Mereka memutuskan untuk berkunjung ke rumah lama mereka dan menghabiskan waktu bersama ibu mereka, menikmati makan malam keluarga yang sudah lama tidak mereka alami.
__ADS_1
Mereka berdua tiba di rumah pada sore hari. Begitu pintu terbuka, aroma masakan ibu mereka menyambut mereka. Rasa nostalgia dan kebahagiaan memenuhi hati mereka saat mereka memasuki rumah.
Ibu mereka tampak sangat senang melihat kedatangan putra-putrinya. "Anak-anakku!" serunya, membuka tangan lebar-lebar untuk memeluk keduanya. "Aku sangat merindukan kalian."
Nadira dan Andra memeluk ibu mereka erat, merasakan kehangatan dan kasih sayang yang selalu ada di dalam pelukan ibu. "Kami juga merindukanmu, Ibu," kata Nadira, suaranya penuh dengan emosi.
Setelah berbincang sejenak di ruang tamu, mereka pindah ke ruang makan untuk menikmati makan malam bersama. Meja makan dipenuhi dengan hidangan lezat yang disiapkan oleh ibu mereka, dan mereka semua duduk bersama, tertawa dan bercerita tentang kehidupan mereka.
Mereka berbicara tentang café Andra, tentang musik Nadira, dan tentang berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Mereka saling mendengarkan dan memberikan dukungan, merasakan ikatan keluarga yang kuat yang selalu ada di antara mereka.
Saat makan malam berakhir, mereka semua merasa bahagia dan bersyukur atas waktu yang mereka habiskan bersama. Mereka tahu bahwa, meskipun kehidupan mereka masing-masing sibuk, mereka selalu memiliki satu sama lain untuk kembali dan merasa dicintai.
__ADS_1