Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir

Melodi Perpisahan: Lagu Terakhir
BAB 29 Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk menghabiskan hari bersama, Nadira dan Andra pergi ke taman kota. Mereka berjalan-jalan, menikmati sinar matahari dan udara segar, mencoba melupakan sejenak kebenaran yang baru saja mereka ketahui.


Sambil berjalan, Andra tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke sekelompok angsa di danau. "Lihat, Nad, angsa-angsa itu tampak seperti kita," katanya, mencoba menggoda Nadira.


Nadira melihat ke arah yang ditunjuk Andra dan tertawa. "Kak, angsa-angsa itu adalah pasangan, bukan saudara. Apa maksudmu?"


Andra tersenyum dan menjawab, "Maksudku, mereka tampak begitu damai dan bahagia bersama, seperti kita."


Nadira tertawa lagi, merasa senang melihat Andra tetap bisa bercanda meskipun situasi mereka. "Ya, Kak, kita memang seperti angsa-angsa itu. Damai dan bahagia bersama, meski bukan saudara kandung."


Mereka berdua tertawa, merasa lega dan bahagia. Mereka tahu bahwa mereka masih memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi, tetapi mereka yakin bahwa mereka bisa melewati ini bersama.


Setelah itu, mereka pergi ke bioskop dan menonton film komedi. Mereka tertawa bersama, merasa ringan dan bebas dari kekhawatiran mereka, setidaknya untuk sementara waktu.


Setelah menghabiskan hari yang menyenangkan bersama, Nadira dan Andra pulang ke rumah mereka. Mereka merasa lelah tetapi bahagia, merasa lega bisa menghabiskan waktu bersama dan melupakan sejenak kebenaran yang baru saja mereka ketahui.

__ADS_1


Saat mereka memasuki rumah, mereka terkejut melihat Moona, teman baik mereka, berdiri di pintu. "Moona, kamu sudah pulang!" seru Nadira, merasa senang melihat teman baiknya.


Andra tersenyum dan menyapa Moona, "Kami merindukanmu, Moona. Selamat datang kembali di rumah."


Moona melihat mereka berdua, tampak penasaran. "Bagaimana keadaan selama aku tidak ada? Apa ada yang aku lewatkan?" tanyanya, mencoba mengejar ketinggalan.


Nadira dan Andra saling pandang, merasa ragu sejenak. Mereka belum siap untuk menceritakan pengungkapan rahasia semalam kepada Moona.


"Semuanya baik-baik saja, Moona," jawab Nadira, mencoba menenangkan Moona. "Kami merindukanmu dan senang kamu sudah kembali."


Mereka berdua setuju dan memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama, merasa senang bisa bersama lagi. Mereka tahu bahwa mereka akan menghadapi tantangan baru, tetapi mereka yakin bahwa mereka bisa melewati ini bersama.


Hari itu, Nadira, Andra, dan Moona memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di kafe favorit mereka. Mereka duduk di meja pojok, menikmati kopi dan kue sambil berbicara tentang berbagai hal.


Tiba-tiba, pintu kafe terbuka dan seorang pria tampan masuk. Dia tampak mencari sesuatu dengan matanya, dan ketika matanya bertemu dengan Nadira, dia tersenyum dan berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


"Halo, Nadira," kata pria itu, suaranya lembut dan ramah. "Aku tidak menyangka akan bertemu kamu di sini."


Nadira tampak terkejut dan sedikit canggung. "Halo, Rizky. Ini kebetulan yang aneh," jawabnya, mencoba tersenyum.


Andra dan Moona tampak penasaran. Mereka belum pernah melihat pria ini sebelumnya, tetapi jelas bahwa dia mengenal Nadira.


Rizky tersenyum dan mengenalkan diri kepada Andra dan Moona. "Halo, nama saya Rizky. Saya adalah teman lama Nadira dari universitas," katanya, menunjukkan sikap ramah dan sopan.


Mereka berbicara dan tertawa bersama, merasa senang bisa bertemu dan berbicara dengan teman lama. Namun, Andra merasa tidak nyaman dengan keakraban Rizky dan Nadira. Dia merasa cemburu, meskipun dia mencoba untuk menutupinya.


Ketika Rizky pergi, Andra tampak serius. "Nadira, apa kamu dan Rizky dekat?" tanyanya, mencoba untuk bersikap netral.


Nadira tampak terkejut dengan pertanyaan Andra, "Kami hanya teman, Kak. Kenapa kamu bertanya?"


Andra menghela nafas dan mencoba tersenyum, "Tidak ada alasan khusus, Nad. Aku hanya penasaran."

__ADS_1


__ADS_2