
Meski Andra sangat menyayangi Nadira, dia tidak sepenuhnya setuju dengan hubungan Nadira dengan Raka. Sebagai kakak laki-laki yang overprotektif, Andra khawatir bahwa hubungan tersebut akan mengalihkan fokus Nadira dari musik dan studinya.
"Andra, saya mencintai Raka," kata Nadira suatu hari, mencoba menjelaskan perasaannya kepada kakaknya.
"Saya tahu itu, Nadira," jawab Andra, "Tapi kamu masih muda, dan kamu memiliki banyak hal lain untuk fokuskan sekarang."
Nadira merasa frustrasi dengan sikap kakaknya. Dia tahu bahwa Andra hanya mencoba melindunginya, tetapi dia juga merasa bahwa dia berhak untuk membuat keputusan sendiri tentang hidupnya.
"Mungkin kamu benar, kak. Tapi ini adalah hidup saya, dan Raka adalah bagian penting darinya," kata Nadira dengan tegas.
Andra terdiam, melihat adiknya yang tumbuh menjadi wanita muda yang kuat dan mandiri. Akhirnya, dia menghela napas dan mengangguk. "Saya mengerti, Nadira. Saya hanya khawatir tentangmu. Tapi jika kamu yakin tentang ini, saya akan mendukungmu."
Dengan restu Andra, Nadira merasa lega. Dia tahu bahwa jalan yang dia pilih tidak akan mudah, tetapi dengan dukungan dari orang-orang yang dia cintai, dia yakin bahwa dia bisa menghadapinya.
__ADS_1
Baik, berikut ini adalah Bab 8 dari novel tentang Nadira Oktavia, yang berfokus pada hubungan antara Nadira dan kakaknya, Andra.
Andra dan Nadira selalu memiliki hubungan yang kuat. Sejak kecil, mereka selalu ada satu sama lain, melalui suka dan duka, melalui canda dan air mata. Meskipun mereka berbeda dalam banyak hal, ada satu hal yang selalu membuat mereka bersama: cinta mereka terhadap musik.
Andra, meski bukan pianis, adalah gitaris yang berbakat. Dia adalah orang yang pertama kali mengenalkan Nadira pada musik, memainkan lagu-lagu klasik di gitar sambil Nadira duduk dan mendengarkan dengan kagum. Itulah awal dari cinta Nadira pada musik, dan awal dari ikatan mereka yang tak terpisahkan.
Ketika ibu mereka mengalami kecelakaan, Andra dan Nadira menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama di rumah sakit, sering kali bermain musik bersama untuk menghibur ibu mereka. Andra di gitar, Nadira di piano, mereka menciptakan duet yang indah yang membantu mereka semua melalui masa-masa sulit.
"Kakak bangga padamu, Nadira," kata Andra suatu malam setelah mereka selesai bermain. Dia melihat ke mata adiknya, penuh kasih dan bangga. "Kamu tumbuh menjadi wanita yang kuat dan berbakat. Jangan biarkan apa pun menghalangi kamu."
Mereka berpelukan, merasakan kehangatan dan kasih sayang satu sama lain. Itulah momen yang mereka ingat selamanya, momen ketika mereka merasa paling dekat, paling terhubung, melalui musik dan kasih sayang mereka satu sama lain.
Setelah beberapa bulan berlalu, kondisi ibu mereka mulai membaik. Meski masih lemah, dia mulai berbicara dan bergerak sedikit. Namun, berita yang lebih baik adalah bahwa dia mulai mengenali Nadira dan Andra lagi.
__ADS_1
Saat Nadira dan Andra mendengar berita ini, mereka merasa lega dan bahagia. Mereka berpelukan, menangis dan tertawa dalam satu momen yang penuh emosi.
Namun, meski berita itu baik, mereka tahu bahwa jalan pemulihan ibu mereka masih panjang. Mereka memutuskan untuk tetap kuat dan optimis, untuk ibu mereka dan untuk diri mereka sendiri.
Andra, yang selalu menjadi pilar kekuatan bagi Nadira, mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Dia telah bekerja keras untuk mendukung keluarga mereka, dan tekanannya mulai terlihat.
Nadira, melihat ini, memutuskan untuk melakukan lebih banyak untuk membantu. Dia mulai mengambil lebih banyak tanggung jawab di rumah, membantu Andra dengan pekerjaan rumah tangga dan merawat ibu mereka.
Suatu hari, saat Nadira sedang membersihkan rumah, dia menemukan sebuah buku catatan tua di lemari Andra. Di dalamnya, dia menemukan sejumlah komposisi musik yang ditulis oleh Andra. Nadira terkejut dan terkesan dengan bakat kakaknya.
Nadira memutuskan untuk memainkan salah satu komposisi Andra di piano. Saat dia memainkan melodi yang indah, dia merasa terhubung dengan kakaknya dalam cara yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Saat Andra pulang dan mendengar musiknya dimainkan, dia terkejut dan terharu. Dia mendekati Nadira, tersenyum lebar. "Kamu menemukannya," katanya, "Saya menulis lagu-lagu itu untuk ibu. Saya berharap suatu hari nanti dia bisa mendengarnya."
__ADS_1
Dari hari itu, Nadira dan Andra mulai bermain musik bersama lebih sering. Mereka berbagi cinta mereka untuk musik, dan melalui musik, mereka menemukan cara untuk mengatasi kesedihan dan harapan mereka.