Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 21


__ADS_3

Yelda benar-benar terkesan dengan apa yang dilakukan Haaland di kota Galantris, seharusnya hal itu sangat mustahil dilakukan.


Menaklukkan Galantrian yang telah gila selama beberapa tahun bukanlah hal mudah, apalagi keadaan Haaland yang berbeda dengan mereka.


Sekarang Haaland dan Yelda harus pergi ke Pulau Wex sebagai langkah awal mereka untuk merebut kembali kejayaan Galantris dari kekuatan jahat yang diduga telah turut camput dalam memusnahkan Sihir Gao.


“Kita harus pergi ke Pulau Wex, Yelda,” kata Haaland sambil mengulurkan tangannya pada Yelda yang tengah dalam perjalanan menuju gua Gunung Noris.


“Tapi mengapa harus ke Pulau Wex, aku belum pernah mendangar jika di sana ada kehidupan.” Yelda meraih lengan Haaland dan kembali berjalan melewati jalan bebatuan yang agak curam.


“Kamu salah, Yelda. Di sana ada kehidupan,”


“Benarkah? Lantas siapa yang akan kita temui di pulau itu?” tanya Yelda meluapkan rasa penasarannya.


Tapi Haaland tidak membiarkan rasa penasarannya terjawab begitu saja. "Aku akan jelaskan padamu nanti.” Haaland mempercepat langkahnya. “Ayo cepatlah! Waktu kita tidak banyak.”


“Baiklah, aku rasa kamu benar, Haaland.” Yelda berusaha menyamai kecepatan Haaland dalam berjalan, ia sadar waktunya tidak banyak. Yelda harus berhasil mengembalikan Galantris sebelum waktu pernikahan tiba.


Haaland segera mengemas beberapa jagung ke dalam kantong, tidak lupa pula ia membawa dua buah batu yang tadi digunakan Yelda untuk membuat api.


“Jadi, sebenarnya apa yang ada di pulau itu, Haaland?” tanya Yelda yang benar-benar penasaran.


“Ada banyak hal yang hidup di sana, Yelda. Aku merasa maklum jika manusia tidak tahu, sebenarnya dia adalah bagian dari Galantris, tetapi mereka adalah makhluk-makhluk Galntris yang diasingkan karena tindakan mereka melewati batas.”


“Jadi? Apakah itu tidak berbahaya jika kita datang ke sana?”


“Sangat, sangat berbahaya, Yelda!” balas Haaland.


Yelda diam, walau pun dirinya adalah putri yang pemberani, tapi kali ini ia sungguh merasa gentar, mengingat pulau itu sangat misterius baginya.


“Maka dari itu, kita harus waspada.” Haaland memegang bahu Yelda untuk menegarkannya. “Aku bersamamu dan kamu tenang saja, tidak usah merasa tegang seperti itu, wajahmu terlihat lucu.” lanjut Haaland menggoda Yelda.


“Kamu ini! Masih saja bercanda!”


“Aku tidak bercanda, Yelda. Kamu memang sangat lucu.” Haaland menggoda Yelda dengan mencubit hidung gadis itu.


Seketika wajah Yelda memanas, dia yakin sekali jika wajahnya sangat merah kala itu.


“Ayo!” seru Haaland. “Jangan lupa dengan pedangmu!” Haaland menunjuk ke sebuah bilah pedang cantik yang tergantung di dinding gua.


“Tentu saja.” Yelda tersenyum.


“Putri Yelda yang manis, apa Anda tidak keberatan jika membawa kantong ini?” Haaland mengembangkan senyum konyolnya.


Yelda menyambar kantong berisi jagung dari Haaland, ia heran mengapa pemuda itu membawa jagung begitu banyak.


“Ugh ... baiklah, ini agak berat!”


“Memang,” balas Haaland. “Tolong jangan terkejut lagi, aku akan merubah diriku menjadi naga. Kita akan terbang ke Wex untuk menghemat waktu,” ujar Haaland memperingati.

__ADS_1


“Tentu saja, apa kamu pikir aku terlalu penakut? Sebenarnya aku tidak takut dengan naga, aku hanya terkejut saja melihatmu berubah, sangat mustahil!”


Haaland mengangkat bahunya, pendar tipir di sekitar garis tubuhnya mulai memadat dan boom! Haaland kini sudah berubah menjadi seekor naga putih yang gagah, walaupun wajahnya sangat lain, tapi ketampanan penguasa Galantris itu tidalah sirna.


“Ayo, Putri Yelda!”


Yelda sekonyong-konyong naik ke punggung Haaland, rasanya ia sangat nyaman berada di punggung naga itu, ia jadi teringat ketika Haaland menggendongnya sampai ke gerbang Galantris, sungguh hal ynag ingin dia ulang.


“Berhati-hatilah saat aku sedang berubah menjadi naga, Yelda.” Haaland mengepakkan sayap dan mulai terbang meninggalkan rumahnya. “Aku bisa mendengar semua suara hatimu,” Haaland terkekeh.


“Tidak mungkin!”


“Itulah keistimewaanku, setiap naga memiliki keistimewaan mereka masing-masing.” Haaland terus meluncur di awan melewati pegunungan Norris ke arah timur.


“Jadi, setiap naga Galantris bisa berubah menjadi wujud manusia? Bisa saja keluargamu itu sebenarnya selamat, Haaland. Mereka berubah wujud sepertimu dan masih bekeliaran di luar Galantris.”


“Sayang sekali, Yelda. Itu tidak terjadi.” Selat Wex dengan perairannya yang jernih seakan melambai pada naga itu. “Hanya aku yang bisa berubah wujud menjadi manusia, aku juga bingung mengapa itu terjadi, dan ke mana mereka semua lenyap?”


“Aku yakin mereka tidak lenyap begitu saja, Haaland.” Yelda berpegangan pada leher Haaland seolah tengah memeluknya. “Pasti ada sesuatu ynag bisa kita pecahkan.”


Haaland mengalihkan pembicaraan seolah dia tida ingin membicarakan tentang keluarga naganya, entah kenapa itu membuatnya sedih. “Kita sudah sampai,”


Tubuh naga Haaland perlahan mulai turun dan mendarat di sebuah tebing di pulau Wex.


Yelda merasakan kebebasannya. Putri itu sungguh terkesan dengan pemandangan Wex yang memukau, pohon-pohon menghiau di mana-mana. Tentu saja, pulau ini merupakan bagian dari Galantris.


“Kamu tidak akan mengatak bahwa pulau ini indah setelah tahu apa saa yang akan kita hadapi di bawah nanti,” kata Haaland.


Yelda mengalihkan pandangannya pada Haaland, ia membulakan matanya ketika ia melihat Haaland yang ia kenali saat pertama kali. Rambut pirang dan mata biru yang ia kenal, bukan sebagai Galantrian, tetapi sebagai Haaland Si penyusup.


“Apa yang terjadi?” Yelda membulatkan matanya.


“Ada apa memangnya?” tanya Haaland menaikkan satu alisnya.


“Tubuhmu tidak bersinar, Haaland.”


Haaland terkekeh. “Ini bukan rumahku, Yelda."


“Tapi bukankah Wex adalah bagian dari Galantris?”


Haaland menghirup udara segar di sana dalam-dalam. “Kamu benar, tapi ini lain, Yelda.”


“Aku benar-benar tidak mengerti,” ujar yelda sambil membuang nafasnya kasar.


“Aku juga tidak mengerti, aku belum sempat mempelaari banyak hal dari orang tuaku,” balas Haaland. “Tapi, sudahlah. Ayo kita turun!”


Yelda membetulkan posisi tangannya yang membawa kantong jagung sebelum ia menuruni alan setapak.


Haaland baru sadar ika dia membiarkan Yelda membawa kantong berat itu. “Ah maaf, Putri Yelda,” kata Haaland sambil merebut kantung dari bahu Yelda. “Biar aku saja yang membawanya.”

__ADS_1


Yelda mengangkat kedua bahunya. “Baiklah, sebaiknya memang begitu,”


“Sebenarnya siapa yang akan kita temui, Haaland? Kamu belum menawab pertanyanku ini,” kata Yelda.


“Eum ... kita akan menemui—”


Grakk ...


“Woooah!” teriak Yelda ketika tiba-tiba satu makhluk aneh menyerang mereka berdua.


Khaakhh ...


Makhluk itu teus menggeram pada mereka, Tubuhnya seperti beruang, tetapi tanduknya seperti banteng, gigi-gigi tajam menyeringai jahat ke arah Haaland dan Yelda.


“Makhluk apa itu, Haaaland?”


Haaland segera menarik Yelda ke belakang tubuhnya. Gadis itu menggenggam erat lengan kain Haaland, Haaland berusaha melindungiya.


“Putra Galantris,” Makhluk itu terus melangkah maju senada dengan Haaland dan Yelda yang melangkah mundur denga perlahan. “Rupanya kamu masih hidup,” kata makhluk itu dengan suara berat dan serak.


“Aku tidak ada urusan denganmu, Klox!” balas Haaland, tangannya terus merentang, mlindungi Yelda yang ada di belakangnya.


“Tapi semua yang masuk ke Wex akan menadi urusanku, bocah ingusan!”


Khaakkh ...


“Jangan mendekat! Atau kamu akan rasakan akibatnya!” seru Haaland.


Khkhh ...


Makhluk itu tetap saja berusaha mendekat dan malah menyerang.


“Haaland!” teriak Yelda.


Haaland terus memutar tubuhnya untuk menjauhkan Yelda dari serangan makhluk bernama Klox itu.


Khakhh ...


Makhluk itu menyerang mengeluarkan cakar-cakar tajam dan menvarahkan serangan ke lengan Haaland.


Sret!


Yelda melihat lengan Haaland terluka, noda biru mulai menembus kain bajunya.


*Apa! Darahnya biru? batin Yelda


Srett ...


Haaland mengeluarkan pedangnya. “Sudah aku peringkatkan padamu, Klox!”

__ADS_1


__ADS_2