Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 38


__ADS_3

"Sialan! Aku kira rencanaku sudah semulus kubah istana ini," gumam Rowan.


Semua rencana Rowan untuk membakar Galantris gagal hanya karena bocah tengil yang dia kira sudah mati. Haaland, bocah itu datang dengan mengayunkan bilah pedang tanpa ampun, menjadi pahlawan bagi Galantrian yang tengah tersiksa di tanah lapang.


Dan kali ini, setelah dia kembali dari Galantris, kabar kembalinya Yelda membuat Rowan benar-benar frustasi.


"Tidak mungkin!" Rowan menghantamkan kepalan tangannya ke permukaan meja hingga terdengar bunyi berdebum keras.


Lalu terdengar bunyi ketukan pintu di ruangannya.


"Masuk!" kata Rowan sambil mengembalikan raut wajahnya.


Pintu terbuka, seorang prajurit muda berdiri di antara kosen jati yang memukau.


"Ada kabar baik, Lord Rowan. Putri Yelda kembali, dia tidak hanyut di Sungai Gao," kata prajurit itu dengan menundukkan kepalanya. "Beberapa orang Renee yang membawanya ke mari,"


Ingin sekali rasanya Rowan meluapkan rasa amarah, tetapi dia sebisa mungkin menutupnya dengan raut bahagia yang palsu. "Benarkah! Tidak mungkin,"


"Itu benar, Lord Rowan. Sekarang mereka ada di balairung,"


"Ya Tuhan, Engkau telah mengembalikan putri kami, puji Tuhan ... ," seru Rowan dengan nada kebahagiaan yang keras dan terlalu mencolok dibuat-buat.


Rowan segera bangkit dari kursi kerjanya dan segera meninggalkan ruangan dengan langkah tak sabar.


"Yelda!" seru Rowan saat dirinya sampai di balairung raja.


Gadis lusuh yang berdiri di hadapan Raja Faramis itu nyaris tidak ia kenali. Rambut merah yang berantakan, sepatu dan jubah yang penuh lumpur, dan bibir pucat di wajah keponakannya membuat gadis itu lebih tampak seperti pengemis dari pada Putri Mahkota Kerajaan Shandor.


"Syukurlah, kamu masih hidup, Nak ... ." Rintihan itu palsu. Rowan bahkan sangat ingin menghujamkan pedang ke jantung Yelda jika ia bisa saat itu juga.


"Paman ... ,"


Rowan menarik lengan Yelda dan memeluk gadis itu dengan rasa terpaksa dan jijik, beberapa bercak lumpur Galantris menempel di jubah bersihnya.


"Bagaimana kamu bisa seperti ini, Yelda?" tanya Rowan yang memandang lumpur-lumpur kering itu. "Dari mana lumpur-lumpur ini?"


"Ah, aku ... ,"

__ADS_1


Sebelum Yelda menjawab, Faramis segera berseru pada para dayang istana. "Kenapa kalian diam saja di sana!" seru Raja Faramis pada pelayan istana yang saling menukarkan rasa bahagia mereka di pinggir balairung. "Ayo bawa Putri untuk membersihkan diri!"


"Ayah, aku bisa sendiri—"


"Mari, Putri Yelda," ucap salah satu dayang yang sering melayani Yelda.


"Terima kasih,"


Rowan memperhatikan langah Yelda yang berjalan diiringi dua dayang keluar dari balairung. Lalu bayangan Yelda dan dua dayang itu lenyap di ujung koridor.


Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, aku harus menghabisinya!


...


Ada sesuatu yang mengganjal di hati Yelda. Suara itu ... Suara saat pamannya berbicara kepadanya, mengapa suara itu terdengar tidak asing dan sangat melekat di ingatannya?


Titik-titik air yang jatuh membasahi tubuhnya seakan mengalirkan titik terang bagi pertanyaannya itu. Dingin, tapi Yelda menyukai kedinginan itu dari pada ia harus merasakan dinginnya dekapan Sungai Gao yang hampir menculiknya.


Suara itu— Ya! Sekarang Yelda ingat, bukankah itu adalah salah satu suara milik pria misterius yang ada di pondok tepi danau di malam hari?


Benar, bisa jadi pria itu adalah Rowan pamannya, secara ada surat yang tertanda tangan atas nama pamannya juga di pondok itu.


Curiga, itulah salah satu yang menyelubungi hati Yelda. Dia segera mengakhiri kegiatan mandinya disaat beberapa luka kecil mulai terasa perih yang menusuk kulitnya. Dinginnya air kala itu juga membuat Yelda tidak ingin terguyur lebih lama.


Tanpa ia mengira, malam itu Pangeran Dominic dan Raja Teano sudah ada di Shandor lagi. Berita kembalinya Yelda rupanya tidak membutuhkan waktu lama untuk menyebar ke seluruh penjuru kota.


Kali ini malah mereka kembali duduk di hadapan Yelda, persis seperti malam pertemuannya dengan Raja Teano sebelum dirinya kabur dengan Haaland.


Samar-samar, dalam lamunannya Yeoda mendengar percakapan antara Faramis dan Teano.


"Putriku sudah ditemukan sebelum tanggal pernikahan terjadi, Lord Teano, itu berati pernikahan putriku dan Pangeran Dominic akan tetap terlaksana bukan?"


"Ya— ya, baiklah, lagi pula putraku juga sangat antusias terhadap pernikahan ini, dia sempat tidak makan apapun selama sehari setelah berita palsu tentang kematian Putri Yelda, Lord Faramis," balas Raja Teano dari Texan.


Namun malam ini ia tidak terlalu mempermasalahkan pria yang merupakan calon suaminya itu. Pikiran Yelda tengah melayang kepada sosok pamannya.


Kemana paman Rowan? Biasanya dia selalu ada di pertemuan seperti ini, kenapa kali ini dia tidak ada?

__ADS_1


Suara-suara dalam pondok itu kembali bergema di telinganya ketika ia mengingat sosok Rowan, seakan nuraninya menuduh orang itu adalah Rowan.


Rowan! Tidak salah lagi, suara itu persis seperti suara pamannya. Tapi apa hubungan paman Yelda dengan keruntuhan Galantris? Yelda harus menyelidiki hal itu.


"Ke mana saja kamu, Yelda?" Pertanyaan Dominic berhasil membuyarkan puzzle dalam otak Yelda.


Tangan Dominic berusaha membelai Yelda, tapi dengan sigap gadis itu menghindar.


"Bukan urusanmu, Pangeran Dominic!" kata-kata Yelda terdengar tajam.


"Yelda, jangan bicara kasar seperti itu setelah apa yang kamu lakukan!" tegur Faramis selaku ayah dari Yelda.


"Baiklah, Ayah." Yelda melepaskan garpu dan sendok yang selama ini ia hanya gerak-gerakkan tanpa memasukkan sesuap makanan pun ke dalam mulutnya. "Aku harus pergi, ada urusan lain yang menggangguku akhir-akhir ini," kata Yelda.


Gadis itu bangkit dengan sopan dan tegas dari kursi di meja makan. Lalu meninggalkan mereka begitu saja.


Yelda kembali ke kamarnya dan menyambar jubah tebal yang tergantung di tempat mestinya. Kemudian gadis itu turun, menemui seorang prajurit muda yang ia kenal betul, umur keduanya setara.


"Han!" panggilnya.


Pemuda itu terlihat menegakkan posturnya saat Yelda berjalan mendekatinya.


"Ya, Putri Yelda, apakah Anda ada sesuatu yang bisa saya bantu?"


"Sudahlah, Han— tidak perlu terlalu resmi, aku ingin kamu mau menemaniku jalan-jalan malam ini, kamu tidak keberatan kan?"


Han terlihat bimbang sejenak. Wajah pemuda itu merona.


"Tidak baik membiarkan seorang putri berjalan sendirian di luar saat malam," lanjut Yelda untuk menekan prajurit muda bernama Han itu.


"Baiklah, Putri, saya akan menemani Anda," balas Han. "Apakah Anda memerlukan kuda?"


"Tidak, Han, tidak perlu, terima kasih. Aku hanya ingin jalan-jalan di sekitar sini saja, sudah lama sekali rasanya aku tidak meninggalkan jejakku di tanah ini,"


Han mengangguk, "baiklah, Putri,"


"Ayo, ikut aku,"

__ADS_1


__ADS_2