
Yelda terbangun saat percik cahaya mulai menyilaukan kelopak matanya. Bulatan kecil bercahaya baru saja mengintip dari balik Gunung Noris.
Yelda baru sadar jika dirinya masih ada di atap menara sesaat setelah kicauan burung menyambutnya.
"Aku harus turun,"
Dengan terpaksa Yelda melangkahkan kakinya yang terasa pegal dan nyeri untuk menuruni untaian anak tangga di ruang remang-remang.
Dia segera berjalan ke ruangannya, tanpa memandang orang-orang yang lalu-lalang di sekitar koridor dan lorong istana.
Sebuah nampan perak berisi makanan sudah ada di meja itu, kelihatannya masih baru.
"Bagaimana mungkin aku tahu makanan ini tidak beracun? Hem?" gumam Yelda tanpa menyentuh sedikitpun makanan itu usai dirinya mengganti pakaian.
Apakah Aku harus bilang semua yang pamanku lakukan pada ayah? Tapi bagaimana jika ayah tidak percaya?
Yelda membuang muka dari nampan itu, lalu pergi.
Yelda berjalan dengan tegas sampai suara sepatunya terdengar di lantai marmer itu. Kali ini dia benar-benar sudah mantap, satu-satunya cara untuk menunda Rowan menguasai tahta ayahnya dan menggulingkan Shandor adalah ...
Menikah dengan Dominic.
Dengan begitu, Rowan akan semakin jauh dan sulit merebut tahta, karena tahta pasti akan jatuh pada dia dan Dominic. Shandor juga akan memiliki kekuatan militer yang kuat berkat bantuan Texan.
Yelda mengangguk. Dia berhenti di depan kamar kerja ayahnya. Lalu menghadapkan badannya ke permukaan pintu.
"Apa ayahku ada di dalam?" tanya Yelda melihat tajam pada penjaga di samping pintu kamar kerja ayahnya.
"Ya, Tuan Putri, tapi dia tidak ingin di ganggu untuk sekarang ini," balas seorang penjaga berjenggot memenuhi wajahnya.
"Masa bodoh! Aku ada keperluan penting dengannya!" ujar Yelda.
"Tidak bisa, Putri." Prajurit itu mengangkat tombaknya melintang di pintu.
"Minggir!" Baru kali ini Yelda bersikap kasar pada seorang yang bekerja di istana. "Jangan berani menghalangiku! Aku ini putrinya, kalian tidak berhak melarang ku! Dan aku juga ingin membicarakan hal yang penting!" Yelda berusaha menyingkapkan batang tombak, namun tidak bisa.
"Yelda ... ," Seseorang memanggil namanya.
"Rowan?" gumam Yelda yang suaranya hampir tidak terdengar oleh Rowan. "Paman Rowan,"
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut seperti ini?" tanya Rowan, wajahnya sumringah, dan polos— benar-benar menipu, tapi kali ini Yelda tidak bisa tertipu olehnya.
Yelda tersenyum, satu ujung bibirnya terangkat lebih tinggi dari ujung yang lain. "Aku ada urusan dengan ayah, dan dia menghalangiku,"
"Ayahmu memang tidak bisa di ganggu untuk sementara waktu ini, Yelda. Dia sedang mengerjakan beberapa dokumen untuk perjanjian dengan Texan." Rowan mengusap kumisnya.
Bagaimana bisa Yelda percaya, tapi Yelda tidak membelot. Dia hanya menggumam dan pergi.
Dia berjalan menuju ruang pelayan. Ruangannya luas, lebih luas dari kamarnya. Tapi di sana ada beberapa wanita dan pria yang tengah duduk. Mereka terlihat langsung berdiri saat Yelda masuk ke ruangan itu.
"Apa salah satu dari kalian ada yang tahu, apakah pangeran Dominic sudah pergi dari Shandor?" tanya Yelda.
"Saya, Tuan Putri," balas seorang lelaki paruh baya yang suaranya terdengar lemah. "Tadi pagi saya masih sempat mengantarkan sarapan ke kamar tamu, dan pangeran masih di sana,"
Yelda mengangguk, tanpa bertanya lagi dia langsung keluar dengan langkah tegas. Baru kali ini ia merasa dirinya begitu angkuh di depan para pelayan. Apakah dia salah? Ya tentu saja salah, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu di depan para pelayan yang tak berdosa.
Yelda berhenti dan kemudian berbalik lagi ke pintu ruang pelayan. "Terima kasih," ucap Yelda. Kemudian dia pergi lagi.
Putri itu duduk di kursi besi taman, ia merenungkan sesuatu. Sesuatu yang membuat amarahnya semakin naik. Kenapa Rowan begitu bersikap manis di depannya, menjijikkan.
Yelda kemudian memikirkan Dominic, jika orang itu masih ada di Shandor tadi pagi, maka ia tahu tempat di mana dia bisa menemukannya.
"Ya!" Yelda mengangguk, lalu pergi dengan langkah cepat menuju tempat kuda dan kereta istana.
__ADS_1
Ia mengambil satu kuda secara acak, mengelus wajah kuda itu, dan tanpa jeda memacunya keluar melewati gerbang istana.
Yelda berhenti di sebuah pondok kayu yang letaknya di pusat kota, hampir dekat dengan kuil. Namun kedua tempat itu sangat bertolak belakang.
Sebuah bar, tempat orang-orang kaya menghabiskan uangnya dengan membeli minuman apapun yang mereka mau.
Yelda masuk, bau pengap menusuk hidungnya. Campuran bau minuman keras, keringat, dan asap cerutu membuatnya ingin muntah, tapi Yelda memaksa dirinya untuk bertahan.
"Oh Tuan Putri, kami merasa senang Anda berkunjung. Apakah Anda membutuhkan sesuatu?" tanya seorang pelayan wanita dengan baju seksi yang membuat Yelda hanya bergidik.
Yelda melirik meja di samping jendela bar, ia menuju ke meja itu dan duduk di kursinya. "Air putih saja, tolong,"
Wajah wanita pelayan itu terlihat kesal. Tapi ia langsung pergi dan tidak lama kembali lagi dengan sebuah nampan berisi gelas air putih.
"Yang benar saja, Putri. Anda kemari hanya untuk minum air putih?" kata pelayan itu dengan nada mencibir.
Yelda berdecak. "Baiklah, siapa nama Anda?"
"Saya?" tanya pelayan itu.
"Ya,"
"Saya Nelly,"
"Baiklah, Nelly. Sebenarnya aku ada kepentingan. Apakah Anda melihat Pangeran Dominic pergi ke sini?" tanya Yelda yang tak ingin membuang waktunya.
Orang di ruangan itu begitu ramai, pria-pria bajingan yang telah beristri juga ada di sana, memangku wanita murahan yang entah siapa namanya.
"Pangeran Dominic?" kata pelayan itu.
"Em," Yelda mengangguk sambil meneguk air putih di tangannya.
"Anda datang ke tempat yang tepat, dia ada di ruang sebelah sana, Putri." Pelayan itu mengacungkan jari ke sebuah ruangan di lantai atas, pintunya terlihat dari lantai dasar.
"Tentu saja, untuk apa saya melarang Anda,"
Yelda mengangguk lalu memberikan dua keping uang logam emas kepada pelayan itu sebelum dirinya beranjak menemui Dominic.
"Terima kasih, Putri," ucap wanita itu, nadanya terdengar senang dan lembut.
Yelda bergegas naik melewati anak tangga tanpa menghiraukan gumaman tak jelas dari orang-orang mabuk yang memenuhi meja lantai dasar.
Saat Yekda membuka pintu yang ditunjukkan oleh wanita itu, ternyata ruangan itu kosong, hanya ada setumpuk lembaran kertas. Ruang bos! "Sialan dia menipuku!"
Lalu Yelda melirik sebuah pintu lagi, pintu itu terbuka lebar dan sepertinya di dalam ada banyak orang.
Yelda masuk tanpa permisi. Dan benar saja, dia menemukan apa yang dia cari.
Yelda hanya melipat tangannya di depan dada seraya bersandar di kosen pintu. Dia memandang Dominic yang tengah memangku dua gadis telanjang yang tak punya harga diri.
Tapi itu bukan masalah bagi Yelda, toh dia tidak menyukai pria itu.
Beberapa saat kemudian orang-orang sadar akan kedatangannya. Mereka menepi, beberapa wanita berlari dan bersembunyi, mungkin karena mereka merasa malu.
"Minggir kalian!"
Yelda bisa menangkap kata-kata itu dari mulut Dominic sambil mengusir dua wanita dari pangkuannya.
"Kamu menemui aku, Yelda?" tanya Dominic mendekati Yelda.
"Tolong jangan mendekat, baunu membuatku ingin muntah," kata Yelda sambil bergerak mundur.
"Oh ayolah, bauku enak kok,"
__ADS_1
"Terserah kamu saja! Aku ada keperluan denganmu," Yelda mengibaskan tangan di depan hidungnya. "Sebaiknya kamu melepas jubahmu yang bau busuk! Aku ingin berbicara denganmu,"
"Apapun yang kamu minta, Yelda." Dominic melepas jubahnya dan melemparnya sembarang di lantai lorong.
"Aku akan lebih nyaman jika kita berbicara di luar, di sini aku merasa ingin muntah!" kata Yelda sambil berlalu menuruni tangga.
"Di mana kudamu?" tanya Yelda pada Dominic, ia tidak mungkin ke kota dengan berjalan kaki.
"Ini,"
"Ayo kita ke kuil!" ucap Yelda.
"Oh ayolah, Yelda, aku tidak meniduri wanita-wanita itu. Kamu tidak perlu membersikan diriku ke kuil," bantah Dominic yang sedikit mabuk.
"Sudah Diamlah! Ikut saja!" tegas Yelda.
Akhirnya Dominic bungkam dan menurut pada Yelda. Hanya beberapa meter dan mereka sudah sampai di halaman kuil. Suasana di sana sangat sepi.
"Aku ingin memajukan tanggal pernikahan kita, apa kamu bersedia jika kita menikah besok pagi?" ujar Yelda.
Dominic terlihat kaget, tapi kemudian ia tertawa. "Kamu yakin? Kamu sedang tidak mabuk, kan?"
"Aku serius!" tegas Yelda. "Mungkin ini terdengar gila, tapi ada orang yang berkhianat di istana, dan aku rasa aku membutuhkan bantuanmu,"
"Aku sudah tau, Yelda— " kata Dominic. "Rowan juga bersekongkol denganku, dia memerasku!"
"Bersekongkol denganmu?" Yelda hampir menampar Dominic, tapi itu tidak terjadi.
"Dia meminta sogokan uang dariku, dan dia bilang aku pasti akan bisa menikah denganmu,"
"Untuk apa uang-uang itu?" Yelda benar-benar tak habis pikir.
"Untuk menyakinkan rakyat jika Rowan lebih baik dari ayahmu, dia membagikan uang-uang itu pada rakyat. Tapi sekarang aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan orang itu! Dia memerasku banyak sekali, lama-lama aku pasti bakal miskin jika bersekongkol dengannya," ujar Dominic tanpa rasa takut.
"Sungguh kamu bersekongkol dengannya!?" Yelda mengepalkan tangannya karena geram.
"Aku mencintaimu, Yelda,"
Kata-kata itu begitu lemah lembut, lirih dan tidak benyawa.
"Persetan dengan kata cinta, Dominic! Kamu berkhianat pada cintamu sendiri!" seru Yelda.
"Yelda, dengar ... aku hanya bersekongkol karena dia menjanjikan padaku pernikahan denganmu, tidak lebih."
"Aku tidak percaya padamu!"
"Oh ayolah, aku sungguh tidak tahu apa rencana orang itu!"
Yelda diam, dia merenung. Berkali-kali ia memikirkan hal ini, jika ia membatalkan pernikahannya, maka pamannya akan semakin menjadi. Tapi menikah dengan Dominic juga menimbulkan resiko, ia tak tahu apakah pria ini punya siasat jahat pada negaranya atau tidak.
"Baiklah, lupakan semua itu! Kamu bersedia menikah besok kan?" ucap Yelda mantap.
"Tentu,"
Rasa takut mulai menghujam semua tubuh Yelda. Bagaimana bisa dia seberani itu mengambil resiko. Tapi dia sudah terlanjur mengatakannya. Lagi pula hanya ini satu-satunya cara.
"Tapi Dominic," kata Yelda. "Aku mencintai Haaland, maafkan aku,"
Baru pertama kali ini ia membicarakan perasaannya pada orang lain.
Dominic mematung, dia menatap Yelda, lalu berkata, "aku tahu perasaanmu, aku akan membantumu— kamu tahu? Aku tidak seburuk yang kamu kira,"
"Maafkan aku," kata Yelda sekali lagi.
__ADS_1