Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 44


__ADS_3

Yelda membuka matanya setelah beberapa menit tak sadarkan diri. Gadis itu terlihat bingung dan tidak percaya dirinya telah menikah dengan Pangeran Dominic dari Texan.


"Aku rasa aku butuh udara segar," kata Yelda setelah dirinya bangun.


"Tapi Anda masih lemah, Putri," kata tabib berjubah putih yang menyodorkan segelas air ramuan pada Yelda.


"Tidak, Pak. Aku baik-baik saja ... ," Yelda mengambil gelas dari tabib itu, lalu meletakkannya di meja kecil yang tak jauh darinya. "Terima kasih,"


"Yelda, kamu harus banyak istirahat," kata Dominic yang juga ada di kamarnya.


"Kenapa? Aku baik-baik saja!" seru Yelda yang tetap bersikeras. "Aku ingin ke taman,"


"Biar aku temani, Yelda," kata Dominic.


"Tidak perlu, aku ingin sendiri," ketus Yelda.


"Tapi ... ,"


"Tidak ada yang perlu di-tapikan, Dominic," sela Yelda.


Tidak ada yang membantah lagi.


"Baiklah, jaga dirimu," balas Dominic yang terlihat pasrah. Dalam wajahnya terdapat rasa tak puas, mungkin karena dia hanya memiliki Yelda dalam status tapi tidak memiliki hatinya.


Tanpa anggukan atau isyarat apapun, Yelda langsung berjalan keluar dari kamarnya yang dihias cantik, penuh dengan bunga dan lilin-lilin yang belum tersulut.


Tanpa menyapa siapapun yang berpapasan dengannya, pelayan, prajurit, tukang masak dan— Rowan. Langkahnya mantap walaupun kakinya masih terasa bergetar.


"Mau ke mana, Putri Yelda?" tanya Han, yang tidak sengaja berpapasan di koridor belakang istana.


"Ke depan, Han," balas Yelda singkat tanpa berhenti berjalan.


Han juga tidak bertanya lebih lanjut, pemuda itu terdengar berjalan menuju arah berlawanan dengan Yelda.


Setelah berbelok di ujung koridor, taman belakang istana terlihat begitu luas. Sebagian bunga-bunganya sudah hilang, hanya menyisakan daun-daun hijau yang tangkainya telah terpotek.


"Maafkan aku, teman-teman," gumam Yelda saat melihat tamannya yang begitu menyedihkan. Kupu-kupu di taman itu hanya bisa terbang, beberapa ada yang hinggap di bunga kecil berwarna kuning di pinggir kolam.


"Aku tidak menyangka, keramaian itu hilang dalam sekejap— " gumam Yelda sambil berjalan menuju pintu menara.


"Aku merindukanmu ... ,"


Yelda membuka pintunya dan masuk, kaki-kakinya tidak terasa mendaki anak tangga. Yelda serasa melayang tanpa emosi dalam ruangan tinggi itu.


Hembusan angin semakin terasa, artinya Yelda hampir sampai di puncak menara. Cahaya sore yang hangat menembus masuk melalui celah pintu dan membekas di permukaan tangga.


Cklek ...


Yelda membuka pintu atas dengan gemetar. Keringat dingin mengalir dari keningnya.

__ADS_1


"Yelda ... ,"


Suara itu tiba-tiba menelusup dari telinga hingga benak Yelda.


Haaland, ya! Yelda yakin sekali bahwa itu suara Haaland.


"Haaland?"


Sosok Haaland berdiri di hadapannya. Yelda merasa sesuatu mendorongnya untuk kembali bersemangat. Tapi sesuatu di hatinya membuat semangat itu terpendam dalam-dalam.


"Selamat atas pernikahanmu, Yelda," kata Haaland.


Yelda mengerjapkan matanya, sesuatu yang hangat terasa mengalir membasahi pipi. Gadis itu bahkan tidak sadar dia hampir menangis.


"Aku— kemari tidak bermaksud untuk menghadiri pesta pernikahanmu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membantu kami merebut kembali batu keseimbangan Galantris," ujar Haaland yang tak menatap Yelda sama sekali.


Tetes air mata mengalir lebih deras dari mata Yelda. Tanpa isakan gadis itu membiarkan air mata membanjir.


"Em ... semoga pria pilihanmu bisa membahagiakanmu." Haaland terdiam, mata birunya terlihat sangat pucat. "Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih,"


"Haaland," pekik Yelda yang bahkan suaranya tidak terdengar di telinga Haaland.


"Sampai jumpa, Putri Yelda, sekali lagi aku berhutang padamu."


Sayap-sayap Haaland mulai memancar, tubuhnya kemudian berubah wujud menjadi seekor naga yang memiliki tanda luka di pinggangnya.


Yelda berteriak keras saat Haaland sudah meroket di atas Sungai Gao. Tangisnya pecah, dia merasa hancur. Sehancur-hancurnya.


"Ibu ... , Aku merindukanmu ibu," isak Yelda sambil tersungkur di tepi menara.


"Aku sungguh lelah dengan semua ini! Aku lelah berpura-pura bahwa aku baik-baik saja ... ." Kepala Yelda berdenyut kencang akibat tangis yang terlalu dalam.


"Aku kehilangan semuanya, aku kehilangan ibu, aku kehilangan orang yang aku cinta, dan aku kehilangan keyakinanku pada semua orang. Bagaimana caraku bisa hidup dengan semua itu ibu? Aku sendirian ... Haaland sudah meninggalkan aku, dan sekarang aku harus terjebak dalam pernikahan yang tidak aku inginkan,"


Yelda terus menangis, meratapi nasibnya yang begitu menyakitkan.


"Aku tidak bisa hidup lagi, Ibu ... Aku tidak mau lagi berhadapan dengan semua ini,"


Ingin rasanya menjatuhkan diri dari puncak menara, meluncur merobek udara menuju sungai Gao, menghantam permukaan sungai dan kemudian hanyut. Mati.


Yelda hampir putus asa, akan tetapi nuraninya masih bekerja. Siapa yang akan menyelamatkan rakyat Shandor jika bukan dia? Yelda harus kuat, tapi untuk saat ini, dia tidak bisa.


Yelda beringsut mundur menyandarkan punggungnya ke pilar tengah. Matahari sudah mulai tergelincir ke barat.


Yelda menghirup udara dengan teratur, mencoba menenangkan dirinya lagi. Gadis itu perlahan menutup kelopak matanya, hingga pandangan terlihat samar.


"Putri Yelda!"


Suara itu menghantam pintu menara. Yelda terkejut dan melotot ke arah sosok prajurit muda yang wajahnya terlihat ketakutan.

__ADS_1


"Han? Bagaimana kamu bisa ke sin ... ,"


"Putri Yelda, Raja—" Han berhenti untuk menghirup oksigen. Dia terlihat kelelahan seperti baru saja menaiki ratusan anak tangga dengan tergesa-gesa, dan itu memang benar.


"Ada apa?"


"Raja Faramis meninggal ... ," lanjut Han.


Yelda merasa jantungnya berhenti untuk beberapa saat. Runtuh? Tentu saja, akhir-akhir ini cobaan datang beruntun kepadanya.


"Apa!" Yekda tertawa kecil. "Bercandamu tidak lucu, Han!"


"Saya tidak bercanda, Putri. Raja ditemukan tidak bernyawa di dalam kamarnya,"


Tanpa pikir panjang Yelda langsung bangkit dan menyeruduk Han di samping pintu menara. Dengan langkah tak terjamah Yelda menuruni anak tangga.


Dia nyaris terperosok, tapi gadis itu bangkit lagi, dan berlari menuju istana.


"Minggir!" seru Yelda yang menembus kerumunan pelayan di koridor depan ruang kerja Faramis.


"Aku bilang minggir!" Yelda mendorong seorang prajurit dengan sikunya.


Sendinya kaku saat ia melihat seorang pria dengan jenggot lebat terbujur kaku dan mengenaskan di kursi kerjanya. Di dalam ruang itu ada suaminya, Rowan, Raja Teano, dan beberapa prajurit.


"Ayah ... ," rintih Yelda.


Gadis itu lalu bergerak lagi untuk menghampiri mayat ayahnya.


"Ayah!"


Wajah Raja Faramis terlihat kaku, matanya terbuka dan melotot. Kulitnya biru pucat, dan bibirnya hitam.


Yelda berlutut di samping kepala ayahnya. "Ayah, apa yang terjadi,"


Tangan itu dingin, biru, dan kukunya menghitam.


"Apa yang terjadi pada ayahku!" seru Yelda sambil mengguncang tubuh Faramis, berharap ayahnya itu bakal kembali bernafas dan berbicara kepadanya.


Tidak ada satupun yang menjawab, hanya ada dengungan suara yang saling tumpang tindih dari kerumunan di luar ruangan.


"Aku bertanya pada kalian!" Yelda bangkit, matanya menatap tajam ke arah dua prajurit. "Apa yang terjadi pada ayahku!"


"Kami tidak tahu, Putri, kami ... ,"


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan kalian untuk mengawal ayahku! Kalian pikir untuk apa kami membayar kalian, Ha!" Yelda benar-benar marah. Semua suara yang ada di luar diam, mereka bahkan tidak berani bernafas karena saking takutnya.


"Yelda tenanglah ... ,"


Itu suara Dominic. Yelda merasa bahunya tersentuh oleh sesuatu, tapi dia menepis itu dengan kasar.

__ADS_1


"Diam kamu!"


__ADS_2