
Setelah mengumumkan pernikahannya pada seluruh rakyat Shandor, pagi itu Yelda segera bersiap. Beberapa dayang mendadaninya dengan begitu cantik.
Yelda menyadari bahwa balutan gaun putih dan mahkota yang melingkar di kepalanya membuatnya dia menjadi perempuan seutuhnya. Tidak ada pedang yang terselip di pinggangnya, dan hal itu membuatnya merasa tak lengkap.
Kini suara langkah sepatunya hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Ia menghadap pada Raja Faramis yang terlihat begitu bahagia.
"Ayah, aku menyayangimu ayah ... ," gumam Yelda di depan Raja Faramis, sesaat sebelum pendeta menyatukan hatinya dan Dominic.
Yelda bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia menyatakan rasa sayang pada ayahnya.
"Ayah juga sangat menyayangimu, Nak," balas Faramis. Jenggot di wajahnya semakin bertambah lebat. "Ayah bangga dengan keputusanmu, ayah yakin kamu akan menjadi pemimpin yang baik kelak,"
Yelda hanya menunduk bungkam.
Sementara itu, ratusan rakyat Shandor berbondong-bondong datang ke istana. Sebagian berada di dalam balairung, sebagian lagi ada di halaman istana, dan yang lainnya membludak ke jalanan.
Tamu-tamu undangan dan para bangsawan mengelilinginya di altar istana yang penuh dengan bunga bermacam jenis dan warna yang menebarkan harum semerbak.
Yelda memejamkan mata untuk menghirup aroma itu. Mata yang lemah, dan hampir tidak berdaya.
Namun tiba-tiba mata Yelda berubah liar ketika wajah Duke Roin terkena di pandangannya. Gadis itu pasti sudah mengamuk jika pendeta kala itu tidak memulai upacaranya.
"Hadirin sekalian yang berbahagia, para tuan dan nyonya. Pada pagi ini kita semua datang untuk menyaksikan penyatuan dua insan dari Kerajaan Shandor dan Kerajaan Texan," ujar pendeta berjubah putih bersih, kepala pendeta itu botak dan pada lehernya terdapat sebuah untaian kalung dari bunga melati.
Di samping Duke Roin, ada Hazard dan juga Lord Lotta, hal yang membuat Yelda sesak nafas, apakah ia masih bisa mempercayai Duke Lotta dan Hazard? Atau dia sebaiknya jangan percaya terhadap siapapun lagi? Tapi bagaimana jika keputusannya salah?
"Tanpa berbasa-basi lagi, saya akan segera memulai upacara. Saya harap Anda semua mengikutinya dengan khidmat." Pendeta berjalan ke arah Dominic yang berada di ujung barat ruangan.
Pemuda Texan itu menggunakan jubah keagungan berwarna merah menyala dan beberapa aksesoris negara yang warna keemasannya berkilau saat terkena cahaya.
"Pangeran Dominic, Putra Mahkota Kerajaan Texan," kata pendeta.
"Ya, Pak." Suara Dominic terdengar lirih dan serak, tidak seperti biasanya.
"Apakah Anda bersedia menerima Putri Yelda dari Shandor ... untuk menjadi teman sehidup semati Anda?" kata pendeta.
"Ya, saya bersedia,"
__ADS_1
Yelda yang berada di ujung timur ruangan merasa bergetar, kakinya merinding. Dia takut jika keputusannya ini salah. Tapi ini sudah terlambat untuk dihentikan.
"Apakah Anda bersedia mematuhi segala peraturan pernikahan yang telah tercantum pada kontrak perjanjian sebelumnya?"
Peraturan itu sekaligus menuliskan bahwa Dominic akan menjadi Putra Mahkota Shandor yang akan mewarisi gelar Raja Faramis, selain ituโ Dominic tidak boleh berlaku kasar terhadap Yelda.
"Ya, saya bersedia," balas Dominic.
"Apakah Anda bersedia untuk tidak berkhianat terhadap istri Anda?"
Dominic diam. Kemudian berkata, "ya, saya bersedia." Suaranya terdengar mantap.
Yelda memutar bola matanya ketika jawaban itu keluar dari mulut Dominic. Dalam hatinya, Yelda mencemooh Dominic habis-habisan, apalagi setelah ia mengingat dua gadis telanjang yang duduk tanpa malu di paha Dominic kemarin siang.
Setelah pertanyaan-pertanyaan itu selesai, pendeta terdengar melantunkan sebuah kalimat yang tidak terlalu Yelda pahami. Kalimat-kalimat itu adalah doa.
Pendeta kemudian mencipratkan air dari mangkuk putih menggunakan jari-jarinya ke kepala, dada, dan kaki Dominic.
"Sekarang berjalanlah ke arah calon istri Anda, lalu cipratkan juga ini kepadanya." Pendeta memberikan mangkuk itu kepada Dominic.
Yelda sungguh tidak percaya dengan kejadian hari ini. Bagaimana bisa ia menikah dengan Dominic yang selama ini ia benci? Tapi itulah kenyataannya, sekarang dia telah terjebak ke dalam kebenciannya sendiri.
...
Haaland meremas jari-jarinya, kepalanya menunduk di bawah tudung jubah berwarna coklat yang dikenakannya. Telinganya terlihat mencuat dan tegang mendengar setiap lantunan pertanyaan dari pendeta itu.
Matanya yang biru pucat bergerak mengikuti sosok pria berjubah merah yang berjalan dengan angkuhnya ke arah gadis yang ia cintai.
"Aku yakin Yelda tidak menyukainya," gumam Haaland, membuat salah satu warga biasa yang mendengar menimpalinya.
"Kamu salah, Nak. Justru Putri Yelda sendiri yang memajukan tanggal pernikahannya,"
Seketika gumpalan keras di tangan Haaland melunak. Jari-jari melemah, dan tidak lagi mengepal. Hatinya runtuh, benar-benar runtuh, ia sangat mencintai Yelda, tapi Yelda? Dia bahkan sudah menikahi orang itu sekarang.
"Sekarang, untuk tanda cinta kalian, berciumanlah, di tengah semua saksi bahwa kalian saling mencintai," seru pendeta.
Haaland mengintai Yelda. Gadis itu terlihat kaku dan bimbang.
__ADS_1
"Maaf, Pak Pendeta. Aku tidak bisa," ucap gadis itu.
Sontak semua orang terkejut, cuitan kecil dan bisikan-bisikan terdengar dari seluruh tamu undangan.
"Maksudku, menurutku itu adalah privasi pasangan. Dan tidak pantas untuk orang lain melihatnya," lanjut Yelda.
Suara lantang itu kembali, Haaland tanpa ekspresi terus menatap dua insan di tengah altar yang selangkah lagi akan sah menjadi pasangan suami istri.
Set ...
Mata gadis itu tepat menatap matanya. Haaland dan Yelda, kembali bertemu, dalam ketidakmampuan mereka.
Ingin sekali rasanya membiarkan pandangan itu terus berlanjut, tapi Haaland takut, dan yang lebih buruk adalah ia tidak tahu apa yang ia takutkan.
Apakah Yelda mengenali aku? Aku harap tidak! batin Haaland.
"Tapi Anda harus melakukannya, Yang Mulia Putri. Semua orang di sini melakukan itu saat hari pernikahan mereka, tidak ada yang perlu dibuat malu," ujar pendeta.
Tidak ada jawaban, Yelda malah terlihat memelototi pendeta itu. Sedangkan Dominic terlihat meletakkan mangkuk di lantai.
"Jika begitu, maka pernikahan kalian tidak akan sah," kata pendeta.
"Tapi itu ... ,"
Suara Yelda terdengar berusaha membantah ketika tiba-tiba pria di depannya mencondongkan tubuh ke arah Yelda, dan ... mencuri ciuman darinya.
Untuk beberapa detik jantung Haaland berhenti berdetak, semua urat nadinya terasa panas, dan ingin memberontak, tapi tidak mungkin.
Haaland malah bergerak mundur, dan diam-diam pergi ke menara milik Yelda.
...
Ciuman itu berlangsung selama beberapa detik. Yelda terpaksa mendorong Dominic karena dia kehabisan nafas. Ciuman yang tiba-tiba itu benar-benar menyiksanya.
"Selamat, Pangeran Dominic dan Putri Yelda. Kalian telah sah menjadi pasangan," ujar pendeta yang kemudian diikuti oleh sorak ramai para pengunjung.
Yelda menarik nafas panjangnya di tengah-tengah sorakan yang menyesakkan dada. Semua suara itu membuatnya merasa pengap. Tengkuknya serasa berat dan kaku, perlahan suara-suara di sekelilingnya terasa pudar dan semuanya terasa mati.
__ADS_1