
Matahari mulai membenamkan wajahnya, sinarnya membentuk bayang-bayang pepohonan yang memgerikan.
"Siapa Yuan yang kamu maksudkan tadi, Haaland?" tanya Yelda dalam perjalanan mengikuti petunjuk Haaland.
Haaland memperlambat langkahnya dan berjalan beriringan dengan Yelda. "Dia adalah penguasa Wex, dia mungkin mengetahui sesuatu tentang penyebab bencana di Galantris."
"Seperti apa bentuknya? Apakah semua makhluk yang tinggal di pulau ini berbentuk aneh?" Itulah kebiasaan Yelda, dia benar-benar banyak bertanya, dari kecil putri itu sudah menunjukkan bahwa dia tidak bisa sedikitpun melewatkan apa yang ia tak tahu membusuk begitu saja. Dia harus tahu.
"Kamu akan tahu nanti, maka dari itu kamu harus bertahan ya," Haaland memasang senyumnya lagi, kali ini ia benar-benar menjengkelkan bagi Yelda. "Dia itu baik, dan tidak seperti makhluk lainnya, kamu tenang saja,"
Yelda memanyunkan bibirnya ia benar-benar kesal pada Haaland. Pemuda-pemuda itu selalu menguji kesabarannya dengan senyuman konyol yang memabukkan, tapi disamping itu Haaland juga sering membuat Yelda penasaran sampai hampir gila.
"Terserah kamu saja!" kecut Yelda yang mempercepat langkahnya mendahului Haaland.
Yelda berjalan dengan percaya diri tanpa menoleh ke belakang untuk melihat wajah Haaland sedikitpun.
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang ganjil. Tidak ada suara langkah kaki yang terseret lagi di belakangnya. Hanya ada suara langkahnya saja. Putri itu segera berhenti dan benar saja, tidak ada suara langkah Haaland yang selama ini mengiringinya.
Kemana pemuda itu?
Yelda menoleh ke belakang dan jauh di belakang sana ia melihat sosok berdiri sambil cekikikan. Tatapan sosok itu sungguh menjengkelkan baginya.
"Lewat sini, Putri!" seru Haaland sambil tertawa kecil.
"Sialan! Awas saja kamu ya! Beraninya mengerjai aku!" gumam Yelda yang tetap berusaha melangkah dengan anggun layaknya putri paling tersohor di dunia. Kepalanya terangkat tanpa cacat sedikitpun, sungguh wibawa yang indah.
Yelda melirik Haaland dan membuang muka dengan sombong. "Huh!"
Tiba-tiba lengan Haaland menjulur di depan Yelda. Rupanya pemuda itu tidak kehabisan akal untuk kembali mengembalikan tawa Yelda.
"Mari saya tuntun Anda menuju singgasana, Putri Yelda," kata Haaland sambil menunduk layaknya seorang pengawal ratu.
Yelda menyembunyikan senyumnya dan menerima uluran tangan itu dengan senang hati. Ia bergandengan tangan dengan seorang naga Galantris tampan, bagaimana bisa ia menahan tawanya. "Hahaha!"
Mereka berjalan di ruang yang mulai berubah menjadi gelap. Tidak pernah genggaman tangan mereka lepas walau hanya sebentar.
Seketika Yelda merasakan sebuah kenyamanan yang belum pernah ia rasa sebelumnya. Rasa aman, rasa bahagia, rasa tegang yang mendebarkan hati, belum pernah sama sekali ia merasakan hal itu. Apa dia benar-benar jatuh cinta dengan penyusup berdarah biru itu? Entahlah— Yelda sungguh bahagia saat bersama Haaland.
"Berapa lama lagi, Haaland? Hari ini sudah gelap sekali," ucap Yelda sambil melihat bayang-bayang pohon di kegelapan hutan itu.
"Sebentar lagi kita bakal sampai, tapi ada baiknya jika kita istirahat sebentar, bagaimana?" balas Haaland sambil tersenyum.
Yelda menaikkan bahunya, "baiklah, aku rasa kamu benar."
"Baik, kita istirahat di batu yang ada di sana." Haaland mengacungi sebuah bayangan batu yang melebar dan rata.
"Apa kamu tidak keberatan jika membuat api lagi, Yelda?" tanya Haaland sambil meletakkan kantong jagung yang baru ia sadari membuat bahunya pegal.
"Tentu saja!" Yelda tersenyum dan merebut dua bagi dari tangan Haaland.
"Wah, terima kasih." Haaland lalu membuka beberapa kulit jagung dan membakarnya di bara api yang sudah membesar.
__ADS_1
Sekarang hanya ada mereka berdua, diterangi dengan cahaya si jago merah yang memanaskan suasana. Mereka saling memandang, entah kenapa Yelda merasa akan ada sesuatu yang terjadi, tengkuknya panas dingin tak karuan.
"Aku baru tahu jika ada naga yang suka makan jagung," kata Yelda untuk memecah suasana hening malam itu.
"Aku juga," balas Haaland.
Wajah Yelda mengernyit tak percaya, jawaban itu benar-benar konyol. "Jadi apa yang biasanya kamu makan?"
"Naga putih tidak makan apapun sebelum Galantris runtuh, kita tidak pernah merasa lapar,"
"Jadi begitu ya?"
Haaland mengangkat bahunya untuk mengiyakan pertanyaan itu.
Lalu Yelda baru menyadari bahwa lengan Haaland robek dan menyisakan noda-noda biru yang menempel di bajunya. "Kamu terluka, Haaland?"
Haaland melihat bahunya, "hanya sedikit."
Yelda yang terlalu khawatir dengan cepat mendekati Haaland dan dengan begitu dramatis dia menanyai Haaland dengan segidang pertanyaan konyol.
"Apa kamu tidak merasa sakit?"
"Apa lukamu bakal sembuh?"
Haaland tersenyum geli memandang Yelda yang begitu peduli dengannya. Ia tertawa melihat tingkah putri pemberani itu yang begitu lucu.
"Kenapa kamu menertawai aku?" tanya Yelda.
"Tidak." Haaland menatap Yelda tanpa kedipan.
Yelda membalas tatapan itu dengan matanya yang coklat. Energi saling bertaut di jarak sempit yang ada di antara mereka berdua.
Pemuda itu semakin mendekatkan wajahnya pada Yelda. Andai Haaland tahu jika jantung Yelda benar-benar nyaris pecah karena ulahnya.
Yelda memejamkan mata dan pasrah dengan apapun yang bakal terjadi, ia membayangkan sebuah ciuman yang mungkin bakal mendarat di bibirnya.
Sensasi aroma jagung dan suara ranting kayu yang terbakar menjadi saksi ciuman mereka.
"Ah, Yelda!" kata Haaland.
Yelda membuka matanya, tidak terjadi apapun, tidak ada ciuman, tidak ada pelukan, dan tidak ada adegan panas yang terjadi.
"Maaf, ada ulat di rambutmu," lanjut Haaland sambil menunjukkan benda kecil berbulu yang menggeliat di jari-jarinya.
Ada rasa kecewa dan malu yang bercampur di dada Yelda. Begitu bodohnya dia, kenapa dia sampai berpikir bahwa Haaland bakal menciumnya?
Sudahlah lupakan!
Mereka kemudian memakan masing-masing dua buah jagung bakar, dan tidak lupa untuk mematikan bara api sebelum keduanya melanjutkan perjalanan.
Berjalan hanya diterangi cahaya langit malam memanglah tidak mudah. Tapi akhirnya mereka sampai juga di sebuah gua bergerbang batu bercorak unik.
__ADS_1
"Ini dia," kata Haaland. "Kamu jangan terkejut nanti, akan ada banyak makhluk aneh, tapi kamu tenang saja. Mereka tidak menyerang Galantrian."
"Mereka memang tidak menyerang Galantrian, tapi kamu mungkin lupa jika aku ini bukan Galantrian, aku manusia biasa, Haaland."
"Tenang saja, Yelda."
Haaland menempatkan tangannya di sebuah kotak kecil, ternyata itu adalah semacam kunci bagi semua Galantrian untuk masuk.
Suara bergemuruh terdengar bersama dengan gerbang batu yang terbuka.
Yelda mengikuti Haaland menelusuri lorong penuh obor dengan cahaya kehijauan yang menerangi dinding batunya.
...
"Naga Galantris?" seru sesosok pria yang besarnya hampir dua kali tubuh Haaland.
"Anda benar, Yuan." Haaland merendahkan tubuhnya sebagai tanda penghormatan. Yelda juga mengikuti apa yang Haaland lakukan.
"Tidak mungkin!"
"Anda mungkin tidak percaya, Yuan. Tapi saya adalah Haaland, naga kecil yang dulu adalah putra angkat Anda."
Galantris putis dan Galantris gelap tetap melakukan hubungan harmonis, dan saat Haaland terlahir ke dunia, Yuan merupakan orang yang memberikan tanda Galantrian pada Haaland, istilahnya mirip seperti putra baptis.
"Dugaanku benar! Kamu masih hidup!" seru Yuan dan segera memberikan pelukan pada Haaland.
Yda tidak menyangka, ia pikir Galantrian terbuang sangat berseteru dengan Galantrian murni, tapi dia keliru.
Yelda merasa ngeri ketika orang bernama Yuan itu mengamatinya. Dengan mata hitam yang menonjol di balik kulih putih pucat, Yuan menatap lekat gadis asing di belakang Haaland.
Tanduk hitam yang mencuat di kulit kepala Yuan seakan siap menusuk dada Yelda.
"Siapa itu, Haaland?"
"Eum," gumam Haaland, dia lalu menarik lengan Yelda dan memperkenalkan gadis itu. "Dia ini manusia, seorang putri dari Shandor, Yuan."
"Manusia ya?"
"Tapi dia ini baik,"
"Terserah kamu saja, Haaland," kata Yuan. "Jadi, apa yang kamu inginkan sampai kemari?"
"Aku hanya ingin tahu, Yuan. Anda mungkin tahu beberapa hal yang tentang keruntuhan Galantris, aku mohon padamu, ini tentang hidup semua orang," ujar Haaland, pemuda itu menyatukan tangan di depan ayah angkatnya.
"Sebenarnya Haaland, aku sebelum bencana itu datang dan mengubah tanah Galantris, aku melihat sesuatu yang tidak biasa di Danau Root." Yuan menyibakkan sebuah tutup kuali, dari dalam kuali itu muncul asap-asap putih tanpa aroma.
"Air ini berasal dari Root, ini merupakan cermin yang bisa membuka jendela ke seluruh dunia. Tiba-tiba air di sini menjadi hitam dan tidak bisa digunakan lagi. Aku benar-benar bingung dengan apa yang terjadi."
"Jadi, menurutmu, kita harus pergi ke Danau Root, Yuan?" tanya Haaland.
"Benar! Kalian selidikilah apa yang terjadi di sana."
__ADS_1
"Tapi itu tidak akan mudah, Nak."