
Pagi itu, upacara penghormatan terhadap Raja Faramis telah usai. Yelda berdiri di tengah-tengah dua makam. Satu makam baru, dan satu lagi makam lama ditumbuhi rumput yang tertata rapi, makam ibunya— Antonella.
Di belakang tempat Yelda berdiri, puluhan prajurit berjajar rapi. Dan dibelakangnya lagi, ratusan orang yang menghadiri pemakaman sudah mulai pergi ke rumah mereka masing-masing — sambil menyesalkan apa yang terjadi.
"Yelda, ayo kita pulang,"
Suara Dominic mengalihkan perhatian Yelda. "Pulanglah saja dulu!" balasnya.
"Tapi—"
Yelda menyela kata-kata Dominic. "Sudah aku bilang, jangan ada kata tapi, Dominic!"
Dominic tidak membalas, Yelda hanya bisa merasakan helaan nafas panjang dari belakang lehernya. Lalu terdengar langkah lirihsepatu Dominic yang menjauh.
"Ayah, ibu ... sekarang kalian sudah bersatu kembali. Aku selalu berdoa agar kalian senantiasa bahagia di alam sana. Aku akan merindukan kalian ... ,"
"... Aku rapuh tanpa kalian. Maafkan aku karena aku sering menentang kebijakan-kebijakanmu Ayah. Aku akan mengatakan semuanya pada ayah sekarang ... ,"
"... Aku tidak bermaksud menentang ayah, aku hanya ingin rakyat mendapatkan yang terbaik, aku ingin negara kita lebih baik ... ,"
Yelda tanpa sadar menggerakkan tangan untuk menyeka air mata di pipinya. "Aku berjanji akan pada kalian, aku akan berusaha sebaik mungkin mempertahankan Negeri Shandor,"
Yelda menoleh ke belakang saat sesuatu menyentuh pundaknya.
"Lord Lotta?" gumam Yelda.
"Akuntahu ini berat bagimu. Tapi kamu harus kuat, Nak," kata Lord Lotta saraya menarik jari-jarinya dari pundak Yelda.
Yelda baru saja sadar jika semua orang sudah pergi dari tanah pemakaman itu. Hanya ada dia dan Lotta.
Yelda mengangguk untuk menjawab. Hatinya kembali merujuk pada pengkhianatan orang-orang yang ia percaya. Secuil hatinya bertanya-tanya apakah Lotta juga terseret dalam skandal itu.
"Aku sangat berduka atas kepergian ayahmu," lanjut Duke Lotta.
"Terima kasih Anda sudah datang ke upacara pemakaman, Lord Lotta," balas Yelda, suaranya letih dan lirih.
Lotta mengangguk lalu berkata, "aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, Yelda,"
"Tapi, Lord Lotta, aku rasa— aku ingin sendiri untuk saat ini,"
"Ini sangat penting, Yelda, dan mungkin juga bisa membantumu." Duke Lotta kembali menyentuh pundak Yelda.
Yelda diam dan menimbang-nimbang untuk sesaat. Mungkin saja apa yang dibicarakan Lord Lotta bakal berguna baginya, dan juga bisa mengusut pengkhianatan.
"Baiklah,"
"Kita bicara di sini saja, sepertinya sudah tidak ada orang lain—" kata Lord Lotta.
Yelda mengamati sekitarnya dan mengangguk.
__ADS_1
"Yelda, aku sempat melihat mayat ayahmu sebelum dimakamkan,"
Otak Yelda langsung menampilkan potongan-potongan gambar di memorinya. Wajah pucat dan biru, mata yang melotot dan mengarah ke atas, tubuh dingin yang seluruhnya biru. Yelda bergidik dan langsung mencoba membuang gambar itu jauh-jauh. Rasanya tidak sopan mengingat keadaan mayat di depan kuburannya.
Yelda mengangguk, ia paham ke mana pembicaraan ini akan mengarah.
"Apa kamu tidak curiga?" lanjut Lotta.
"Curiga?" Yelda memicingkan matanya. "Curiga tentang apa, Lord Lotta?"
"Menurutku Raja Faramis meninggal karena diracun, bukan karena penyakit stress ataupun kematian alami lainnya,"
Racun, ya! Benar sekali!
Yelda baru sadar jika selama ini yang mengganjal hatinya adalah kata itu. Tapi karena hati dan pikirannya terlalu kacau, ia menjadi gadis konyol yang hanya bisa mengasihani hidupnya.
"Racun?" gumam Yelda.
"Ya, Yelda."
"Tapi siapa yang melakukannya, Lord Lotta?"
"Mungkin saja musuh ayahmu,"
"Ayahku tidak punya musuh, kecuali orang-orang Mores" kata Yelda.
Yelda mengangguk sambil menimbang pernyataan itu.
"Anda tahu jika ada orang Mores di sini?" tanya Yelda, dia berniat memancing sesuatu dari Lotta.
"Tentu saja, aku ada di sana saat pamanmu menawarkan pondoknya untuk para Morian tinggal,"
"Jadi menurut Anda, di sini ada seorang ... pengkhianat?" Yelda sengaja menyeret kata-katanya.
"Aku tidak tahu soal itu, tapi aku curiga dengan kematian Faramis," balas Lotta. "Ngomong-ngomong, bagaimana perjalananmu? Apakah kamu berhasil mengambil kembali batu keseimbangan? Pak Dolken menitipkan pertanyaan itu padaku,"
Yelda diam, dia mengamati Lord Lotta yang berlagak tidak tahu jika dirinya telah berhasil. Apakah ini hanya umpan, atau apakah memang Lord Lotta tidak tahu?
Padahal jika Lotta bersekongkol dengan Lord Roin, pasti dia sudah tahu kalau Yelda telah berhasil.
Namun Yelda mengangguk, "Ya, aku berhasil ... ,"
"Syukurlah kalau begitu,"
Raut wajah bahagia dan senang terlihat alami dari wajah Lotta. Tidak ada yang dibuat-buat ataupun tarikan wajah yang kaku, semuanya terlihat begitu murni.
"Tapi, aku tidak tahu apakah Grock berhasil atau tidak," lanjut Yelda.
"Lord Lotta," kata Yelda sebelum Lord Lotta bertanya siapa itu Grock.
__ADS_1
Yelda sempat berpikir berkali-kali sebelum dia melontarkan Kata-katanya.
Tidak, aku tidak akan bilang sekarang, biarkan waktu yang mengatakannya, batin Yelda.
"Ada apa, Putri Yelda?"
"Terima kasih sudah memberitahu tentang semua kecurigaanmu,"
"Jangan bicara seperti itu, Nak. Kita ini teman, aku menganggapmu seperti putriku sendiri. Sudah semestinya aku membantumu, tapi apalah daya aku tidak bisa berbuat lebih," ujar Lotta dengan penuh penyesalan.
"Jangan bicara seperti itu, Lord Lotta. Anda sudah banyak sekali membantuku, Anda juga selalu mendukungku." Entah kenapa kecurigaan itu lenyap dari benak Yelda. Bagaimana mungkin orang sebaik Lord Lotta bisa berkhianat padanya? Tapi ia harus tetap waspada.
Lotta dan Yelda saling mengangguk satu sama lain.
"Aku rasa sebaiknya, kamu kembali dan beristirahat, Nak. Mari, biar aku mengantarmu ke istana,"
"Bagaimana aku bisa istirahat Lord Lotta? Bahkan beban di hatiku sangat banyak saat ini." Kalimat ini tidak keluar dari mulut Yelda. Dia hanya mengangguk.
Di sepanjang perjalanan Yelda diam dan merenungkan semua yang pernah ia lihat.
Saat melewati sebuah pondok kecil yang merupakan klinik umum, sesulur benang tiba-tiba terhubung di sel otaknya.
Yelda teringat pada sebuah surat yang ia temukan di pondok tepi danau. Surat yang berisi tentang Rowan yang meminta sebotol racun tikus.
Apakah ini ada hubungannya dengan pamanku? Apakah Paman Rowan juga yang membunuh ayah?
Kepala Yelda semakin sakit saat mencoba menarik benang itu.
"Sudah sampai," kata Lotta.
Yelda celingukan seperti orang kebingungan. "Sudah sampai, ya?"
"Mari, Putri Yelda." Rowan mengulurkan tangannya untuk membantu Yelda turun dari kereta kuda.
"Terima kasih, Lord Lotta,"
"Sama-sama, Nak. Aku akan langsung pulang." Lotta berhenti. "Oh ya, Tadi Hazard sudah pulang dulu, dia menitipkan salam untukmu karena tadi dia tidak memiliki kesempatan untuk menemuimu, Yelda,"
Yelda mengangguk. "Sampaikan ucapan terima kasihku juga pada Hazard karena telah berkenan hadir di upacara pemakaman ayahku, Lord Lotta," balas Yelda.
"Tentu saja, Yelda,"
Senyum tipis mengembang di bibir gadis itu, memudarkan sedikit rasa pahit di wajahnya.
"Kalau begitu, aku pamit ... , banyak yang harus aku kerjakan terkait perhitungan pendapatan daerah," lanjut Lotta.
"Hati-hati, Lord Lotta,"
Yelda melihat kepergian kereta kuda Lotta. Dia sejenak merasa bersalah karena talah meninggalkan kuda-kuda kesayangan Duke itu di hutan, entah apa yang terjadi pada dua kuda itu.
__ADS_1